Jumat, 04 Maret 2016

Harits bin Suwaid RA, Sahabat yang Syahid di Perang Uhud

Pasukan muslimin yang mengikuti Rasulullah SAW dalam Perang Uhud tidak semuanya dari kaum muslimin (kaum Muhajirin atau Anshar), tetapi ada juga orang-orang Madinah yang masih musyrik, orang Yahudi, termasuk kaum Munafiqin yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Tetapi keikutsertaan mereka dalam pertempuran tersebut ada juga yang membawa berkah dan hidayah, yakni memeluk Islam dan kemudian syahid, padahal belum ada ibadah yang dilakukannya dalam Islam, kecuali membaca dua kalimat Syahadat saja, salah satu di antara mereka adalah Harits bin Suwaid.
Harits bin Suwaid adalah putra dari Suwaid bin Shamit, seorang sahabat Nabi SAW yang telah memeluk Islam dan menjumpai syahidnya ketika Islam belum didakwahkan di Madinah. Suwaid merupakan orang yang terkemuka dari kaumnya, bernasab mulia dan mempunyai kedudukan tinggi, serta seorang penyair yang cerdas sehingga memperoleh gelar Al Kamil (Sang Sempurna) dari penduduk Yatsrib. Ketika terjadi Perang Bu’ats, perang saudara  antara suku Aus dan Khazraj, ia tewas di tangan Abdullah bin Ziyad, atau dikenal dengan Al Mujadzdzir. Karena itulah Harits menyimpan rasa dendam kepada pembunuh ayahnya tersebut. Tetapi ia tidak berani ‘menantang’ langsung, karena Al Mujadzdzir seorang yang berwatak kasar dan pemberani. Gelar atau nama Al Mujadzdzir, yang artinya Sang Pembongkar Urat, disematkan kepadanya karena wataknya tersebut, khususnya di masa jahiliahnya. Ketika telah memeluk Islam, berangsur wataknya tersebut berangsur berkurang.
Ketika berangkat ke Uhud, Harits bin Suwaid belum memeluk Islam, ia hanya ‘ikut-ikutan’ saja, karena kebanyakan dari kaumnya yang tinggal di Madinah adalah kaum wanita dan anak-anak, serta orang-orang tua dan lemah. Ketika bertempur dalam kubu yang sama melawan kaum kafir Quraisy, entah mengapa Harits berprasangka bahwa Al Mujadzdzir akan membunuhnya jika mereka telah kembali ke Madinah, apalagi saat itu ia belum memeluk Islam. Perasaan itu begitu menghantuinya, sehingga pada suatu kesempatan, ketika Al Mujadzdzir sibuk berperang dengan orang kafir, Harits menikamnya sehingga tewas.
Ternyata setelah menewaskan ‘pembunuh’ ayahnya tersebut, perasaaanya bukannya jadi tenang, justru timbul penyesalan yang luar biasa. Ia segera menghadap Nabi SAW menunjukkan penyesalannya, sekaligus menyatakan dirinya memeluk Islam. Kemudian ia kembali ke medan pertempuran dan akhirnya gugur sebagai syahid.  

Note:spr17

Umarah bin Yazid RA dan Enam Sahabat Anshar, Sahabat-sahabat yang Syahid di Perang Uhud

Setelah pasukan berkuda Khalid bin Walid mematahkan perlawanan Ibnu Jubair dan sembilan temannya yang tetap bertahan di atas bukit, kemudian menyerang kaum muslimin dari belakang, pasukan muslimin benar-benar centang-perenang. Ditambah lagi serangan dari pasukan inti Quraisy yang telah kembali ke arena pertempuran, pasukan muslimin jadi terpecah belah tidak karuan, bahkan banyak yang melarikan diri dan juga menyerah meletakkan senjatanya di tanah. Mereka yang masih mencoba bertahan juga diserang kepanikan karena keadaan yang begitu cepat berubah, sehingga ada yang secara tidak sengaja menyerang dan membunuh sesama muslim, seperti yang terjadi pada Al Yaman, ayah dari sahabat Hudzaifah.
Beberapa orang sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib dan beberapa lainnya yang telah terlanjur jauh di depan, berusaha untuk mundur karena pikiran mereka tertuju pada keselamatan Nabi SAW. Tetapi untuk itu mereka juga harus menyibak jalan dengan bertempur, karena pasukan Quraisy sepertinya ada di mana-mana. Apalagi mereka juga tidak tahu pasti dimana keberadaan beliau setelah keadaan menjadi kacau balau seperti itu.
Nabi SAW sendiri terpecil hanya dengan sembilan orang sahabat, tetapi keberadaan beliau belum diketahui oleh pasukan Quraisy karena beliau memakai baju besi, termasuk yang menutupi wajah beliau. Dua sahabat Muhajirin, yakni Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’d bin Abi Waqqash, serta tujuh sahabat Anshar, di antaranya Umarah bin Yazid bin Sakan, yang jadi benteng terakhir beliau saat itu. Kalau saja keberadaan Nabi SAW tetap tidak diketahui, peperangan mungkin akan merata di segala lini, tetapi melihat keadaan pasukan muslimin yang seperti itu, beliau berseru keras, “Wahai kaum muslimin, kemarilah, aku adalah Rasulullah!!”
Dampak dari seruan itu ternyata luar biasa, kaum muslimin menyibak jalan pertempuran untuk bisa sampai ke sana, tetapi pada saat yang sama, kaum Quraisy memusatkan serangan ke tempat beliau berada. Melihat gelombang serangan yang begitu hebat, Nabi SAW bersabda, “Siapa saja yang melindungi aku, dia akan masuk surga dan menjadi pendampingku di surga!!”
Sembilan orang sahabat itu langsung bersiaga, salah satu dari sahabat Anshar langsung merangsek maju menghambat laju serangan kaum Quraisy. Setelah ia menemui syahidnya, salah seorang Anshar lainnya ganti menyerang untuk menghambat gerak pasukan Quraisy. Begitu seterusnya, satu persatu maju, hingga orang Anshar ke tujuh, Umarah bin Yazid bin Sakan. Ketika Umarah melakukan perlawanan, pasukan Quraisy telah sangat dekat dengan Nabi SAW. Thalhah dan Sa’d dengan susah payah menghalau panah dan lembing yang mengarah kepada Nabi SAW. Ketika Umarah akhirnya tewas terkapar menemui syahidnya, pipinya berada di kaki Nabi SAW.
Setelah tewasnya Umarah inilah serangan kaum kafir Quraisy makin menjadi-jadi. Utbah bin Abi Waqqash, saudara dari Sa’d, berhasil menyerang Nabi SAW dengan batu hingga melukai lambung, gigi seri dan bibir beliau. Abdullah bin Syihab berhasil memukul dan melukai kening beliau. Dan akhirnya Abdullah bin Qami’ah berhasil memukul bahu dan pipi beliau hingga beliau jatuh terjerembab ke dalam suatu lubang, dan dua potongan besi menancap di pipi beliau. Dua sahabat Muhajirin yang tersisa itu hampir tidak mampu lagi bertahan, tetapi tiba-tiba Sa’d melihat dua orang berpakaian putih yang bertempur di sisi Rasulullah SAW, yang ia belum pernah melihat ‘orang’ itu, baik sebelum atau sesudah pertempuran itu. Dalam suatu riwayat, Nabi SAW menjelaskan bahwa dua orang itu adalah malaikat Jibril dan Mikail.
Ketika pada akhirnya Thalhah roboh, dua orang sahabat berhasil mencapai tempat Nabi SAW, yakni Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Kemudian beberapa orang menyusul seperti Abu Dujanah, Ali bin Abi Thalib, Sahl bin Hanif, Malik bin Sinan, seorang wanita Anshar, Nasibah (Nusaibah) binti Ka’ab al Maziniyah, atau yang lebih dikenal dengan Ummu Ammarah, Umar bin Khaththab, Qatadah bin Nu’man, Hathib bin Abi Balthaah, dan Abu Thalhah.     
    
Note:sn346347

Abdullah Bin Jubair RA dan Sembilan Pemanah di Bukit, Sahabat-sahabat yang Syahid di Perang Uhud

Ketika berlangsungnya Perang Uhud, Nabi SAW menerapkan strategi bertahan (defensif). Tidak hanya karena jumlah pasukannya yang lebih kecil daripada kaum Quraisy, tetapi terlebih karena pasukan muslimin baru saja mengalami ‘hantaman psikologis’ karena Abdullah bin Ubay bersama 300 pengikutnya tiba-tiba mundur (desersi), kembali ke Madinah, setelah melihat pasukan Quraisy yang berkekuatan 3.000 orang. Sisa 700 pasukan muslimin yang sempat terguncang akhirnya kembali tegar, apalagi dengan turunnya firman Allah, QS Ali Imran ayat 121-125, yang memerintahkan mereka untuk tidak bergantung kepada manusia, tetapi lebih tawakkal kepada Allah, seperti ketika terjadinya Perang Badar.
Nabi SAW menempatkan satu pasukan di sayap kanan yang dipimpin oleh Mundzir bin Amr. Di sayap kiri ada dua pasukan yang dipimpin Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad, dan bertugas menghadang laju pasukan berkuda (kavaleri) Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid. Sedangkan pada barisan terdepan terdapat para tokoh pemberani dari kaum Muhajirin dan Anshar, seperti Hamzah bin Abdul Muthalib, Umar bin Khaththab, Ali Bin Abi Thalib, Abu Dujanah, Sa’d bin Muadz, Usaid bin Hudhair, dan lain-lainnya.
Di belakang pasukan muslimin adalah gunung Uhud, dan di suatu bukit yang (di kemudian hari) disebut Jabal Rumat, Nabi SAW menempatkan 50 orang pemanah ulung yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair bin Nu’man al Anshary al Ausy. Beliau berpesan, “Lindungilah kami dengan anak panah kalian, agar musuh tidak menyerang kami dari belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita menang (di atas angin) ataupun terdesak, agar kita tidak diserang dari arahmu!!”
Sekali lagi beliau menegaskan perintahnya, “Lindungilah punggung kami, jika kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian tidak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami tengah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabuing bersama kami!!”
Seolah-olah Nabi SAW telah memperoleh gambaran akan apa yang akan terjadi dalam pertempuran itu, sehingga beliau begitu menekankan perintah tersebut. Dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa beliau bersabda, “Jika kalian melihat kami sedang disambar burung sekalipun, janganlah kalian meninggalkan tempat itu, kecuali jika ada utusanku yang datang menjemput kalian. Jika kalian melihat kami telah mengalahkan musuh sekalipun, tetaplah di sana, janganlah meninggalkan tempat itu, hingga ada utusanku yang datang kepada kalian!!
Strategi bertahan yang diterapkan Nabi SAW terbukti ampuh. Begitu pecah peperangan, pasukan berkuda Quraisy yang terkenal handal, yang dipimpin seorang ahli startegi pertempuran, Khalid bin Khalid mencoba merangsek dari sayap kiri, tetapi mengalami kegagalan. Mereka tidak mampu menembus dua pasukan yang dipimpin Zubair dan Miqdad, karena pada saat yang sama, Ibnu Jubair dan pasukannya di atas bukit menghujani dengan anak panah.
Dengan keadaan yang kokoh, dimana pasukan muslimin tidak bisa dimasuki musuh dari arah manapun sehingga tetap menyatu, pasukan musyrik mengalami kekalahan telak. Mereka lari tunggang-langgang dari arena peperangan, termasuk pasukan Khalid bin Walid, dan meninggalkan harta dan barang bawaannya berserak di arena pertempuran demi menyelamatkan nyawanya. Panji pertempuran mereka tergeletak setelah sepuluh atau sebelas kali pembawanya yang mencoba tetap mengibarkannya tewas terbunuh. Tentunya semua itu tidak terlepas dari pertolongan Allah SWT, di samping strategi dan kedisiplinan yang dijalankan oleh seluruh pasukan muslimin.
Ketika pertempuran hampir usai dan kemenangan hampir pasti di tangan, Nabi SAW tetap saja memerintahkan agar pasukan bersiaga di tempatnya masing-masing. Tetapi beberapa orang pemanah di atas bukit, yang area pemandangannya memang lebih luas, tiba-tiba berteriak, “Harta rampasan, harta rampasan!! Teman-teman, kita ini telah menang, apalagi yang kita tunggu!!”
Mungkin memang tidak salah apa yang dikatakannya bahwa mereka telah menang, tetapi yang dilupakan, mereka harus disiplin dan taat pada perintah komandannya. Abdullah bin Jubair dengan tegas berkata, “Apakah kalian telah lupa apa yang dipesankan Rasulullah kepada kalian??”
Tetapi mayoritas dari mereka tidak memperdulikan peringatan itu. Tampaknya perasaan cinta duniawiah (hubbud dunya) masih ada di hatinya. Mereka berkata, “Demi Allah, kami benar-benar akan bergabung dengan mereka (pasukan inti) agar kami mendapatkan bagian dari rampasan perang ini…!”
Empatpuluh orang segera beranjak pergi meninggalkan bukit. Ibnu Jubair dengan sembilan temannya yang tersisa berusaha keras menahannya tetapi tetap saja mereka pergi, sehingga hanya tinggal mereka saja yang bertahan. Keadaan itu ternyata tidak lepas dari pengamatan Khalid bin Walid, walau sebenarnya ia dan bala tentara Quraisy lainnya telah cukup jauh meninggalkan arena pertempuran. Ia memerintahkan pasukan berkudanya kembali ke arah Uhud, mengambil jalan memutar hingga langsung berhadapan dengan pasukan panah Ibnu Jubair, yang tentu saja tidak mampu menahan laju serangan seperti sebelumnya. Satu persatu mereka terkapar bersimbah darah menemui syahidnya, demi mematuhi perintah Rasulullah SAW untuk tetap bertahan di atas bukit, apapun yang terjadi.
Kemudian Khalid bin Walid menyerang pasukan muslimin dari arah belakang hingga mereka porak poranda. Pergerakan ini ternyata diikuti oleh pasukan Quraisy lainnya, yang segera kembali ke arena pertempuran dan memborbardir kaum muslimin dengan serangan dari segala arah. Seorang wanita Quraisy bernama Amrah binti Alqamah al Haritsiyah segera mengambil panji pertempuran Quraisy dan mengibarkannya sehingga semangat mereka kembali menyala. Kemenangan kaum muslimin yang tinggal sedikit saja diraih, berbalik menjadi kekalahan hanya karena ketidak-disiplinan dan ketidak patuhan 40 orang pemanah di bukit terhadap perintah Rasulullah SAW.  

Note:sn341344

Kamis, 18 Desember 2014

Pemilik Pohon Kurma di Surga

            Seorang pemilik kebun kurma, ada salah satu pohon kurmanya yang mayangnya (bunga yang akan menghasilkan buah) menjulur ke rumah seorang keluarga yang sangat fakir. Pemilik kebun tersebut seorang muslim tetapi ia bersifat bakhil/pelit. Jika ia ingin mengambil buah kurma dari pohonnya tersebut, ia memetiknya dari rumah tetangganya yang fakir itu, tetapi sama sekali ia tidak memberi sedikitpun kepadanya. Jika ada kurma yang jatuh dan diambil oleh anak-anak si fakir, ia segera mendatangi dan merampasnya. Bahkan kalau kurma itu telah ada di mulut anak-anak itu, ia akan memaksa untuk mengeluarkannya.
            Karena perilaku pemilik kebun yang seperti itu, si fakir mengadukan halnya kepada Rasulullah SAW, dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Suatu ketika beliau bertemu dengan pemilik kebun tersebut dan bersabda, “Berikanlah kepadaku pohon kurmamu yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggamu yang fakir, dan sebagai gantinya bagimu adalah sebuah pohon kurma di surga!!”
            Karena sifatnya yang ‘hubbud dunya’, pemilik kebun itu berkata, “Hanya segitukah penawaran engkau?”
            “Benar!!” Kata Nabi SAW.
            “Saya mempunyai banyak sekali pohon kurma, dan pohon yang engkau minta itu, yang paling baik buahnya!” Katanya, kemudian ia berlalu pergi.
            Nabi SAW hanya memandang kepergiannya dengan sedih tanpa berucap apa-apa. Tetapi ada sahabat lain yang mendengar pembicaraan tersebut dan ia sangat tertarik dengan penawaran Nabi SAW. Lelaki itu mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah penawaran engkau itu berlaku juga bagiku, jika pohon itu milikku?”
            Beliau bersabda, “Ya…!!”
            Lelaki itu pamit kepada Rasulullah SAW dan segera pergi menemui pemilik kebun tersebut. Setelah bertemu ia segera menyampaikan maksudnya untuk membeli pohon kurma miliknya, yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya yang fakir itu. Tetapi jiwanya yang materialistis dan oppourtunis, membuat pemilik pohon kurma itu berkata, “Apakah engkau tahu, bahwa Nabi SAW telah menjanjikan sebuah pohon di surga sebagai ganti pohon kurmaku tersebut? Sungguh aku telah mencatat tawarannya, tetapi pohonku itu buahnya sangat mengagumkan. Aku memiliki banyak sekali pohon kurma, tetapi tidak ada yang buahnya selebat itu!!”
            Lelaki dermawan itu memahami “bahasa” negosiasi yang disampaikannya. Ia berkata, “Apakah engkau mau menjualnya??”
            “Tidak, kecuali bila ada yang mau memenuhi keinginanku. Tetapi sepertinya tidak ada yang sanggup memenuhinya!!” Katanya, sangat kentara jiwa oppourtunis dalam ucapannya tersebut.
            “Berapa yang engkau inginkan??”
            “Aku inginkan empatpuluh pohon kurma sebagai penggantinya!!”
            Lelaki dermawan itu terdiam, seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Tetapi tawaran Rasulullah SAW tersebut tampaknya lebih menggiurkan bagi dirinya. Karena itu ia berkata, “Sungguh permintaanmu itu tidak masuk akal, tetapi baiklah, aku akan memenuhi pertukaran tersebut. Dan aku minta beberapa orang saksi jika engkau benar-benar ingin menukarnya!!”
            Pemilik kebun kurma itu tampak sangat gembira dan mengiyakannya. Si dermawan memanggil beberapa orang temannya untuk menjadi saksi tukar-menukar tersebut, setelah itu ia dengan gembira ia segera pergi menemui Rasulullah SAW. Sungguh suatu pertukaran yang sangat tidak seimbang, tetapi sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Hanya saja yang satu hanya memperoleh keuntungan duniawiah, tetapi satunya lagi sudah pasti memperoleh keuntungan akhirat.
            Sampai di hadapan Rasulullah SAW, lelaki dermawan itu berkata, “Wahai Rasulullah, pohon kurma tersebut telah menjadi milik saya. Dan sekarang saya serahkan kepada engkau!!”
            Nabi SAW sangat gembira dengan pemberiannya itu dan beliau mendoakannya dengan kebaikan. Setelah itu bersama beberapa sahabat, beliau mendatangi lelaki fakir itu di rumahnya, dan bersabda, “Ambillah pohon kurma ini untukmu dan keluargamu!!”      

Aktsam bin Shaifi RA

            Aktsam bin Shaifi adalah salah seorang pemuka dari kabilahnya yang tinggal cukup jauh dari kota Madinah. Ketika ia mendengar kabar tentang Kenabian Nabi Muhammad SAW dan beliau telah berhijrah ke Madinah, ia bermaksud mengunjungi beliau tetapi dihalangi oleh para pemuka lainnya.
            Aktsam memang telah mendengar kabar selentingan tentang Islam yang didakwahkan Nabi SAW, dan hatinya cenderung untuk mengikutinya, hanya saja ia ingin memperoleh informasi lebih jelas karena hal itu menyangkut keyakinan hatinya (aqidahnya). Karena ia dihalangi untuk bertemu beliau, dan mereka mengawasinya dengan ketat, diam-diam ia mengirim dua orang yang dipercayainya kepada Nabi SAW untuk memperoleh informasi tentang beliau dan Risalah Islam yang beliau dakwahkan.
            Ketika kedua utusan itu telah sampai di hadapan Nabi SAW, mereka berkata, “Kami adalah utusan dari Aktsam bin Shaifi, dia ingin tahu tentang siapa tuan, apa kedudukan tuan, dan apa yang tuan bawa (dakwahkan)?”
            Nabi SAW bersabda, “Saya adalah Muhammad, putra dari Abdullah bin Abdul Muthalib, hamba Allah dan Rasul-Nya….”
            Kemudian beliau menjelaskan tentang risalah Islam yang beliau dakwahkan secara ringkas, dan beliau mengakhirinya dengan membacakan firman Allah, “Innallaaha ya’muru bin adli wal ikhsaan, wa iitaa-idzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fakhsyaa-i wal munkar  wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.”
            Firman Allah tersebut adalah QS An-Nahl ayat 90, yang artinya : Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat kebajikan, serta memberi [shadaqah/pemberian] kepada karib kerabat, dan mencegah berbuat keji dan munkar serta kezaliman, Dia [Allah] mengajarkan kepadamu, semoga engkau memperoleh peringatan.
            Kedua utusan itu kembali kepada Aktsam, dan setelah memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang Nabi SAW dan Islam, hatinya mantap untuk memeluk risalah beliau tersebut. Dengan tegar ia menghadapi kaumnya dengan aqidah barunya, tidak takut akan permusuhan dan halangan dari mereka seperti sebelumnya. Ia berkata, “Wahai kaumku, ia (Nabi SAW) menyuruh untuk berbudi tinggi dan melarang untuk berakhlaq rendah, jadilah kalian pelopor untuk berbudi luhur dan janganlah hanya menjadi pengekor!!”
            Walaupun tidak banyak yang mengikutinya, Aktsam tetap teguh dengan pendiriannya, bahkan ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah sebagaimana kebanyakan kaum muslimin yang berada di Makkah. Tetapi dalam perjalanan tersebut ia sakit dan akhirnya meninggal sebelum sempat tiba di Madinah dan bertemu dengan Rasulullah SAW.
            Beberapa sahabat yang mendengar peristiwa yang dialami Aktsam sempat sedih dengan nasibnya, tetapi kemudian turun firman Allah QS An Nisa ayat 100, yang menyatakan bahwa orang-orang seperti Aktsam tersebut tetap memperoleh pahala hijrah secara sempurna, walau belum sempat sampai di Madinah dan bertemu langsung dengan Nabi SAW untuk mengukuhkan ba’iat keislamannya.     

Rafi bin Umair at Tamimi RA

            Rafi bin Umair at Tamimi adalah seorang sahabat yang berasal dari kabilah Bani Tamim. Kisah keislamannya termasuk unik, karena berawal dari sebuah mimpi ketika ia tertidur di padang pasir yang luas.
            Suatu ketika Rafi sedang melakukan perjalanan menembus padang pasir yang luas. Jika siang harinya sangat panas membakar, ia melakukan perjalanan pada malam hari, dan ia beristirahat sambil berteduh di bawah pepohonan atau bayang-bayang batuan besar. Pada suatu malam, ketika ia tiba di suatu lembah yang bernama Ramal ‘Alij, ia merasakan kantuk yang tidak tertahankan, karena itu ia turun dari untanya dan bermaksud tidur sebentar sampai kantuknya hilang. Seperti kebiasaan para musafir jahiliah, sebelum tidur ia berdoa, “Aku berlindung kepada penunggu/penguasa lembah ini dari gangguan jin!!”
            Belum lama tertidur, ia bermimpi melihat seorang laki-laki membawa tombak yang akan ditusukkan ke tulang rusuk untanya. Tentu saja ia kaget dan tiba-tiba terbangun, ia melihat ke kanan-kirinya, dan ia tidak melihat apa-apa, untanya-pun keadaannya baik-baik saja. Karena kantuknya belum hilang, ia meneruskan tidurnya.
Sesaat tertidur, sekali lagi ia bermimpi yang sama seperti sebelumnya, dan ia tersentak bangun. Kali ini ia melihat untanya berontak, dan seorang lelaki yang membawa tombak seperti yang terlihat pada mimpinya sedang berusaha menyerang untanya. Tetapi seorang lelaki tua memeganginya dan berusaha menghalangi niatnya. Keduanya tampak bertengkar dan berdebat keras, sampai tiba-tiba datang tiga ekor banteng (sapi liar) menghampiri mereka. Orang tua itu berkata, “Ambillah salah satu banteng ini sebagai pengganti dari unta milik manusia yang ingin engkau ambil, sesungguhnya ia dalam perlindunganku!!”
            Lelaki yang membawa tombak itu memilih salah satu dari tiga banteng tersebut dan berlalu pergi. Si orang tua berpaling kepada Rafi dan berkata, “Hai manusia, jika engkau beristirahat di suatu lembah, dan engkau merasa ngeri dengan seramnya lembah itu, maka katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhannya Muhammad dari seramnya lembah ini!! Janganlah engkau meminta perlindungan kepada jin atau siapapun dari penghuni lembah itu, sesungguhnya hal itu adalah perkara yang bathil!!”
            Rafi berkata, “Siapakah Muhammad itu!!”
            Orang tua berkata, “Dia adalah seorang nabi berbangsa Arab, dia bukan dari timur dan bukan pula dari barat, dan diutus sebagai rasul pada hari senin!!”
            Maksudnya dari timur, adalah Persia dan dari barat adalah Romawi. Dua kerajaan besar itulah yang saat itu menjangkau ke wilayah Arab. Di bagian timur dan selatan, yakni Yaman dan sekitarnya termasuk kekuasaan Kisra Persia, dan di wilayah barat dan utara seperti Syam, Palestina, Mesir dan sekitarnya termasuk kekuasaan Kaisar Romawi.
            “Dimanakah tempat tinggalnya?” Tanya Rafi lagi.
            “Di Kota Yatsrib, yang banyak pohon kurmanya!!” Kata lelaki tua itu.
            Sebelum sempat berkata dan menanyakan sesuatu lagi, lelaki tua itu hilang dari pandangannya. Rafi membatalkan tujuan perjalanannya, dan ia memacu tunggangannya menuju Yatsrib yang saat itu namanya telah berubah menjadi Madinah.
Setibanya di sana, ia menanyakan tentang Nabi SAW dan mereka menunjukkan tempatnya di masjid. Ia segera menuju Masjid Nabi, dan melihat kedatangannya, Nabi SAW langsung menyambutnya dengan gembira. Sebelum sempat ia menceritakan pengalamannya, beliau yang terlebih dahulu menceritakan apa yang dialaminya, dan menyatakan kalau dua orang yang dilihatnya itu adalah dari bangsa jin. Lelaki tua yang melindunginya itu adalah jin yang telah memeluk Islam.
Nabi SAW menceritakan tentang risalah Islam, dan menyeru Rafi untuk mengikutinya, dan tanpa banyak pertimbangan lagi ia memenuhi ajakan beliau tersebut memeluk Islam. Sungguh keislamannya merupakan berkah dari dakwah tidak langsung dari jin penghuni lembah Ramal ‘Alij, di tengah belantara padang pasir yang luas.

Quthbah bin Amir RA

Quthbah bin Amir bin Hadidah adalah seorang sahabat Anshar dari kabilah Bani Salamah, termasuk suku Khazraj. Bersama lima orang teman lainnya yang sama-sama masih muda, yang juga berasal suku Khazraj, mereka ini bisa dikatakan pelopor atau pionir tersebarnya Islam di Kota Yatsrib, yang kemudian berubah nama menjadi Madinah, dan menjadi pusat pemerintahan dan penyebaran Islam ke seluruh dunia. Mereka telah memeluk Islam ketika belum dilakukannya Ba’iatul Aqabah pertama, bahkan mereka inilah yang menjadi cikal bakal ba’iat tersebut.
Pada tahun ke sebelas dari nubuwwah (Kenabian Nabi Muhammad SAW), Quthbah bersama lima orang temannya melakukan ibadah haji dan umrah (jahiliah) ke Makkah. Menjelang tengah malam, ketika sedang beristirahat dan mengobrol di Aqabah Mina, Nabi SAW yang ditemani Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka, beliau berkata, “Siapakah kalian ini?”
Quthbah dan teman-temannya berkata, “Kami orang-orang dari Khazraj di Yatsrib!!”
“Sekutu dari orang-orang Yahudi?” Kata Nabi SAW.
“Benar!!” Kata mereka.
Nabi SAW bersabda, “Bolehkah aku duduk bersama kalian, dan ikut berbincang-bindang dengan kalian?”
“Baiklah!!” Kata mereka berenam.
Nabi SAW terlibat pembicaraan dengan mereka, dan pada suatu kesempatan, beliau menceritakan tentang risalah Islam, dan tugas kenabian yang beliau laksanakan. Beliau juga membacakan beberapa ayat-ayat al Qur’an, yang tampaknya sangat menarik perhatian mereka.
Mereka ini memang pemuda-pemuda pilihan yang cerdas, sehingga dengan mudah mereka bisa menangkap adanya kebaikan dan kebenaran dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Apalagi selama ini, kaum Yahudi yang menjadi sekutu mereka, selalu menceritakan dan membangga-banggakan seorang nabi akhir zaman yang akan mereka ikuti, dan membawa mereka menjadi pemimpin dunia. Kaum Yahudi tersebut juga menceritakan ciri-ciri yang dimiliki oleh nabi yang mereka tunggu-tunggu itu, dan semua itu amat sesuai dan tepat menyata pada diri Rasulullah SAW.
Setelah Nabi SAW selesai menceritakan tentang risalah Islam tersebut, mereka saling memandang dengan mata berbinar, dan berkata, “Demi Allah, kalian tahu bahwa dia (Rasulullah SAW) benar-benar seorang nabi seperti yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi itu. Janganlah mereka mendahului kita memenuhi seruannya!!”
Dan ternyata enam pemuda tersebut mempunyai pemikiran yang sama, dan mereka segera memeluk Islam mengikuti seruan beliau itu. Sepulangnya ke Yatsrib, Quthbah dan teman-temannya mulai menceritakan dan mendakwahkan tentang Islam kepada kaumnya. Berita itu terus menyebar, termasuk kepada suku Aus yang selama ini menjadi musuh bebuyutan suku Khazraj, sehingga tidak ada satu rumahpun di Yatsrib, kecuali telah menyebut-nyebut nama Rasulullah SAW.
Pada musim haji tahun berikutnya, tahun ke duabelas dari nubuwwah, mereka bermaksud menemui Nabi SAW lagi sambil melaksanakan haji dan umrah, tetapi salah seorang dari mereka, yakni Jabir bin Abdullah bin Ri’ab, tidak bisa mengikuti karena sesuatu hal. Namun demikian ada tujuh orang lainnya dari para pemuka kaum/kabilahnya yang ingin bertemu Rasulullah SAW, termasuk dua orang dari suku Aus. Quthbah bersama sebelas orang inilah yang mengikatkan diri dalam janji setia, yang dikenal dengan nama Ba’iatul Aqabah yang pertama. Ketika pulang ke Yatsrib, Nabi SAW mengirimkan guru dan muballigh pertama untuk mereka, Mush’ab bin Umair.
Sudah menjadi kebiasaan dan peraturan tidak tertulis, ketika melaksanakan ibadah haji dan umrah (sejak masa jahiliah), orang-orang Quraisy yang digelari dengan al Hams (kaum Ksatria) selalu keluar dan masuk rumahnya lewat pintu depan atau pintu utama, begitu juga ketika mereka memasuki dan keluar dari Baitullah di Makkah. Sedangkan orang Arab lainnya selain kaum Quraisy, harus lewat pintu belakang atau pintu lainnya, yang bukan pintu depan atau pintu utama.
Sejak keislamannya, Quthbah bin Amir selalu berusaha mencontoh/meneladani akhlak dan perilaku Nabi SAW, walaupun tidak semirip dan mendetail seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar. Dalam suatu musim haji, ia keluar rumahnya dari pintu depan, begitu juga ketika memasuki Baitullah. Melihat tindakannya itu, orang-orang menegur apa yang dilakukannya. Dengan tegas Quthbah berkata, “Saya hanya mengikuti dan mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah…!!”
Tampaknya orang-orang tersebut tidak puas dengan penjelasan Quthbah, mereka mengadukan pelanggarannya itu kepada Nabi SAW, dan beliau menegur sikapnya tersebut.  Memang, untuk suatu aturan atau tatakrama (adab) yang telah berlaku sejak masa jahiliah, yang tidak mengandung unsur kemusyrikan dan tidak jelas-jelas dilarang atau dirubah oleh syariat Islam, biasanya Nabi SAW masih menghargai dan menjalankan aturan tersebut.
Mendapat teguran Nabi SAW itu, Quthbah berkata, “Saya hanya meneladani apa yang tuan lakukan, ya Rasulullah!!”
“Tetapi aku adalah golongan al-Hams (Ksatria)!!” Kata Nabi SAW lagi.
“Ya Rasulullah, saya adalah penganut agama tuan juga!!” Quthbah masih mencoba bertahan dengan pendapatnya.
Para sahabat khawatir dengan sikap Quthbah yang berusaha “membantah” Rasulullah SAW, apalagi setelah perkataannya itu tampak beliau terdiam beberapa lamanya. Tetapi kemudian mereka melihat Nabi SAW tersenyum, dan berkata, “Jibril telah turun membawa wahyu yang membenarkan sikap Quthbah…!!”
            Nabi SAW menjelaskan tentang turunnya wahyu Allah, QS Al Baqarah ayat 189, bahwa dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah itu tidaklah penting memasuki rumah dari pintu depannya atau dari belakangnya, karena semua itu bukanlah kebaikan sebagaimana yang diyakini pada masa haji jahiliah. Tetapi yang terpenting adalah ketakwaan, dan itulah kebaikan yang sebenarnya.