Rabu, 01 Oktober 2014

Uqbah bin Amr al Badri RA (Abu Mas’ud al Badri)

            Uqbah bin Amr adalah seorang sahabat Anshar yang cukup banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW. Ia juga sangat dikenal dengan nama kunyahnya Abu Mas’ud al Badri, karena memang termasuk salah seorang sahabat ahli Badar, yang di dalam Al Qur’an dijamin keselamatannya di alam akhirat kelak.  Namun demikian Abu Mas’ud pernah mengalami suatu peristiwa yang hampir mencelakakannya di akhirat, bahkan mungkin bisa membatalkan jaminan keselamatannya sebagai ahli Badar, hanya karena ia tidak mampu menahan amarahnya.
            Suatu ketika salah seorang budaknya berbuat suatu kesalahan yang memancing kemarahan dirinya. Begitu marahnya sehingga ia mencambuk sang budak tersebut. Saat  ia sedang melakukan “hukuman” itu, terdengar suara di arah belakangnya, “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud…”
            Suara itu tidak terlalu jelas karena memang dari kejauhan, dan ia belum bisa mengenali siapa yang berbicara tersebut. Ia masih saja mencambuk budaknya akibat hawa kemarahan yang meliputi dirinya. Tetapi ketika seruan yang sama makin jelas di belakangnya karena memang telah dekat, ia mengenalinya sebagai suara Rasulullah SAW. Ia berbalik menghadap beliau, dan Nabi SAW bersabda lagi, “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, sesungguhnya Allah lebih kuasa untuk menyiksa kamu, daripada siksaanmu kepada budakmu itu…!!”
            Abu Mas’ud gemetar ketakutan mendengar sabda Nabi SAW tersebut, begitu takutnya sampai cambuknya terjatuh tanpa disadarinya, dan ia berkata, “Saya tidak akan pernah memukul seorang budak setelah ini selama-lamanya!!”
            Tampak ucapannya tersebut belum meredakan ekspresi ketidak-sukaan Rasulullah SAW atas apa yang dilakukannya. Karena itu ia berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya budak ini merdeka karena Allah..!!”
            Mendengar ucapannya itu, tampak ekpresi kelegaan di wajah Nabi SAW, kemudian beliau bersabda, “Seandainya engkau tidak segera memerdekakannya (budak tersebut), niscaya kamu akan disiksa atau dibakar oleh api neraka!!”
            Inilah salah satu bentuk kasih sayang Nabi SAW terhadap umatnya, khususnya kepada Abu Mas’ud. Beliau tidak ingin seorang sahabat ahli Badar seperti dirinya harus “mencicipi” panasnya api neraka untuk sekedar menebus kedzaliman yang dilakukannya, walaupun akhirnya tetap saja ia akan masuk surga.
Suatu ketika ia datang kepada Nabi SAW meminta untuk ditunjukkan jalan keselamatan, maka beliau bersabda, "Jagalah lidahmu, dan tinggallah di rumah sambil menangis menyesali dosa-dosamu."      

Harits bin Dharar al Khuzai RA

Perjanjian Hudaibiyah merupakan perjanjian gencatan senjata antara Nabi SAW, dalam hal ini mewakili kaum muslimin di Madinah dengan kaum musyrikin di Makkah. Salah satu klausul dalam perjanjian tersebut adalah sikap terbuka untuk menerima kabilah yang ingin bergabung dengan mereka, dan kabilah Bani Khuza’ah memilih bergabung/bersekutu dengan Nabi SAW, walau mereka tetap dalam agama jahiliahnya.
Suatu ketika Harits bin Dharar, salah seorang pemuka Bani Khuza’ah menemui Nabi SAW di Madinah untuk suatu keperluan sehubungan dengan persekutuan tersebut. Setelah urusannya selesai, Nabi SAW menyerunya untuk memeluk Islam. Tampaknya hidayah Allah membuka mata hatinya dan ia menerima seruan beliau. Setelah ia berba’iat memeluk Islam, sekali lagi Nabi SAW menyerunya untuk mengeluarkan zakat, karena dia dan kabilahnya memang termasuk kaya dan berkelebihan. Sekali lagi Dhirar berikrar untuk segera menyerahkan zakatnya kepada Nabi SAW.
Setelah mengucap janjinya tersebut, Dhirar berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku untuk pulang ke kaumku, aku akan menyeru mereka untuk memeluk Islam dan menghimbaunya untuk menunaikan zakat. Siapa saja yang bersedia membayar zakatnya, akan aku kumpulkan, dan pada saat yang ditentukan, hendaklah engkau mengirim utusan untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan tersebut…!!”
Nabi SAW menyetujui permintaan Harits tersebut dan ia segera kembali ke kaumnya, Bani Khuza’ah. Setelah beberapa waktu lamanya, Harits berhasil mengajak sebagian besar kaumnya untuk memeluk Islam, termasuk juga kesediaan mereka yang mampu dan berkelebihan untuk menunaikan zakat.
Pada waktu yang ditentukan, mereka menunggu utusan Nabi SAW yang ditugaskan untuk mengambil zakat tersebut, tetapi tidak muncul, begitupun ketika ditunggu keesokan harinya. Harits berfikir bahwa Nabi SAW mungkin marah atau meragukan keislamannya. Karena itu ia mengumpulkan orang-orang kaya di kabilahnya yang telah memeluk Islam dan berkata, “Sungguh Rasulullah telah menjanjikan mengirimkan utusan pada waktu yang telah ditentukan untuk mengambil zakat yang berhasil aku kumpulkan ini. Aku yakin Rasulullah tidak akan menyalahi janjinya. Menurut dugaanku, tidak ada yang menghalangi beliau mengirim utusan kecuali karena beliau marah kepadaku. Karena itu, marilah kita berangkat ke Madinah untuk menyerahkan zakat ini langsung kepada Rasulullah ..!!”
Mereka menyetujui usulan Harits, dan segera mempersiapkan perbekalan kemudian berangkat ke Madinah.
Sebenarnya Nabi SAW tidaklah lupa atau mengingkari janji, beliau telah mengirim Walid bin Uqbah untuk datang ke Bani Khuza’ah dan mengambil zakat yang dikumpulkan Harits bin Dharar. Hanya saja di tengah perjalanan, ia dihantui oleh ketakutan dan kekhawatiran kalau Harits dan Bani Khuza’ah akan menolak dan menyakitinya. Tampaknya ia belum punya keteguhan hati dan kesediaan berkorban dalam mengemban tugas Nabi SAW. Karena itu, sebelum tiba di Bani Khuza’ah, ia melangkah pulang ke Madinah. Sayangnya lagi, Walid bin Uqbah tidak punya cukup keberanian untuk jujur kepada Nabi SAW bahwa ia dihantui ketakutan. Ketika sampai di hadapan Nabi SAW, ia berkata, “Sesungguhnya Harits menolak membayar zakatnya, bahkan ia hampir membunuh saya!!”
Mendengar laporan Walid tersebut, Nabi SAW memerintahkan sekelompok sahabat untuk menemui Harist untuk menarik zakatnya, bahkan kalau perlu memeranginya kalau ia melawan. Mereka segera berangkat, tetapi belum sampai keluar kota Madinah, mereka bertemu rombongan Harits, yang ia bertanya, “Hendak kemanalah kalian diutus Rasulullah?”
“Kami diutus untuk menemuimu!!”
“Mengapa?” Tanya Harits.
“Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah kepadamu untuk mengambil zakat kalian, dan katanya engkau menolak menyerahkannya, bahkan engkau akan membunuhnya.”
“Tidak, demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan perkara yang haq, aku tidak pernah melihatnya, dan belum pernah ia datang kepadaku..!!” Kata Harits dengan kaget dan tak percaya.
Harits dan rombongannya disertai para utusan tersebut segera menghadap Rasulullah SAW yang masih berada di masjid. Begitu melihat Harits, Nabi SAW langsung bersabda, “Kamu tidak mau membayar zakat, bahkan kamu bermaksud membunuh utusanku?”
“Tidak, ya Rasulullah,” Kata Harits, “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan perkara yang haq!!”
Tampak situasinya cukup kritis bagi Harits bin Dharar, karena Rasulullah “lebih percaya” kepada laporan yang dibuat oleh Walid bin Uqbah. Sesaat kemudian tampak Nabi SAW terdiam, tanda bahwa beliau sedang menerima wahyu. Setelah itu beliau mengabarkan kalau telah turun wahyu, yakni Surat al Hujurat ayat 6, yang membenarkan Harits.
Harist menjadi gembira, bahkan menjadi semacam kemuliaan dan kebanggan bagi dirinya, seakan-akan Allah sendiri yang turun untuk menyelamatkannya. Ia segera menyerahkan zakat yang telah dikumpulkan dan dibawanya kepada Nabi SAW, dan beliau menerimanya dengan tangan terbuka dan mendoakan keberkahan.
Beberapa waktu kemudian Nabi SAW mengirim Khalid bin Walid menuju Bani Khuza’ah, dan ia tidak mendapati mereka, kecuali selalu dalam kebaikan dan ketaatan semata.

Hubab bin Mundzir RA

Hubab bin Mundzir adalah seorang sahabat Anshar yang memiliki kecerdikan dalam strategi peperangan. Mungkin kemampuannya tersebut terbentuk ketika masih terjadi perang saudara di Madinah antara Suku Aus dan Khazraj.
Sebelum dimulainya perang Badar, Nabi SAW membawa pasukan muslim mendekati mata air Badar dan menentukan suatu tempat pertahanan bagi pasukan muslim. Ketika orang-orang muslim bersiap-siap mendirikan tenda, Hubab bin Mundzir menghampiri Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana tentang keputusan engkau berhenti dan berkemah di tempat ini, apakah ini tempat yang diturunkan Allah (sebagai wahyu) kepada engkau? Jika memang begitu keadaannya, tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini. Ataukah ini hanya pendapat, siasat dan taktik peperangan semata?”
“Tidak,” Kata Rasulullah SAW, “Ini hanya pendapatku, siasat dan taktik perang semata!!”
“Bolehkan saya memberikan pendapat, ya Rasulullah?” Kata Hubab.
Nabi SAW mengijinkannya, dan ia berkata, “Wahai Rasulullah, menurut pendapat saya, tidak tepat jika kita berhenti di tempat ini. Pindahkanlah pasukan kita ke tempat yang lebih dekat dengan mata air daripada mereka (yakni, pasukan kafir Quraisy Makkah), kita timbun mata air di belakang mereka dan kita menggali kolam dan mengalirkan air untuk kebutuhan kita. Setelah itu baru kita berperang melawan mereka. Kita bisa minum dan mereka akan kesulitan memperoleh air…!!”
Nabi SAW sangat gembira dengan usulan Hubab tersebut, beliau bersabda, “Sungguh engkau telah memberikan pendapat yang jitu…!!”
Kemudian beliau memerintahkan para sahabat untuk pindah tempat seperti disarankan oleh Hubab. Hampir separuh malam, sebagian para sahabat menggali kolam dan mengalirkan air untuk kebutuhan pasukan muslim, dan sebagian lainnya menimbun kolam yang bisa digunakan oleh pasukan kafir Makkah.
Setelah semuanya siap, pemuka sahabat Anshar lainnya, Sa’d bin Mu’adz, mengusulkan untuk membuat tenda khusus bagi Rasulullah SAW, yang akan digunakan sebagai pusat komando, dan beliau menyetujuinya dan mendoakan kebaikan bagi Sa’d. Sebuah tenda didirikan di tempat yang lebih tinggi, dan Sa’d menugaskan beberapa pemuda Anshar untuk melakukan penjagaan pada tenda Nabi SAW tersebut.
Pasukan muslimin yang dibawa Nabi SAW ke Badar sebenarnya tidak dipersiapkan untuk melakukan pertempuran. Dengan 313 orang sahabat tersebut, Nabi SAW bermaksud mencegat kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb yang baru pulang dari Syam. Tetapi dengan kepandaiannya, Abu Sufyan berhasil mengetahui rencana beliau dari mata-mata yang dikirimnya, sekaligus mengirim utusan ke Makkah untuk meminta bantuan. Maka Abu Jahal beserta tokoh-tokoh Quraisy lainnya membawa seribu orang lebih dalam pasukannya dengan persenjataan lengkap langsung menuju Badar. Abu Sufyan sendiri membelokkan kafilahnya melalui pesisir, dan berhasil melewati Madinah sebelum Nabi SAW sampai di Badar. Akhirnya pasukan muslim yang sebenarnya “tidak siap” tersebut harus berhadapan dengan pasukan Abu Jahal yang telah siap untuk bertempur dengan segala perlengkapan peperangannya.
Tetapi dengan strategi yang diusulkan Hubab bin Mundzir, semangat dan keteguhan untuk berjihad dari para sahabat, dan yang paling utama, datangnya pertolongan Allah kepada mereka, termasuk dikirimnya pasukan malaikat yang dipimpin Malaikat Jibril, akhirnya pasukan muslim berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Peristiwa yang hampir sama terjadi pada Perang Khaibar, perang melawan kaum Yahudi, yang bisa dikatakan ‘mengendalikan’ perekonomian jazirah Arabia saat itu. Khaibar adalah markas besar mereka dengan perlindungan berlapis-lapis hingga delapan benteng pertahanan. Ketika tiba di dinding luar Khaibar pada waktu subuh, Nabi SAW bersabda, “Allahu Akbar, runtuhlah Khaibar!! Allahu Akbar, runtuhlah Khaibar!! Jika kita tiba di pelataran suatu kaum, maka amat buruklah bagi orang-orang yang layak mendapat peringatan!!”
Nabi SAW memilih suatu tempat dan memerintahkan untuk bermarkas di sana, tetapi Hubab bin Mundzir mendekati beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah apakah tempat yang engkau pilih ini merupakan ketetapan Allah, atau hanya sekedar pendapat dan siasat perang!!”
Beliau bersabda, “Ini adalah pendapatku!!”
Hubab berkata, “Wahai Rasulullah, tempat ini terlalu dekat dengan benteng Nathat dan para prajurit Khaibar dipusatkan di benteng itu. Dengan begitu mereka mengetahui keadaan kita dan kita tidak mengetahui keadaan mereka, anah panah mereka bisa sampai ke tempat kita dan anak panah kita tidak bisa mencapai mereka. Kita juga tidak aman dari sergapan mereka yang dilakukan sewaktu-waktu. Di sini banyak sekali pohon kormanya, tempatnya rendah dan tanahnya kurang baik. Jika engkau berkenan, pindahkanlah markas kita ke tempat yang tidak seperti ini!!”
Beliau sangat gembira dengan pendapatnya itu dengan bersabda, “Engkau memberikan pendapat yang sangat jitu!!”
Setelah itu beliau memerintahkan pindah ke tempat lainnya, yang juga tidak terlalu jauh dari Khaibar, tetapi lebih aman dan strategis.
            Ketika Rasulullah SAW wafat, dan saat itu sempat terjadi ketegangan tentang siapa yang akan menjadi khalifah pengganti Rasulullah SAW, Hubab bin Mundzir sempat mengusulkan, bahkan setengah menuntut agar Amir atau Khalifah pengganti beliau terdiri dari dua orang, yakni seorang dari Muhajirin dan seorang dari Anshar. Alasannya sederhana, bukan karena iri atau gila kekuasaan, tetapi ia hanya khawatir, jika Amir hanya dari golongan Muhajirin saja, mereka akan menuntut balas kepada orang-orang Anshar, karena dalam pertempuran bersama Rasulullah SAW, mereka banyak membunuh kerabat orang-orang Muhajirin. Ketika ternyata khalifah yang diusulkan adalah Abu Bakar, yang telah sangat dikenal kedudukan dan kebaikannya di sisi Rasulullah SAW, ia menarik lagi usulannya tersebut.

Lelaki Najd yang Bahagia (akan Masuk Surga)

            Seorang lelaki dari daerah Najd yang telah memeluk Islam, datang menghadap Nabi SAW, yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Lelaki tersebut rambutnya terurai tidak terawat, ia berbicara tetapi susah dimengerti walaupun terdengar suaranya. Ketika telah dekat dengan Nabi SAW, ia mengucap salam kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang harus saya lakukan dalam Islam?”
            Nabi SAW bersabda, “Shalat wajib lima kali sehari semalam..!!”
            “Apakah bagi saya ada kewajiban shalat lainnya?” Tanya lelaki itu.
            “Tidak ada,’ Kata beliau, “Kecuali jika kamu ingin mengerjakan shalat sunnah!!”
            Nabi SAW bersabda lagi, “Dan kamu harus berpuasa di Bulan Ramadhan!!”
            “Apakah bagi saya ada kewajiban puasa lainnya?” Tanya lelaki itu lagi.
            “Tidak ada,’ Kata beliau, “Kecuali jika kamu ingin mengerjakan puasa sunnah!!”                         
            Nabi SAW kemudian menjelaskan kepadanya tentang kewajiban zakat jika mampu, termasuk perincian-perinciannya.
            “Apakah bagi saya ada kewajiban zakat lainnya?” Tanya lelaki itu lagi.
            “Tidak ada,’ Kata beliau, “Kecuali jika kamu ingin memberikan shadaqah!!”
            Ia menunggu beberapa saat, dan Nabi SAW tidak menjelaskan lagi sesuatu yang harus ia kerjakan. Kemudian ia berkata, “Demi Allah, saya tidak akan menambah atau mengurangi dari apa yang ditentukan ini…!!”
            Ia pamit kepada Nabi SAW dan berlalu pergi. Beliau memandangnya sampai agak jauh kemudian bersabda, “Berbahagialah jika ia benar (dengan ucapannya tersebut)…!!”
            Maksudnya adalah, jika lelaki tersebut hanya melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut dengan benar dan istiqomah, yakni tanpa menguranginya, dan ia tidak menambahnya dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah, atau amalan-amalan lainnya, cukuplah bagi Rasulullah SAW untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaannya di akhirat kelak, yakni akan masuk surga.
            Pada riwayat lain yang hampir senada, seorang lelaki Badui datang menghadap Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya tentang amal perbuatan, yang apabila saya mengerjakannya, niscaya saya masuk surga.”
            Nabi SAW bersabda, “Hendaknya engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan (apabila mampu), dan berpuasa di bulan Ramadhan…!!”
            Lelaki Badui tersebut berkata, “Demi Dzat yang jiwa saya dalam genggamanNya, sungguh saya tidak akan menambah ketentuan itu..!!”
            Kemudian ia pamit kepada Nabi SAW dan berlalu pergi. Setelah lelaki Badui tersebut agak jauh, beliau bersabda, “Barang siapa yang ingin melihat seseorang yang termasuk ahli surga, maka lihatlah orang Badui itu.”

Rafi bin Mu'alla az Zuraqi RA

            Rafi bin Mu'alla az Zuraqi, atau nama kunyahnya Abu Sa'id, adalah seorang sahabat Anshar. Suatu ketika di dalam masjid, Nabi SAW mendekatinya dan berkata, "Maukah engkau kuberitahu tentang surat yang paling istimewa dalam Al Qur'an, sebelum engkau nantinya keluar dari masjid..!!"
"Baiklah, ya Rasulullah..!!"
Beberapa sahabat lainnya berdatangan, dan beliau disibukkan dengan berbagai pertanyaan dan melayani  para sahabat lainnya. Setelah mereka semua berangsur habis, Nabi SAW memegang tangan Rafi bin Mu'alla dan menuntunnya keluar. Rafi sendiri menunggu akan apa yang diucapkan Nabi SAW, tetapi beliau sendiri tampaknya tidak akan mengucapkan sesuatu.
Mendekati pintu masjid, Rafi berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tuan tadi berjanji akan memberitahukan kepada saya tentang surat yang paling istimewa dalam al Qur'an!!"
            Nabi SAW memandangnya sesaat, entah beliau lupa atau memang beliau ingin "mengetes" keberanian sahabat ini, kemudian dengan tersenyum beliau bersabda, "Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, as sab'ul matsaani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang, yakni al Fatihah)  dan al Qur'anul 'azhiim yang diturunkan kepadaku…!!"

Barirah RA

            Barirah adalah budak milik Utbah (atau Uqbah) bin Abu Lahab, salah satu putra Abu Lahab yang akhirnya memeluk Islam setelah Fathul Makkah (Sebagian riwayat menyebutkan Utaibah bin Abu Lahab yang memeluk Islam, sedang Utbah meninggal diserang singa di Syam, karena didoakan oleh Nabi SAW akibat penghinaannya kepada beliau yang sangat keterlaluan). Barirah berkulit hitam karena berasal dari Habsyi seperti halnya Bilal bin Rabah dan telah memeluk Islam, hanya saja ia tetap diperlakukan dengan baik oleh tuannya. Ia tetap tinggal di Makkah ketika Nabi SAW dan para kaum muslimin hijrah ke Madinah.    
Ketika menjadi budak tersebut, ia dinikahkan tuannya dengan budak lainnya yang bernama Mughits yang juga beragama Islam. Walaupun sebenarnya tidak menyukainya terpaksa ia menerima pernikahan ini, sebagai budak ia memang hanya bisa menerima keputusan tuannya. Akibatnya Barirah menjalani kehidupan rumah tangganya dengan  jiwa tertekan. Sebaliknya, Mughits sangat gembira karena ia memang sangat menyukai Barirah.
Keadaan kejiwaan Barirah ini akhirnya diketahui oleh Ummul Mukminin, Aisyah RA yang tinggal di Madinah. Aisyah mengirim utusan untuk membeli Barirah dan kemudian memerdekakannya. Tetapi Barirah memutuskan untuk tinggal dan menjadi pembantu Aisyah, walau sebenarnya ia telah merdeka, karena itu ia pergi ke Madinah. Atas ijin tuannya, Mughits menyertai kepergian istrinya itu ke Madinah, walau sebenarnya Barirah tidak menginginkannya.
Sesampainya di Madinah, Barirah menghadap Nabi SAW dan menyampaikan permasalahannya. Nabi SAW memberikan pilihan bebas kepada Barirah karena telah menjadi orang merdeka, ia bisa meneruskan pernikahannya dengan Mughits atau meninggalkannya (bercerai). Barirah mengambil pilihan kedua, yakni cerai sesuai dengan keadaan kejiwaannya, dan Nabi SAW memerintahkannya beriddah.
Sebaliknya bagi Mughits, keputusan Barirah tersebut ternyata membuatnya tenggelam dalam kesedihan, walau memang ia tidak mungkin menolak keputusan yang ditetapkan oleh Nabi SAW. Namun demikian ia tidak putus asa untuk meluluhkan hati Barirah. Dalam masa iddah tersebut ia menghiba dan memohon kepada Barirah agar tetap menjadi istrinya. Air matanya selalu mengalir hingga membasahi jenggotnya sehingga menimbulkan iba dan kasihan pada orang-orang di sekelilingnya.
Nabi SAW pernah berkata kepada pamannya, Abbas, "Wahai Abbas, tidakkah engkau heran dengan kecintaan Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits??"  
Suatu ketika Nabi SAW bertemu Barirah dan bersabda kepadanya, "Wahai Barirah, seandainya kamu kembali kepada Mughits…!!"
"Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan hal itu kepada saya?" Tanya Barirah.
Kalau saja itu memang perintah Rasulullah SAW, yang artinya adalah perintah Allah, tentu Barirah dengan senang hati akan memenuhinya walau mungkin bertentangan dengan suara hatinya. Tetapi Nabi SAW bersabda, "Tidak, aku hanya memberikan pertolongan/usulan semata!"
"Maaf, ya Rasulullah!!" Kata Barirah, "Saya sudah tidak menghajatkan (menginginkan) masalah pernikahan  ini lagi…!!"
Setelah itu Barirah membaktikan waktunya untuk melayani dan membantu Aisyah, walau ia bukan budaknya. Ketika Aisyah dilanda fitnah yang dikenal dengan dengan istilah Haditsul Ifki (berita bohong), ia bersaksi dengan tegas bahwa Aisyah dalam kebenaran dan tidak mungkin melakukan perbuatan keji yang dituduhkan dan disebarkan oleh kaum munafik.
Barirah pernah bertemu dengan Abdul Malik bin Marwan, yang di kemudian hari menjadi salah seorang khalifah dari Bani Umayyah. Saat pertemuan itu ia berkata, "Wahai Abdul Malik, aku melihat anda sebagai orang yang berkepribadian, dan anda layak memegang urusan kaum muslimin ini. Jika anda diangkat untuk memegang urusan kaum muslimin (yakni sebagai khalifah), janganlah anda menumpahkan darah, karena aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya seseorang ditolak/diusir dari pintu surga setelah ia melihat keindahan surga tersebut, hanya karena semangkuk darah seorang muslim yang ditumpahkannya dengan cara tidak benar…!!"
Apa yang dikatakan Barirah tersebut seakan sebuah "ramalan" dan nasehat, karena di kemudian hari Abdul Malik bin Marwan ternyata menjabat sebagai khalifah. Dan terlepas dari bertanggung jawab langsung atau tidak, cukup banyak darah  kaum muslimin yang tertumpah dengan cara tidak benar pada masa pemerintahannya, termasuk beberapa orang sahabat Nabi SAW.

Anas bin Malik RA

            Siapapun yang sedang membaca atau mempelajari kitab-kitab Hadist Nabi SAW, pastilah akan menemukan nama sahabat yang satu ini, karena ia termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits-hadits dari beliau. Tidak heran, karena sejak awal Nabi SAW menginjakkan kakinya di Madinah, ibunya, Ummu Sulaim (Rumaisha binti Milhan) menyerahkan anaknya yang masih kecil tersebut (sebagian riwayat menyebutkan, saat itu usianya belum 10 tahun) untuk menjadi pelayan Nabi SAW, dan beliau menerimanya dengan gembira. Dan Anas bin Malik terus menjadi pelayan Nabi SAW hingga beliau berpulang ke Rahmatullah. 
Sebelum kehadiran Islam di Madinah, keluarga Anas bin Malik diliputi kebahagiaan, kedua orang tuanya, Rumaisha binti Milhan dan Malik bin Nadhar termasuk pasangan yang ideal walaupun mereka masih saudara sepupu, hidupnya rukun tanpa diwarnai pertengkaran. Tetapi ketika cahaya Islam mulai menyinari Madinah, saat itu Nabi SAW belum berhijrah dan Agama Islam didakwahkan oleh utusan beliau, Mush'ab bin Umair dengan didampingi salah satu tokoh Madinah, As'ad bin Zurarah, rumah tangga orang tuanya mulai goncang. Ibunya, yang lebih dikenal  dengan nama Ummu Sulaim ternyata mengikuti dakwah dua orang tersebut dan memeluk Islam tanpa diketahui oleh ayahnya.
Ketika Malik bin Nadhar mengetahui keislamannya, ia sangat marah, tetapi keyakinan Ummu Sulaim sudah sangat menguat. Suaminya berkata, "Apakah engkau sudah murtad?"   
"Aku tidak murtad, tetapi justru aku telah beriman…!!" Kata Ummu Sulaim.
Saat itu Ummu Sulaim sedang bersama putra kesayangannya, Anas, yang segera saja ia merengkuhnya dan berkata, "Wahai Anas, ucapkanlah : Asyhadu an laa ilaaha illallaah…!!" 
Anas mengikuti perintah ibunya mengucap syahadat tersebut dengan lancar. Ayahnya berkata, "Janganlah engkau merusak keyakinan anakku!!"
"Aku tidak merusaknya," Kata Ummu Sulaim, "Bahkan aku akan mengajar dan mendidiknya…!"
Kemudian Ummu Sulaim berpaling lagi kepada putranya dan berkata, "Ucapkanlah : Asyhadu anna muhammadar rasulullah…!!"
Sekali lagi Anas mengikuti perintah ibunya dan mengulang ucapan tersebut dengan lancar. Ayahnya makin marah melihat sikap ibunya tersebut, dan ia mengancam akan meninggalkannya. Tetapi keyakinan Ummu Sulaim seakan tidak bergeming, bahkan ia terus mengajari Anas untuk mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut berulang-ulang. Kemarahan Malik bin Nadhar makin memuncak dan akhirnya meninggalkan rumah, meninggalkan istri dan anak-anaknya. Sebagian riwayat menyebutkan ia pergi ke Syam dan meninggal di sana, dan riwayat lain menyatakan ia bertemu dengan musuh lamanya dan terbunuh dalam suatu perkelahian. 
Tentu ada kesedihan pada diri Ummu Sulaim dan anak-anaknya, terutama pada diri Anas yang masih kecil, kehilangan ayah yang menjadi pilar keluarganya, dan juga kebahagiaan keluarganya yang dahulu dinikmatinya. Apalagi kemudian mereka mendapat kabar kalau ayahnya telah meninggal. Tetapi tidak ada kenikmatan yang lebih baik dan lebih utama daripada kenikmatan merasakan manisnya keimanan, mungkin itu yang dirasakan Ummu Sulaim, dan itu membuatnya tetap tegar menjalani kehidupan. 
Ketika Nabi SAW telah hijrah dan tinggal di Madinah, Ummu Sulaim menemui beliau dan menawarkan anak kesayangannya, Anas bin Malik menjadi pelayan beliau, dan beliau menerimanya dengan senang hati. Beliau juga mendoakannya atas permintaan ibunya, "Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan juga anak-anaknya, serta berkahilah ia di dalamnya…!!"
Doa Nabi SAW ini dikabulkan Allah, Anas berumur panjang dan hartanya melimpah ruah, tetapi ia tetap hidup dalam kezuhudan sesuai dengan contoh dari Rasulullah SAW. Beberapa orang anak dan cucunya telah meninggal sementara ia tetap dalam keadaan sehat dan selalu dalam kesalehannya.
Anas bin Malik memang bukan satu-satunya pelayan Nabi SAW, ada beberapa sahabat lainnya yang membaktikan hidupnya untuk melayani Rasulullah SAW seperti Bilal bin Rabah, Rabi'ah bin Ka'b, dan lain-lainnya. Tetapi ia memiliki kebiasaan unik, ia selalu bergegas menampung dan mengambil air bekas mandi Rasulullah SAW, lalu air tersebut digunakannya sendiri untuk mandi. Ia juga selalu mengumpulkan rambut-rambut Rasulullah yang terjatuh/ rontok, sebagaimana beberapa sahabat lainnya melakukannya, termasuk Khalid bin Walid, kemudian berpesan kepada orang-orang di sekitarnya agar rambut-rambut beliau tersebut disertakan/dimasukkan ke dalam kafannya kalau ia telah meninggal dan akan dikuburkan, termasuk surban Rasulullah SAW.
Anas bin Malik juga terjun dalam berbagai medan jihad bersama Rasulullah SAW, tentunya tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai pelayan beliau, apalagi saat hidupnya Nabi SAW usianya memang masih sangat muda. Setelah wafatnya Nabi SAW, barulah ia bisa terjun dengan maksimal di medan jihad, di samping ia memang sudah cukup dewasa. Di masa Umar bin Khatthab, ketika ia mengikuti pasukan yang mengepung benteng Tustar, ia seolah-olah  berada di ujung tanduk, sudah berada di pintu kematiannya. Tetapi karena Rasulullah SAW telah mendoakannya untuk berusia panjang, maka ada saja jalan yang menyelamatkannya.
Pasukan Persia yang mempertahankan kota Tustar menggunakan besi panas berkait untuk menyerang pasukan muslim yang mengepungnya. Tentara muslim yang terkena kaitan akan diangkat ke atas benteng dan dibunuh. Saat itu Anas bin Malik terkena kaitan besi panas tersebut dan mulai ditarik ke atas. Melihat keadaan tersebut, saudara Anas, Barra' bin Malik, yang memang bertubuh kecil tetapi mempunyai semangat dan kekuatan jihad yang luar biasa, meminta beberapa orang untuk melemparkannya ke arah kaitan besi panas yang membawa saudaranya tersebut. Gambarannya mungkin seperti aksi cheerleader yang melemparkan salah satu temannya pada struktur teratas. Barra' berhasil merengkuh kaitan besi, walau tangannya melepuh tidak diperdulikannya lagi. Ia berhasil melepaskan Anas dari kaitan tersebut dan menjatuhkan diri di kumpulan pasukan muslim, dan mereka berdua selamat. 
Selama sepuluh tahun menjadi pelayan Nabi SAW, yakni sepanjang hidup beliau di Madinah, seolah-olah ia menjadi putra Nabi SAW sendiri, dilimpahi kasih sayang dan pendidikan akhlak yang berbasis wahyu dan kenabian. Tidak heran kalau ia menjadi salah seorang sahabat yang ilmunya melimpah. Kita yang sering membaca dan mempelajari hadits-hadits Nabi SAW tentulah tidak asing dengan nama sahabat Anas bin Malik ini. 
Sahabat Abu Hurairah pernah berkata, "Aku tidak melihat seseorang yang shalatnya lebih mirip dengan shalatnya Rasulullah SAW kecuali shalatnya putra Ummu Sulaim (yakni, Anas bin Malik)…"
Ketika Anas bin Malik meninggal, yakni pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah sekitar tahun 90-an hijriah, para ulama pada masa itu berkata, "Telah hilang dari kita separuh dari ilmu…!!"
Anas bin Malik pernah didatangi seorang lelaki yang memberitahukan kalau daerahnya dilanda kekeringan  dan tanahnya sangat gersang. Ia mendatangi daerah tersebut, kemudian berwudhu dan shalat dua rakaat di suatu tanah lapang yang tandus, kemudian memanjatkan doa. Atas ijin Allah, beberapa saat kemudian awan datang berarak dan turun hujan di tempat itu. Padahal saat itu adalah musim panas.
            Hal yang paling berkesan baginya tentang Nabi SAW, diungkapkan dalam perkataannya, "Selama sepuluh tahun saya berkhidmad kepada Rasulullah SAW, saya tidak pernah melihat beliau memukul seorang pelayan ataupun seorang wanita. Beliau juga tidak pernah menegur (atau mempertanyakan) : Apa yang engkau lakukan? Mengapa engkau lakukan? Mengapa engkau tidak lakukan ini? Mengapa engkau tidak tinggalkan itu?"