Rabu, 04 Juni 2014

Ummu Hani binti Abu Thalib RA

Ummu Hani binti Abu Thalib, masih saudara sepupu Nabi SAW walau usianya berbeda jauh. Ia adalah saudara Ali bin Abi Thalib. Ia telah memeluk Islam dan tetap tinggal di Makkah. Rasulullah SAW cukup akrab dengan sepupunya ini, bahkan menurut sebagian riiwayat, ketika beliau mengalami (menjalani) Isra Mi'raj, beliau sedang berada di rumahnya.
Saat Fathul Makkah, Harits bin Hisyam dan Abdullah bin Abu Rabiah, dua tokoh Quraisy yang gencar memusuhi Nabi SAW saat di Makkah, dan masih kerabat dengannya, datang ke rumah Ummu Hani untuk meminta perlindungan karena takut pembalasan kaum muslimin, dan Ummu Hani menyetujuinya.
Tak lama berselang datang saudaranya, Ali bin Abi Thalib yang langsung menodongkan pedang kepada dua orang tersebut. Ummu Hani meloncat mendekati keduanya dan memegangi Ali sambil berkata, "Kamu lakukan hal ini kepadaku di antara sekian banyak kaum kafir Quraisy lainnya? Sungguh aku telah memberikan perlindungan kepada mereka! Bunuhlah aku terlebih dahulu sebelum engkau membunuh keduanya..!"
"Engkau telah melindungi orang-orang musyrik!" Kata Ali, kemudian berlalu keluar.
Ummu Hani segera pergi menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang dilakukannya, termasuk ancaman  yang dilakukan Ali bin Abi Thalib. Maka Nabi SAW bersabda, "Dia (Ali) tidak patut melakukan hal itu, sesungguhnya kami telah memberikan perlindungan kepada siapapun yang engkau lindungi, dan kami menjamin keselamatan siapapun yang engkau jamin."
Ummu Hani kembali ke rumahnya, dan memberitahukan apa yang dikatakan Nabi SAW, dan keduanya kembali ke rumahnya masing-masing. Tidak lama setelah itu Harits bin Hisyam akhirnya memeluk Islam.

Rabi'ah bin Ka'b al Aslamy RA

Rabi'ah bin Ka'b al Aslamy, atau dikenal dengan nama Abu Firas, adalah seorang pemuda dari Bani Aslam yang membaktikan dirinya sebagai salah satu pelayan Rasulullah SAW, dan ia termasuk salah seorang dari Ahli Shuffah. Ia bertugas untuk mengurus keperluan Nabi SAW pada waktu malam, termasuk ketika beliau akan shalat tahajud.
Suatu ketika seusai shalat tahajud, Nabi SAW berkata kepadanya, "Wahai Rabi'ah, mintalah sesuatu kepadaku!"
"Saya sudah cukup puas dengan bisa melayani keperluan engkau, ya Rasulullah!"
Tetapi Nabi SAW tetap menyuruhnya untuk meminta sesuatu kepada beliau. Karena terus didesak, akhirnya Rabi'ah berkata, "Ya Rasulullah, aku ingin selalu bersama (yakni, menjadi teman) engkau di surga!"
"Apakah engkau tidak memiliki permintaan yang lain lagi?" Tanya Rasulullah SAW, maksud beliau adalah sesuatu yang bersifat duniawiah, yang beliau bisa memenuhinya seketika itu.
"Tidak ada, ya Rasulullah, hanya itu yang selalu menjadi idaman saya!" Kata Rabi'ah, menegaskan.
"Baiklah," Kata Nabi SAW, "Tetapi engkau harus menolong aku (untuk mewujudkan keinginanmu itu) dengan memperbanyak sujud kepada Allah."
Maksudnya agar Rabi'ah memperbanyak shalat-shalat sunnah.
Dalam suatu kesempatan lainnya, Nabi SAW bertanya kepadanya, "Wahai Rabiah, apakah kamu tidak ingin menikah?"
"Demi Allah, tidak ya Rasulullah, aku tidak ingin menikah sebab aku tidak memiliki apa-apa untuk menghidupi seorang istri. Dan terutama sekali aku tidak ingin ada sesuatu yang membuatku sibuk sehingga aku tidak bisa melayani kebutuhan engkau..!!"
Nabi SAW hanya tersenyum saja mendengar jawabannya. Tetapi pada suatu pertemuan yang lain, beliau menanyakan kembali pertanyaan tersebut dan Rabi'ah masih memberikan jawaban yang sama. Tetapi setelah itu Rabi'ah berfikir sendiri, kenapa Nabi SAW menanyakan masalah tersebut sampai dua kali, akhirnya ia menyimpulkan, "Demi Allah, Rasulullah SAW lebih tahu daripada aku sendiri, apa yang lebih tepat bagiku di dunia dan akhirat. Kalau beliau menanyakan lagi masalah ini, aku akan memberikan jawaban yang lain…!!"
Ternyata memang benar, pada kesempatan berikutnya, Nabi SAW bersabda kepadanya, "Wahai Rabiah, apakah kamu tidak ingin menikah?"
Kali ini Rabiah berkata, "Baiklah, ya Rasulullah, perintahkanlah kepadaku menurut yang engkau kehendaki!!"
Nabi SAW bersabda, "Pergilah engkau kepada keluarga fulan dari kalangan Anshar, katakan kepada mereka : Sesungguhnya Rasulullah SAW mengutus aku kepada kalian agar kalian menikahkan aku (dengan putri kalian)..!"
Rabiah segera berangkat memenuhi perintah Nabi SAW, dan ia disambut dengan gembira di keluarga orang Anshar tersebut. Mereka berkata, "Marhaban kepada Rasulullah dan utusan Rasulullah, demi Allah, utusan Rasulullah tidak diperkenankan kembali kecuali keperluannya sudah dipenuhi…!!"
Mereka memperlakukan Rabiah dengan lemah lembut dan ramah tanpa banyak mempertanyakan sesuatu kepadanya, kemudian menikahkan dengan salah seorang putri mereka. Setelah beberapa waktu lamanya, Rabiah meminta ijin untuk kembali menghadap Rasulullah, dan mereka mengijinkannya.
Ketika sampai di hadapan Nabi SAW, dengan perasaan sedih, Rabiah berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah mendatangi suatu kaum yang mulia. Mereka menikahkan aku dan bersikap lemah lembut serta bersikap sangat baik tanpa menanyakan mas kawinnya. Padahal aku tidak mempunyai apa-apa untuk memberikan mas kawinnya…"
Beliau tersenyum mendengar penuturan Rabiah, dan memerintahkan seorang sahabat mengumpulkan orang-orang dari Bani Aslam, kemudian beliau bersabda, "Wahai orang-orang Aslam, kumpulkanlah dan berikanlah kepadanya (Rabiah) butir-butir emas…!!"
Dalam sekejab terkumpullah butir-butir emas yang cukup banyak, lalu beliau bersabda kepada Rabiah, "Pergilah, dan bawalah ini kepada mereka dan katakan : Ini mas kawinnya..!!"
Rabiah segera berangkat ke rumah orang Anshar yang telah menjadi mertuanya tersebut. Ia menyerahkan butiran emas sumbangan dari kaumnya sebagai mas kawinnya sebagaimana diperintahkan Rasulullah SAW. Sekali lagi mereka menyambutnya dengan lemah lembut dan gembira, dan berkata, "Cukup banyak dan sangat baik!!"
Rabiah meminta ijin untuk kembali kepada Rasulullah dan mereka mengijinkannya. Rabiah menghadap Nabi SAW dengan wajah sedih, sehingga beliau bertanya, "Wahai Rabiah, mengapa engkau (masih) kelihatan sedih..!!"
"Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihat suatu kaum yang lebih mulia dari mereka, yang rela dengan apa yang kuberikan kepada mereka, berbuat sangat baik dan berkata : Cukup banyak dan baik sekali. Padahal aku tidak mempunyai apa-apa untuk mengadakan walimah!!"
Sekali lagi Nabi SAW tersenyum mendengar penuturan Rabiah. Beliau memerintahkan para sahabat untuk  mengumpulkan beberapa domba yang besar dan gemuk. Beliau juga memerintahkan Rabiah untuk mendatangi Ummul Mukminin, Aisyah RA dan menyampaikan pesan beliau, "Hendaklah engkau mengirimkan sekeranjang makanan…!!
Rabiah bergegas ke tempat Aisyah dan menyampaikan pesan Nabi SAW, segera saja Aisyah mengeluarkan sekeranjang besar makanan dan berkata, "Keranjang ini berisi sembilan takar gandum, demi Allah tidak ada lagi selain ini. Jika kami masih mempunyai makanan lainnya selain ini, maka kamu boleh mengambilnya!!"
Rabiah membawa keranjang tersebut kepada Nabi SAW dan menyampaikan pesan Aisyah seperti itu. Beliau menyuruh Rabiah menyerahkan domba dan bahan makanan tersebut kepada keluarga Anshar mertuanya dengan diantar beberapa orang dari Bani Aslam. Sekali lagi mereka menyambut kehadiran Rabiah dengan gembira, dan mereka berkata, "Kalau roti, cukuplah kami yang mengerjakannya. Sedangkan dombanya bisa kalian yang mengerjakannya."
Rabiah dan beberapa orang dari Bani Aslam menyembelih dan menguliti domba-domba tersebut kemudian memasaknya. Setelah semua masakan siap, mereka mengundang Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya untuk mengadakan walimah dari pernikahan Rabiah bin Ka'b ini.

Dhuba'ah binti Amir bin Qurth RA

Dhuba'ah binti Amir bin Qurth berasal dari Bani Amir bin Sha'sha'ah, wanita ini telah memeluk agama Islam di Makkah, mendahului orang-orang di kaumnya, sehingga ia termasuk dalam kelompok yang pertama-tama memeluk Islam (as sabiqunal awwalin), tetapi ia masih menyembunyikan keislamannya pada masa itu.
Dalam suatu musim haji (di masa jahiliah), Nabi SAW berdakwah kepada Bani Amir bin Sha'sha'ah dan Bani Ka'ab bin Rabi'ah yang saat itu berada di Pasar Ukazh. Mereka belum bisa mengikuti ajakan Nabi SAW, tetapi mereka bersedia melindungi beliau jika ingin mendakwahkan pada kaum-kaum lainnya. Mereka mengajak beliau singgah di perkemahannya, dan beliau menyetujuinya. Tiba di perkemahan mereka, kehadiran beliau disambut dengan gembira. Tetapi seorang lelaki bernama Baiharah bin Firas al Qusyairi mencela sikap Bani Ka'ab karena perlindungan yang diberikannya kepada Nabi SAW, kemudian ia berpaling kepada beliau dan berkata, "Bangunlah, kembalilah kepada kaummu, Demi Allah, jika kau tidak sedang di antara kaumku, pasti aku akan memenggal kepalamu."
Nabi SAW tidak bisa berbuat banyak dengan sikapnya itu, kecuali harus pergi. Ketika beliau telah naik unta, Baiharah menendang  kaki unta beliau dan dua orang lainnya melemparinya. Melihat perlakuan yang tidak sepatutnya kepada Nabi SAW ini, Dhuba'ah yang berada di antara mereka berseru kepada anggota keluarganya untuk melakukan pembelaan kepada Nabi SAW. Tiga orang dari anak-anak paman Dhuba'ah bangkit menyambut seruannya, satu orang memukul Baiharah dan dua lainnya memukul orang-orang yang melempari unta Rasulullah SAW.
Sambil berlalu pergi, beliau masih sempat melihat pembelaan yang dilakukan oleh tiga orang tersebut, dan berdoa, "Ya Allah, berkatilah tiga orang itu dan laknatilah orang yang membantu Baiharah."
Tiga orang pembela Nabi SAW tersebut adalah Ghitrif bin Sahl, Ghatafan bin Sahl dan Urwah bin Abdullah, mereka bertiga akhirnya memeluk Islam, kemudian berjuang dan berjihad bersama Rasulullah SAW hingga memperoleh syahidnya.

Shafwan bin 'Assal RA

Suatu ketika Shafwan bin 'Assal didatangi seorang tabi'in bernama Zirr bin Khubaisy, yang seketika Shafwan berkata, "Ada apa kamu datang ke sini, wahai Zirr?"
"Untuk mencari ilmu!!" Kata Zirr.
Shafwan berkata, "Sesungguhnya malaikat akan membentangkan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu karena senang dengan apa yang dicarinya itu!!"
Demikianlah memang yang pernah disabdakan Nabi SAW tentang keutamaan menuntut ilmu. Kemudian Zirr bin Khubaisy berkata, "Sesungguhnya saya belum jelas tentang mengusap sepatu sesudah buang hajat (kencing dan berak), sedang engkau adalah salah seorang sahabat Nabi SAW. Apakah engkau pernah mendengar beliau menjelaskan masalah itu?"
"Benar!" Kata Shafwan, "Sesungguhnya beliau menjelaskan, ketika dalam perjalanan atau sedang bepergian kami tidak perlu melepas sepatu (ketika akan berwudhu dan shalat) selama tiga hari tiga malam, kecuali jika karena janabah. Jika hanya karena kencing, berak atau tidur, tidak perlu melepas sepatu…!"
Untuk diketahui, pada jaman Nabi SAW, beliau dan para sahabat memang melaksanakan shalat dengan memakai sepatu atau terompahnya, dan kadang tanpa alas shalat, langsung saja di hamparan pasir yang diratakan, dan tentunya tidak terdapat najis di atasnya.
Ibnu Khubaisy berterima kasih atas penjelasan ini, kemudian ia bertanya lagi, "Apakah engkau pernah mendengar beliau menceritakan tentang cinta?"
"Pernah!" Kata Shafwan.
Kemudian ia menjelaskan bahwa ia pernah bersama Rasulullah SAW dengan beberapa sahabat lainnya dalam suatu perjalanan. Tiba-tiba datang seorang Badui memanggil dengan suara lantang, "Wahai Muhammad!!"
Rasulullah SAW menyahuti panggilan lelaki Badui tersebut dengan suara keras juga. Maka Shafwan berkata kepada lelaki Badui tersebut, "Rendahkanlah suaramu karena engkau berhadapan dengan Nabi SAW, dan kita (umat Islam) benar-benar  dilarang berkata seperti itu!!"
Memang, sebelumnya beberapa sahabat punya kebiasaan bersuara keras dan memanggil-manggil Nabi SAW ketika beliau sedang di rumah atau sedang dalam kesibukan lain, sampai akhirnya turun Sural al Hujurat ayat 2 - 4 yang melarang kebiasaan mereka tersebut. Tetapi atas saran Shafwan tersebut, Sang Badui berkata, "Demi Allah, saya tidak bisa merendahkan suara saya!!"
Mungkin itulah bentuk kasih sayang beliau kepada si Badui, sehingga beliau juga bersuara keras menyamai suara lelaki tersebut agar ia "tidak terkena" hukum dalam ayat tersebut. Si Badui ini kemudian bertanya kepada beliau, "Bagaimana seseorang mencintai sekelompok orang, tetapi ia tidak boleh (bisa) berkumpul bersamanya?"
Mungkin yang dimaksudkan lelaki Badui ini adalah kecintaannya kepada Nabi SAW dan kepada para sahabat beliau, tetapi ia "tidak mungkin" selalu bersama-sama mereka karena keadaan dan kondisinya sebagai orang "desa" yang keimanan dan amalannya sangat jauh dibanding para sahabat tersebut. Belum lagi ia disibukkan dengan pekerjaannya untuk menghidupi keluarganya, sehingga tidak bisa memaksimalkan waktu untuk meningkatkan amal dan keimanannya.
Nabi SAW tersenyum mendengar pernyataan lelaki Badui tersebut dan bersabda, "Seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya nanti pada hari kiamat!!"
Itulah masalah "cinta" yang pernah didengar Shafwan dari Rasulullah SAW. Kemudian ia menambahkan pula, bahwa Nabi SAW menceritakan adanya sebuah pintu di sebelah barat, pintu yang sangat lebar, yang seandainya ia berjalan dari sisi ke sisi lainnya, diperlukan waktu 40 atau 70 tahun lamanya. Pintu ini diciptakan Allah SWT bersamaan dengan penciptaan langit dan bumi. Ketika salah seorang sahabat bertanya tentang pintu tersebut, beliau bersabda, "Itulah pintu taubat, pintu itu selalu terbuka sampai matahari terbit dari arah barat (menjelang kiamat kubra)!!"
Akan tetapi tertutupnya pintu taubat dari masing-masing kita, menjelang "kiamat pribadi" kita adalah ketika nafas telah sampai di tenggorokan. Nabi SAW bersabda : Sesungguhnya Allah SWT selalu menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (Innallaaha yuqbalut taubata abdun, wa lam yughorghir).

Wanita Bani Juhainah yang Berdosa

Seorang wanita dari bani Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah SAW, saya telah melakukan kesalahan (yakni, berzina) dan harus dikenakan hadd (yakni qishas dengan dirajam hingga mati), maka laksanakanlah hadd tersebut pada saya!!"
“Apakah engkau hamil?” Kata Nabi SAW.
“Benar, ya Rasulullah!!” Kata wanita itu.
Nabi SAW memerintahkan seseorang untuk mendatangkan (memanggil) walinya. Setelah tiba, beliau bersabda kepada walinya, "Perlakukanlah wanita ini dengan baik, apabila ia telah melahirkan, bawalah ia kemari!!"
Beberapa bulan berlalu, wanita tersebut datang lagi kepada Nabi SAW bersama walinya dan bayi yang dilahirkannya. Ia berkata, "Ya Rasulullah, saya telah melahirkan, lakukanlah hadd pada saya!!"
Tetapi Nabi SAW mengabaikan permintaannya, yakni sekali lagi menunda hukumannya, beliau bersabda, "Pulanglah, dan susuilah bayimu hingga engkau menyapihnya!!"
Wanita Bani Juhainah tersebut kembali pulang bersama bayi dan walinya. Beberapa bulan, atau mungkin dua tahun kemudian, ketika ia telah menyusui bayinya dan menyapihnya, ia datang lagi kepada Nabi SAW bersama bayi dan walinya. Ia berkata, "Ya Rasulullah, saya telah menyusui dan menyapih anak saya, lakukanlah hadd pada saya!!"
Anak wanita tersebut telah cukup mandiri dan tidak terikat lagi dengan air susu ibunya, dan tampak tenang dalam perawatan wali dari wanita tersebut. Karena itu Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk melakukan hadd, yakni hukum rajam bagi wanita tersebut. Setelah wanita tersebut meninggal dan dilakukan perawatan jenazah sebagaimana mestinya, Nabi SAW bersiap menyalatkannya. Melihat sikap beliau ini, Umar bin Khaththab berkata, "Wahai Rasulullah, engkau akan menyalatinya padahal ia telah berzina?"
Beliau bersabda, "Wahai Umar, wanita ini benar-benar bertaubat, yang seandainya taubat tersebut dibagi kepada tujuh puluh orang dari penduduk Madinah, niscaya mencukupi. Apakah kamu mendapatkan orang yang lebih utama daripada orang yang telah menyerahkan dirinya secara bulat kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung!!"

Rabu, 07 Mei 2014

Seorang Yahudi yang Merindukan Rasulullah SAW

Hari Sabat, atau hari sabtu saat ini, adalah hari besar dimana para pengikuti ajaran Nabi Musa AS (yang kini dikenal sebagai kaum Yahudi) dilarang melakukan aktivitas apapun kecuali untuk beribadah, berdzikir atau mempelajari kitab Taurat.
Suatu ketika, seorang lelaki Yahudi yang tinggal di Syam mengisi hari sabatnya untuk mempelajari kitab Taurat. Ia menemukan dalam Taurat tersebut ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat dan keadaan Nabi Muhammad SAW, Nabi yang diramalkan akan turun sebagai penutup para Nabi-nabi, sebanyak empat halaman. Ia segera memotong empat halaman Taurat tersebut dan membakarnya.
Saat itu memang Nabi SAW telah diutus dan telah tinggal di Madinah. Sementara itu, beberapa orang pemuka dan pendeta Yahudi telah melakukan "indoktrinasi" kepada jamaahnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang  pendusta. Jika ditemukan sifat dan cerita tentang dirinya dalam Taurat, mereka harus memotong dan membakarnya karena itu merupakan ayat-ayat tambahan dalam Taurat yang tidak benar. Lelaki Yahudi dari Syam tersebut adalah satu anggota jamaah sekte ini.
Pada hari sabtu berikutnya, ia juga mengisi harinya dengan melakukan kajian terhadap Taurat, dan ia menemukan delapan halaman yang menyebutkan tentang keadaan dan sifat-sifat Nabi SAW. Seperti kejadian sebelumnya, ia memotong delapan halaman tersebut dan membakarnya.
Pada hari sabtu berikutnya lagi, ia masih melakukan kajian terhadap Taurat, dan kali ini ia menemukan hal yang sama, bahkan ditambah dengan cerita tentang beberapa  orang sahabat di sekitar beliau, dan ia menemukannya dalam 12 halaman. Kali ini ia tidak langsung memotongnya, tetapi ia berfikir dan berkata dalam hatinya, "Jika aku selalu memotong bagian seperti ini, bisa-bisa Taurat ini seluruhnya akan menyebutkan tentang sifat sifat dan keadaan Muhammad..!!"
Tentu kita tidak tahu pasti, apakah memang kandungan Taurat seperti itu? Atau memang Allah SWT telah menggiring lelaki Yahudi  kepada hidayah-Nya, sehingga setiap kali dipotong, akan muncul secara ajaib (mu'jizat) pada halaman lainnya, lebih banyak dan lebih lengkap tentang keadaan Nabi Muhammad SAW.
Tetapi, tiga kali pengalaman kajiannya tersebut telah memunculkan rasa penasaran dan keingintahuannya yang besar kepada Nabi SAW. Bahkan dengan tiga kali kajiannya tersebut, seakan-akan sifat-sifat dan keadaan beliau telah lekat di kepalanya, dan seperti mengenal beliau sangat akrab. Ia datang kepada kawan-kawan Yahudinya dan berkata,
"Siapakah Muhammad ini?"
"Ia seorang pembohong besar (yang tinggal di Madinah)," Kata salah seorang temannya, "Lebih baik engkau tidak melihatnya, dan dia tidak perlu melihat engkau!!"
Tetapi lelaki Yahudi yang telah "melihat" dengan "ilmul yakin" tentang keadaan Nabi SAW ini, tampaknya tidak mudah begitu saja dipengaruhi teman-temannya. Seakan ada kerinduan menggumpal kepada sosok Muhammad yang belum pernah dikenal dan ditemuinya itu. Kerinduan yang memunculkan kegelisahan, yang tidak akan bisa  hilang kecuali bertemu langsung dengan sosok imajinasi dalam pikirannya tersebut. Ia berkata dengan tegas, "Demi kebenaran Taurat (yang diturunkan kepada) Musa, janganlah kalian menghalangi aku untuk mengunjungi Muhammad…!!"
Dengan tekad yang begitu kuatnya, mereka-pun tak mampu lagi menghalangi langkahnya untuk bertemu dengan Nabi SAW di Madinah. Lelaki Yahudi ini mempersiapkan kendaraan dan perbekalannya dan langsung memacunya mengarungi padang pasir tanpa menunda-nundanya lagi. Beberapa hari berjalan, siang dan malam terus saja berjalan, hingga akhirnya ia memasuki kota Madinah.
Orang pertama yang bertemu dengannya adalah Sahabat Salman al Farisi. Karena Salman berwajah tampan, dan mirip gambaran yang diperolehnya dalam Taurat, ia berkata, "Apakah engkau Muhammad?"
Salman tidak segera menjawab, bahkan segera saja ia menangis mendapat pertanyaan tersebut, sehingga  membuat lelaki Yahudi ini terheran-heran. Kemudian Salman berkata, "Saya adalah pesuruhnya!"
Memang, hari itu telah tiga hari Nabi SAW wafat dan jenazah beliau baru dimakamkan kemarinnya, sehingga pertanyaan seperti itu mengingatkannya kepada beliau dan membuat Salman menangis. Kemudian lelaki Yahudi itu berkata, "Dimanakah Muhammad?"
Salman berfikir cepat, kalau ia berkata jujur bahwa Nabi SAW telah wafat, mungkin lelaki ini akan pulang, tetapi kalau ia berkata masih hidup, maka ia berbohong. Maka Salman-pun berkata, "Marilah aku antar engkau kepada sahabat-sahabat beliau!"
Salman membawa lelaki Yahudi tersebut ke Masjid, di sana para sahabat tengah berkumpul dalam keadaan sedih. Ketika tiba di pintu masjid, lelaki Yahudi ini berseru agak keras, "Assalamu'alaika, ya Muhammad!"
Ia mengira Nabi SAW ada di antara kumpulan para sahabat tersebut, tetapi sekali lagi ia melihat reaksi yang mengherankan. Beberapa orang pecah tangisnya, beberapa lainnya makin sesenggukan dan kesedihan makin meliputi wajah-wajah mereka. Salah seorang sahabat berkata, "Wahai orang asing, siapakah engkau ini? Sungguh engkau telah memperbaharui luka hati kami! Apakah kamu belum tahu bahwa beliau telah wafat tiga hari yang lalu?"
Seketika lelaki Yahudi tersebut berteriak penuh kesedihan, "Betapa sedih hariku, betapa sia-sia perjalananku! Aduhai, andai saja ibuku tidak pernah melahirkan aku, andai saja aku tidak pernah membaca Taurat dan mengkajinya, andai saja dalam membaca dan mengkaji Taurat aku tidak pernah menemukan ayat-ayat yang menyebutkan sifat-sifat dan keadaannya, andai saja aku bertemu dengannya setelah aku menemukan ayat-ayat Taurat tersebut….(tentu tidak akan sesedih ini keadaanku)!"
Lelaki Yahudi tersebut menangis tersedu, tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Seakan seperti teringat sesuatu, tiba-tiba ia berkata, "Apakah Ali berada di sini, sehingga ia bisa menyebutkan sifat-sifatnya kepadaku!"
"Ada," Kata Ali bin Abi Thalib sambil mendekat kepada lelaki Yahudi tersebut.
"Aku menemukan namamu tercantum dalam kitab Taurat bersama Muhammad, tolong engkau ceritakan padaku ciri- ciri beliau!"
Ali bin Abi Thalib berkata, "Rasulullah SAW itu tidak tinggi dan tidak pendek, kepalanya bulat, dahinya lebar, kedua matanya tajam, kedua alisnya tebal. Bila beliau tertawa, keluar cahaya dari sela-sela giginya, dadanya berbulu, telapak tangannya berisi, telapak kakinya cekung, lebar langkahnya, dan di antara dua belikat beliau ada tanda khatamun nubuwwah!!"
"Engkau benar, wahai Ali," Kata lelaki Yahudi tersebut, "Seperti itulah ciri-ciri Nabi Muhammad yang disebutkan dalam Kitab Taurat. Apakah masih ada sisa baju beliau sehingga aku bisa menciumnya?"
"Ada!" Kata Ali, kemudian ia meminta tolong kepada Salman untuk mengambil jubah beliau yang disimpan Fathimah az Zahrah, istrinya dan putri kesayangan Nabi SAW.
Salman segera bangkit menuju tempat kediaman Fathimah. Di depan pintu rumahnya, ia mendengar tangisan Hasan dan Husain, cucu kecintaan Rasulullah SAW. Sambil mengetuk pintu, Salman berkata, "Wahai tempat kebanggaan para nabi, wahai tempat hiasan para wali!!"
 "Siapakah yang mengetuk pintu orang yatim!" Fathimah menyahut dari dalam.
"Saya, Salman…" Kata Salman, kemudian ia menyebutkan maksud kedatangannya sesuai yang dipesankan oleh Ali.
"Siapakah yang akan memakai jubah ayahku?" Kata Fathimah sambil menangis.
Salman menceritakan peristiwa berkaitan dengan lelaki Yahudi tersebut, lalu Fathimah mengeluarkan jubah Rasulullah SAW, yang terdapat tujuh tambalan dengan tali serat kurma, dan menyerahkannya kepada Salman. Ia membawa jubah tersebut ke masjid dan menyerahkannya kepada Ali. Ali menerima jubah tersebut dan menciumnya, sembab matanya karena haru dan tangis. Jubah Rasulullah SAW tersebut beredar dari satu sahabat ke sahabat lainnya yang hadir, mereka menciumnya dan banyak yang menangis karena haru dan rindu kepada Nabi SAW, dan terakhir jatuh ke tangan lelaki Yahudi tersebut.
Lelaki Yahudi ini mencium dan mendekap erat jubah Nabi SAW dan berkata, "Betapa harumnya jubah ini…!!"
Dengan tetap mendekap jubah tersebut, lelaki Yahudi ini mendekat ke makam Rasulullah SAW, kemudian menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata, "Wahai Tuhanku, saya bersaksi bahwa Engkau adalah Dzat yang Esa, Tunggal dan tempat bergantung (Ash  Shomad). Dan saya bersaksi bahwa orang yang berada di kubur ini adalah Rasul-Mu dan kekasih-Mu. Saya membenarkan segala apa yang ia ajarkan! Wahai Allah, jika Engkau menerima keislamanku, maka cabutlah nyawaku sekarang juga..!!"
Tak lama kemudian lelaki Yahudi tersebut terkulai jatuh dan meninggal dunia. Ali dan para sahabat lainnya segera memandikan dan mengurus jenazah lelaki Yahudi, yang telah menjadi muslim tersebut, dan memakamkannya di Baqi'.
Lelaki Yahudi ini bukanlah termasuk sahabat Nabi SAW, tetapi kecintaan dan kerinduannya kepada Nabi  SAW tak kalah dengan para sahabat lainnya, walau ia belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Pantaslah kalau ia dimakamkan di Baqi' disandingkan dengan para sahabat beliau lainnya.

Khaulah binti Tsa'labah RA

Khaulah binti Tsa'labah adalah istri dari Aus bin Shamit, saudara dari Sahabat Ubadah bin Shamit. Suatu ketika dalam suatu perselisihan pendapat, Aus "menzhihar" Khaulah, yakni ia berkata kepada istrinya, "Engkau bagiku adalah seperti punggung ibuku..!"
Itu adalah ungkapan masyarakat Arab jahiliah yang mengharamkan dirinya untuk mempergauli istrinya, yang artinya menjatuhkan thalaq/cerai. Karena peristiwa tersebut, Khaulah mengadukan sikap suaminya kepada Nabi SAW, ia berkata kepada beliau, "Ya Rasulullah, masa mudaku telah berlalu, perutku telah keriput, aku telah tua bangka dan tidak akan bisa melahirkan anak, tetapi suamiku telah menzhiharku…!!"
Rasulullah SAW tidak bisa berkomentar banyak, kecuali menyatakan bahwa Khaulah telah haram bagi Aus, suaminya tersebut, sesuai dengan kebiasaan masa jahiliah. Memang belum ada aturan khusus tentang zhihar ini dalam Al Qur'an. Tampaknya Khaulah tidak cukup puas dengan penjelasan Rasulullah SAW, tetapi ia juga sadar bahwa tidak mungkin "memaksa" beliau memberi keputusan kalau tidak ada wahyu yang turun. Karena itu dengan gencar ia berdoa, "Ya Allah, aku mengadukan persoalanku kepada-Mu!!"
Ia terus menerus memanjatkan doanya tersebut, sampai akhirnya Rasulullah SAW memanggilnya dan menyatakan telah turun wahyu tentang persoalannya tersebut, yakni Surat al Mujadalah ayat 1 - 6. Intinya adalah zhihar itu perbuatan yang munkar dan dusta yang sangat terlarang, tetapi tidak berarti jatuhnya thalaq atau cerai seperti kebiasaan jahiliah. Hanya saja seorang suami yang terlanjur "menzhihar" istrinya tetap terlarang mempergaulinya sampai ia membayar kafarat, yakni memerdekakan budak, atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang miskin.
Ketika Nabi SAW memerintahkan Khaulah memberitahukan suaminya, Aus bin Shamit, membayar atau melaksanakan kafarat tersebut, ia berkata, "Wahai Rasulullah, ia tidak mempunyai budak untuk dibebaskan, ia juga tidak akan mampu berpuasa seperti itu karena telah tua, ia-pun tidak memiliki harta untuk memberi makan 60 orang miskin…!"
Nabi SAW tersenyum mendengar penjelasan Khaulah, dan bersabda, "Aku akan membantu separuh dari keseluruhan kurma yang harus disedekahkan suamimu..!!"
"Saya juga akan membantu separuhnya lagi, ya Rasulullah..!!" Kata Khaulah pula.
Sekali lagi Nabi SAW tersenyum. Sungguh tipikal seorang istri yang shalihah, walau ia telah "disisihkan" dan disakiti, tetap saja ia membantu kesulitan suaminya demi menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Beliau bersabda lagi, "Baiklah, sedekahkanlah itu atas nama suamimu, kemudian nasehatilah anak pamanmu (suamimu) itu, dengan nasehat yang baik (dengan menyampaikan wahyu yang turun ini)…!!"
Dalam suatu kesempatan di masa khalifah Umar, Khaulah pernah menghentikan Amirul Mukminin yang terkenal adil itu di jalan, dan berkata, "Wahai Umar, dulu akulah orang yang menjagamu di Pasar Ukazh selagi engkau sebagai Umair (Umar kecil) yang menggembala onta dengan tongkatmu. Sekarang engkau telah menjadi Umar yang bergelar Amirul Mukminin, karena itu hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dalam menangani urusan rakyat…."
Khaulah juga menambahkan berbagai macam nasehat kepada Umar sang Khalifah, yang hanya berdiri menunduk mendengarkan dengan cermat semua nasehat itu. Sampai akhirnya seorang lelaki bernama al Jarud yang menyertai Umar berkata memotong ucapannya, "Wahai perempuan, sungguh engkau telah terlalu banyak bicara kepada Amirul Mukminin…!!"
Tetapi Umar justru menyalahkan Al Jarud, katanya, "Biarkanlah dia, tahukah engkau siapa dia? Dia adalah Khaulah, yang pengaduannya didengar Allah dari atas langit yang ke tujuh, karena itu amat patut jika Umar mendengarkan nasehatnya…!!"