Minggu, 05 Februari 2012

Anas bin Nadhar RA

          Anas bin Nadhar adalah seorang sahabat Anshar, paman dari Anas bin Malik, sahabat Nabi SAW yang banyak meriwayatkan hadits. Ia tertinggal (tidak ikut serta) pada perang Badar, karena pada awalnya pasukan yang dibawa Nabi SAW hanya bermaksud mencegat kafilah dagang Quraisy. Anas sangat  menyesal dengan ketertinggalannya tersebut, sehingga ia berkata kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, saya tidak ikut dalam permulaan perang melawan orang-orang musyrik. Sungguh, kalau Allah mengikutkan saya memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah akan mengetahui apa yang saya perbuat."
Dalam perang Uhud, ketika terjadi peristiwa genting, dimana kaum muslimin berbalik mengalami kekalahan, Anas bin Nadhar melewati beberapa orang sahabat yang kehilangan semangat karena mendengar kalau Rasulullah SAW telah wafat terbunuh. Mereka meletakkan senjatanya di tanah dengan wajah kelu penuh kesedihan. Melihat hal itu, Anas berkata, "Wahai kalian…Jika Nabi SAW memang telah wafat terbunuh, maka Allah SWT, Tuhannya Muhammad tidak akan pernah mati, lalu apa yang bisa kalian kerjakan dalam hidup ini jika beliau telah wafat? Berperanglah kalian demi sesuatu yang Nabi SAW berperang untuknya…dan matilah kalian demi sesuatu yang beliau wafat karenanya…"
Sesaat kemudian ia berdoa, "Ya Allah, aku memohonkan ampunan kepadaMu atas apa yang mereka (kaum muslimin) lakukan, dan aku berlepas diri dan berlindung kepadaMu dari apa yang mereka (orang-orang musyrik) lakukan!"
Setelah itu ia meloncat untuk meneruskan jihadnya. Ia sempat bertemu Sa'd bin Mu'adz yang bertanya kepadanya, “Mau kemana engkau, wahai Abu Umar?’
Anas berkata, "Wahai Sa'd, sungguh aku mencium bau surga di balik Bukit Uhud ini."
        Anas bertempur dengan perkasa menerjang barisan musuh, jumlah mereka yang ratusan tidak membuatnya gentar, hingga akhirnya ia menemui syahidnya. Setelah pertempuran selesai, tidak ada yang bisa mengenali jasad Anas, sampai akhirnya saudara perempuannya yang bernama Bisyamah, yang tahu ciri-ciri khusus dirinya yang bisa mengenalinya. Tak kurang dari delapan puluh luka mengkoyak-koyak tubuhnya, tusukan tombak, hunjaman anak panah dan luka sayatan pedang yang ada di wajah dan tubuhnya, sehingga ia tidak mudah dikenali.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar