Minggu, 09 November 2014

Abu Rafi RA, Maula Rasulullah SAW

           Pada masa jahiliahnya, Abu Rafi adalah budak milik Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW. Ketika Islam mulai didakwahkan di Makkah, Abbas dan istrinya, Ummu Fadhl sebenarnya telah memeluk Islam, tetapi mereka menyembunyikan keislamannya. Abu Rafi ikut dengan kedua tuannya itu memeluk Islam, dan menyembunyikan keislamannya juga. Karena itu, ketika Nabi SAW menghimbau kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah, mereka tetap tinggal di Makkah.
            Usai Perang Badar, ketika Ummu Fadhl dan Abu Rafi duduk-duduk di pinggiran Ka’bah, sedang Abbas mengikuti perang Badar dan tertawan oleh pasukan muslim, datanglah Abu Lahab yang memang tetap tinggal di Makkah karena sakit. Ia menyeret kakinya yang tampak lemah, kemudian duduk di pinggiran Ka’bah dan menyandarkan punggungnya di punggung Abu Rafi yang sedang bekerja membuat anak panah.
            Tidak berapa lama, datang beberapa orang pasukan Quraisy yang mengalami kekalahan di Perang Badar, salah satunya adalah Abu Sufyan bin Harits, dan Abu Lahab memanggilnya untuk menceritakan keadaan. Ibnu Harits duduk di sebelah Abu Lahab dan berkata, “Saat kami berhadapan dengan sekelompok orang, seolah-olah kami menyerahkan diri kepadanya. Mereka menyerang dan menawan kami sekehendak hatinya tanpa kami bisa melawannya. Tetapi, demi Allah, aku tidak bisa mencela siapapun. Kami harus berhadapan dengan orang-orang yang berpakaian putih yang menunggangi kuda-kuda yang perkasa, yang berseliweran antara langit dan bumi, dan kuda-kuda itu sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun dan tidak menginjak apapun…”
            Mendengar cerita Abu Sufyan bin Harits tersebut Abu Rafi sangat gembira. Beberapa kali ia hadir di majelis pengajaran Nabi SAW di rumah Arqam bin Abil Arqam di bukit Shafa secara sembunyi-sembunyi, dan ia mengetahui siapa yang diceritakan oleh Ibnu Harits tersebut. Begitu gembiranya sampai ia tidak sadar kalau sebenarnya masih menyembunyikan keislamannya, dan berada di lingkungan kaum Quraisy yang baru kalah perang dengan kaum Muslim. Tiba-tiba saja ia berteriak gembira, “Demi Allah, itu adalah para malaikat yang membantu orang-orang muslim!!”
            Abu Lahab yang sedih mendengar cerita Abu Sufyan bin Harits itu, seketika mengangkat tangannya dan memukul wajah Abu Rafi. Ketika ia mencoba melawan, Abu Lahab membanting tubuhnya dan mendudukinya sambil memukulinya tanpa ampun. Seolah-olah ia ingin melampiaskan kekesalan hatinya kepada Nabi SAW kepada Abu Rafi.
            Melihat pemandangan seperti itu Ummu Fadhl menjadi marah. Walaupun Abu Rafi hanya budaknya, tetapi ia adalah saudaranya sesama Islam. Ia bangkit mengambil tiang pembatas Zamzam dan memukulkannya dengan keras ke kepala Abu Lahab, sambil berkata, “Engkau berani menyiksa orang ini selagi tuannya tidak ada!!”
            Kepala Abu Lahab luka menganga cukup parah, dan ia segera meninggalkan Abu Rafi. Akibat luka tersebut, hampir di seluruh tubuhnya muncul borok-borok bernanah, suatu penyakit yang orang-orang Arab sangat jijik melihatnya. Ketika tujuh hari kemudian Abu Lahab meninggal, mereka membiarkannya begitu saja mayatnya dan tidak menguburkannya. Mereka begitu jijik untuk mendekatinya. Tetapi karena takut terjadi akibat yang lebih buruk jika tidak dikuburkan, mereka menggali lubang tak jauh dari situ, kemudian mendorong tubuhnya dengan kayu hingga jatuh ke dalam lubang tersebut. Untuk menguruknya, mereka melemparkan batu-batu dari kejauhan hingga hampir penuh, baru menimbunnya dengan tanah.
            Di kemudian hari, Abu Rafi dihadiahkan Abbas kepada Rasulullah SAW, dan beliau memerdekakannya, karena itu ia dikenal dengan sebutan maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah SAW. Namun demikian Abu Rafi memilih tetap untuk berkhidmad kepada Nabi SAW, menjadi pembantu dan melayani kebutuhan beliau ketika diperlukan, sebagaimana beberapa sahabat lainnya.
            Pernah terjadi suatu pemasalahan dalam rumah tangga Rasulullah SAW sehingga beliau “meninggalkan” istri-istri beliau selama hampir satu bulan. Beliau tidak pulang kepada mereka, tetapi menyendiri di suatu tempat bersama Abu Rafi saja. Masalah tersebut dipicu oleh kecemburuan Hafshah binti Umar yang terlalu berlebihan. Umar mengunjungi beliau yang hanya ditemani Abu Rafi, dan meminta maaf atas sikap putrinya tersebut. Umar sempat menangis melihat keadaan mereka berdua yang sangat menyedihkan itu, tetapi beliau hanya tersenyum dan menghiburnya.
            Suatu ketika setelah shalat ashar, Abu Rafi diajak Rasulullah SAW mengunjungi Bani Asyhal dari suku Aus. Beliau berbincang-bincang dengan para sahabat Anshar di sana hingga mendekati Maghrib. Kemudian beliau kembali ke masjid, tetapi ketika melewati pemakaman Baqi, tiba-tiba Nabi SAW bersabda, “Celaka kamu, celaka kamu!!”
            Abu Rafi menjadi cemas dan langkahnya melambat hingga tertinggal agak jauh dari Nabi SAW. Ia khawatir telah melakukan kesalahan sehingga beliau mengutuknya. Dalam kegalauannya tersebut Nabi SAW menyerunya, “Ada apa denganmu? Ayo jalan terus!!”
            Abu Rafi mendekat dan berkata, “Apa saya melakukan suatu kesalahan, ya Rasulullah?”
            “Memangnya kenapa?” Kata Nabi SAW.
            “Engkau tadi mengatakan kalau saya celaka!!” Kata Abu Rafi dengan agak takut.
            Nabi SAW tersenyum, kemudian bersabda, “Oh, bukan engkau yang aku maksudkan. Tetapi si Fulan bin Fulan yang ada di dalam kubur itu. Aku pernah menugaskan dia memungut zakat pada suatu kabilah, ternyata ia mencuri pakaian bulu dari sana. Dan sekarang ia menerima balasannya dengan siksa kubur!!”

Seorang Lelaki dan Budak-budaknya

            Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW, setelah duduk di hadapan beliau, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya memiliki beberapa orang budak yang membohongi saya, mengkhianati dan menentang saya. Karena itu saya mencela dan memukul mereka. Bagaimanakah hubungan saya dengan mereka??”
            Nabi SAW menatap lelaki tersebut dengan tajam, kemudian bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan dihitung (dihisab) apa yang mereka khianati, apa yang mereka tentang pada dirimu, dan apa yang mereka dustakan. Kemudian Allah juga akan menghitung (menghisab) celaanmu dan hukumanmu atas mereka. Jika apa yang engkau lakukan itu sesuai dengan kadar dosa yang mereka lakukan, maka itu cukup, engkau tidak akan mendapatkan apa-apa (yakni pahala) dan tidak pula mendapat dosa. Tetapi bila hukumanmu melebihi kadar dosa mereka, maka aku akan menuntut qishas darimu atas kelebihan itu…!!”
            Lelaki yang duduk terpekur itu langsung memekik dan menangis mendengar penjelasan Nabi SAW tersebut. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya di yaumul hisab kelak, apalagi kalau ternyata Nabi SAW bukannya memberikan syafaat, justru malah menuntutnya karena kedzalimannya dalam menangani budak-budaknya.
            Rasulullah SAW berkata lagi, “Tidak pernahkan kamu membaca firman Allah : Dan Kami letakkan timbangan-timbangan keadilan pada hari kiamat sehingga seseorang tidak akan didzalimi sedikitpun, meskipun itu seberat biji atom (dzarrah), tentu Kami akan mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai penghisab!!”
            Lelaki tersebut makin tenggelam dalam tangisan kesedihannya, dan hanya satu jalan yang mungkin bisa menyelamatkannya. Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah mendapatkan alasan apapun untuk berpisah dengan mereka (kecuali hal ini), maka saksikanlah, ya Rasulullah, bahwa mereka semua aku merdekakan…!!”
            Nabi SAW tersenyum dan gembira mendengar keputusan lelaki tersebut, dan mendoakannya dengan kebaikan.

Haritsah bin Nu’man RA

            Haritsah bin Nu’man adalah seorang sahabat Anshar dari Bani Najjar, masih termasuk kerabat Nabi SAW dari garis ibu, Aminah binti Wahb yang juga berasal dari Bani Najjar. Kabilah Bani Najjar ini tinggal di sekitar Masjid Nabawy, bahkan masjid tersebut dibangun di atas tanah milik Bani Najjar yang telah dibeli oleh Nabi SAW. Haritsah sendiri termasuk sahabat yang cukup berada dan memiliki beberapa rumah di sekitar Masjid Nabawy. 
Orang yang paling disayangi Rasulullah SAW adalah putrinya, Fathimah az Zahrah. Tetapi setelah pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib, putrinya tersebut tinggal agak jauh dari rumah Rasulullah SAW, yang berada di samping Masjid Nabawy. Akibatnya beliau agak “kerepotan” jika beliau sedang rindu dengan putri kesayangannya tersebut. Suatu ketika Nabi SAW mengunjungi Fathimah dan berkata, “Aku ingin memindahkan engkau ke dekatku!!”
            Tentu saja Fathimah amat gembira dengan rencana Rasulullah SAW, ia berkata, “Berbicaralah dengan Haritsah bin Nu’man agar ia pindah!!”
            Fathimah sangat mengenal kedermawanan Haritsah, karena itu ia menyarankan hal tersebut. Tetapi Nabi SAW bersabda, “Haritsah telah pindah (beberapa kali demi kepentingan Nabi SAW dan Islam) hingga aku merasa malu kepadanya…!!”
            Rencana tinggal rencana karena Nabi SAW tidak sampai hati untuk menyampaikan hal itu kepada Haritsah. Tetapi pembicaraan Rasulullah SAW dengan putrinya tersebut akhirnya menyebar, dan akhirnya sampai ke telinga Haritsah, maka ia datang kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendengar berita bahwa engkau ingin memindahkan Fathimah ke dekat engkau. Inilah rumah-rumahku, ini adalah rumah-rumah pertama yang kupersembahkan kepada engkau dari (atas nama) Bani Najjar. Sesungguhnya aku dan hartaku adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya harta yang engkau ambil dariku, jauh lebih aku sukai daripada yang engkau sisakan/tinggalkan (untukku)…!!”
            Nabi SAW memandang Haritsah dengan penuh kasih sayang, dan bersabda, “Engkau benar, semoga Allah memberkahimu!!”
            Kemudian Nabi SAW memindahkan Fathimah dan keluarganya ke rumah Haritsah yang berdekatan dengan tempat tinggal beliau. Haritsah sendiri pindah ke rumahnya yang lain yang agak berjauhan dengan Masjid Nabawy, dan itu menambah kegembiraannya karena bisa membaktikan hartanya untuk kepentingan Nabi SAW.

Hisyam bin Ash RA

Hisyam bin Ash RA adalah adik dari Amr bin Ash, tetapi kalau kakaknya tersebut gencar memusuhi Nabi SAW pada awal Islam didakwahkan di Makkah, ia termasuk dalam kelompok awal sahabat yang memenuhi seruan Nabi SAW untuk memeluk Islam. Kelompok as Sabiqunal Awwalun yang mendapat jaminan keselamatan dari Allah, radhiyallaahu ‘anhum wa radhuu ‘anhu (Allah ridha kepada mereka dan mereka juga ridha kepada Allah, QS At Taubah 100).    
Hisyam bin Ash ikut serta dalam kelompok muhajirin pertama, yakni yang berhijrah ke Habasyah. Ketika Amr bin Ash menjadi utusan kaum Quraisy kepada Raja Najasyi, misinya untuk mengembalikan Kaum Muhajirin tersebut ke Makkah mengalami kegagalan, tetapi ia berhasil memperdaya adiknya tersebut dan membawanya kembali ke Makkah. Di Makkah, Hisyam dipenjarakan oleh ayahnya, tetapi beberapa waktu kemudian dilepaskan lagi, tetapi dalam pengawasan ketat kaum kerabatnya sehingga ia tidak leluasa menemui Nabi SAW dan kaum muslimin lainnya.
Ketika Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Madinah, Hisyam berencana berangkat bersama Umar bin Khaththab dan Ayyasy bin Rabiah (sebagian riwayat menyebut Iyyasy). Tetapi ia dihalangi oleh kaum Quraisy dan lagi-lagi dipenjarakan, bahkan kali ini diikuti dengan siksaan demi siksaan yang tak terperikan. Sebagian riwayat menyebutkan, ia dipaksa murtad dan sempat mengikuti kemauan mereka karena beratnya siksaan. Tetapi sepertinya ia ‘tidak tahan” untuk hidup dalam kekafiran, karena itu kembali ia menyatakan keislamannya, dan tentu saja ia kembali mengalami siksaan dan pemenjaraan, namun hatinya terasa lebih tentram dan tidak lagi merasakan beratnya siksaan yang ditimpakan kaum Quraisy.
Akan halnya Ayyasy bin Abi Rabiah, setelah tiba di Madinah bersama Umar dan beberapa sahabat lainnya, Abu Jahal dan saudaranya Harits bin Hisyam menyusulnya dan memberitahukan kalau ibunya bernadzar tidak akan menyisir rambutnya dan tidak akan berteduh dari sinar matahari sebelum melihat anaknya tersebut. Ayyasy sangat sedih dan kasihan kepada ibunya mendengar berita tersebut. Walaupun Umar mengingatkannya bahwa semua itu hanya akal-akalan Abu Jahal, tetapi ia tetap kembali ke Makkah karena kecintaannya kepada ibunya. Tetapi ternyata benar perkiraan Umar, di tengah perjalanan ia diperdaya dan kemudian diikat. Sesampainya di Makkah ia langsung dipenjarakan bersama Hisyam bin Ash, sama sekali tidak dipertemukan dengan ibunya.
Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepada para sahabat yang sedang berkumpul, “Siapakah yang sanggup mempertemukan aku dengan Ayyasy (bin Abi Rabiah) dan Hisyam (bin Amr)??”
Walid bin Walid, yakni saudara Khalid bin Walid yang telah memeluk Islam sejak awal didakwahkan, berkata, “Wahai Rasulullah, sayalah yang akan membawa keduanya ke hadapan engkau!!”
Setelah berpamitan kepada Nabi SAW, Walid segera memacu untanya menuju Makkah. Ia memasuki kota Makkah dengan sembunyi-sembunyi, dan secara kebetulan ia bertemu dengan wanita yang ditugaskan mengantar makanan untuk Hisyam dan Ayyasy. Iapun mengikuti wanita tersebut, hingga mengetahui tempat penahanan keduanya, yakni sebuah rumah tanpa atap, tetapi pintunya dikunci dengan kuat.
Ketika keadaan sepi dan aman, Walid memanjat tembok rumah tersebut untuk memasukinya. Setelah melepaskan ikatan yang membelenggu Hisyam dan Ayyasy, ketiganya keluar dengan memanjat tembok juga, dan meninggalkan Makkah dengan menunggang unta milik Walid yang memang cukup kuat, sehingga mampu membawa tiga orang tersebut hingga sampai di Madinah dengan selamat.
Sebagian riwayat menceritakan, ketika Hisyam terpaksa murtad akibat tekanan dan siksaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy, ia merasa dunianya runtuh dan tidak ada jalan lagi baginya kepada keislaman. Apalagi kaum Quraisy “memprovokasi” bahwa Nabi SAW dan para sahabat di Madinah telah mengetahui kemurtadannya, dan mereka telah menghalalkan darahnya. Kemudian turun wahyu Allah, QS az Zumar ayat 53-55, yang intinya larangan untuk berputus asa dari rahmat Allah dan anjuran segera bertaubat. Umar bin Khaththab mengirim seseorang dengan sembunyi-sembunyi untuk menemui Hisyam bin Ash, mengabarkan tentang ayat tersebut. Akhirnya Hisyam mengikuti utusan Umar ini ke Madinah, dan ia kembali menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW.
Sejak tinggal di Madinah bersama dengan Nabi SAW, Hisyam hampir tak pernah tertinggal dalam berbagai pertempuran, baik bersama atau tidak dengan Rasulullah SAW. Semangat jihadnya begitu tinggi untuk memperoleh predikat syahid, dan itu tetap berlanjut ketika Nabi SAW telah wafat.
Pada pertempuran untuk menaklukan Ajnadin, suatu kota yang dikuasai oleh imperium Romawi, Hisyam berjuang bersama dengan kakaknya, Amr bin Ash. Serangan pasukan muslim sempat mengalami kebuntuan karena pasukan Romawi membuat pertahanan dengan parit yang diisi dengan bara api. Melihat keadaan ini, Hisyam berteriak untuk membangkitkan semangat, “Wahai kaum muslimin, ayolah maju bersama Hisyam, apakah kalian ingin lari dari Surga??”
Setelah itu Hisyam melompat dengan kudanya untuk menyeberangi parit api tersebut. Tetapi malang, kudanya terjerembab dan jatuh ke parit berapi beserta Hisyam. Amr bin Ash mengamati keadaannya adiknya, dan tampaknya ia telah menemui syahidnya. Tiba-tiba Amr berkata, “Hisyam telah menemui syahidnya, dan jadikanlah tubuhnya untuk menyeberang…!!”
Karena Amr bin Ash adalah komandan pasukan muslim tersebut, kaum muslimin mematuhi perintahnya tersebut. Kuda dan tubuh Hisyam bin Ash dijadikan pijakan sehingga akhirnya mereka semua berhasil menyeberangi parit api tersebut dan memerangi pasukan Romawi sehingga mereka kocar-kacir melarikan diri. Kota Ajnadin pun jatuh ke tangan pasukan muslim. Usai pertempuran, Amr bin Ash mengumpulan potongan-potongan tubuh Hisyam yang berserakan, dan membungkusnya dengan kain kemudian memakamkannya. Sambil matanya berkaca-kaca, ia berkata, “Sungguh, Hisyam lebih hebat daripada diriku..!!”

Seorang Pemuda yang Qana’ah

            Nabi SAW mengirimkan beberapa sahabat ke Yaman untuk menyeru kabilah-kabilah di sana kepada Islam, dan sebagian besar menerima dakwah para sahabat tersebut, salah satunya adalah kabilah Tujib. Beberapa waktu kemudian, kabilah Bani Tujib ini mengirimkan utusan sebanyak tigabelas orang kepada Nabi SAW di Madinah. Tujuannya untuk mengukuhkan keislaman mereka di hadapan beliau, sekaligus menyerahkan shadaqah dari kelebihan harta yang mereka miliki.
            Setibanya di Madinah, mereka disambut gembira oleh Nabi SAW. Setelah beberapa hari tinggal untuk mempelajari Al Qur’an dan beberapa ajaran-ajaran Islam langsung dari Nabi SAW, mereka berpamitan. Seperti biasanya, beliau memberi perbekalan dan hadiah yang lebih baik kepada mereka. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian semua telah memperoleh perbekalan dan bingkisan yang cukup?”
            Mereka membenarkan, tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seorang pemuda tinggal di dalam kemah, ia sedang menjaga tunggangan-tunggangan kami. Ia yang paling muda di antara kami yang datang…!!”
            “Panggillah dia kesini,” Kata Nabi SAW.
            Pemuda itu didatangkan, dan Nabi SAW telah mempersiapkan hadiah sebagaimana teman-temannya. Setelah mengucapkan salam, pemuda itu berkata, “Demi Allah, tidak ada sesuatu yang membuatku sibuk tentang utusan negeriku (sehingga aku tidak membutuhkan apapun). Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada yang mendorongku keluar rumah menuju engkau, kecuali agar engkau mendoakan aku agar Allah mengampuni dan merahmati aku, dan menjadikan hatiku merasa selalu berkecukupan (Dalam riwayat lain dengan maksud yang sama : ...dan menjadikan kekayaanku ada di dalam hatiku)…!!”
            Nabi SAW menatap pemuda tersebut penuh kekaguman. Tidak biasanya seorang pemuda yang emosinya masih labil dan jiwanya penuh gejolak memiliki sikap seperti itu, yang pantasnya dimiliki oleh orang-orang yang telah matang usianya. Tetapi jelas ada kegembiraan Nabi SAW mendengar permintaan pemuda tersebut, dan segera saja beliau mendoakan seperti permintannya. Dan tentu saja kalau Nabi SAW telah mendoakan, pastilah Allah akan mengabulkannya.
            Peristiwa tersebut terjadi pada tahun sembilan hijriah. Setahun kemudian pada tahun sepuluh hijriah, ketika sedang berlangsungnya Haji Wada, Nabi SAW bertemu lagi dengan mereka beserta orang-orang Bani Tujib lainnya, tetapi beliau tidak menemukan pemuda yang “nyeleneh” (dalam arti kebaikan) tersebut. Ketika beliau menanyakan tentang dirinya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, kami tidak pernah melihat orang seperti dirinya. Tidak ada orang yang begitu qana’ah (merasa cukup) terhadap rezeki Allah seperti dia. Jika semua orang bertaburkan harta dunia di sekelilingnya, ia sama sekali tidak perduli, bahkan tidak sedikitpun meliriknya…!!”
            Lagi-lagi terpancar sinar kekaguman dan ketakjuban di wajah Rasulullah SAW, tampak sekali kalau beliau begitu bahagia mendengar berita tentang pemuda tersebut. Kemudian beliau bersabda, “Alhamdulillah, sungguh saya berharap agar ia mati seluruhnya…!!”
            Perkataan Nabi SAW yang mengandung “teka-teki”tersebut, memancing pertanyaan salah satu dari mereka, “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu jika mati, maka mati pula semuanya?”
            Nabi SAW bersabda, “Hawa nafsu dan kepedihan-kepedihannya tercerai-berai di berbagai bukit dunia, dan boleh jadi ajalnya hanya diketahui di sebagian bukit itu. Tetapi Allah tidak perduli dimana ia akan binasa/ meninggal (karena ia tetap menjadi orang kecintaan-Nya)…!!”
            Ketika Nabi SAW wafat dan cukup banyak orang yang murtad, pemuda itu tetap teguh dalam keimanan dan qana’ahnya. Bahkan ia aktif mengingatkan kaumnya, menasehati dan memerintahkan mereka untuk tetap teguh hati dalam keislaman walaupun Nabi SAW telah tiada.

Ma’bad bin Abu Ma’bad al Khuzai RA

            Ma’bad bin Abu Ma’bad adalah seorang sahabat dari Bani Khuzai, suatu kabilah yang sejak masa jahiliah telah menjalin perjanjian persahabatan dengan Bani Hasyim, kabilah Nabi SAW sendiri. Ia memutuskan memeluk Islam tidak lama setelah selesainya Perang Uhud.
            Walaupun dalam perang Uhud, kaum muslimin lebih banyak mengalami kerugian dan korban jiwa, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa kaum kafir Quraisy memenangkan pertempuran tersebut. Bahkan Abu Sufyan yang memutuskan terlebih dahulu untuk meninggalkan medan Perang Uhud, setelah kaum muslimin mulai bisa menyatukan kekuatan, langsung di bawah komando Nabi SAW.
            Tetapi, hanya semalam tinggal di Madinah sepulangnya dari Uhud, Nabi SAW langsung menggerakkan pasukan yang sama untuk mengejar pasukan kaum Quraisy. Dalam pemikiran beliau, ada kekhawatiran pasukan Quraisy akan kembali dan menyerang Madinah. Kalau itu terjadi, akan sangat merugikan karena beban psikologis dan kesedihan penduduk Madinah sedang berat-beratnya. Dengan inisiatif menyerang, maka semangat perjuangan akan tetap terjaga. Karena itulah beliau melarang siapapun yang tidak ikut serta dalam perang Uhud sebelumnya, untuk mengikuti pengejaran tersebut, kecuali beberapa sahabat yang bermaksud menggantikan saudara atau kerabat mereka yang telah gugur di Uhud, misalnya Jabir bin Abdullah.
            Ketika pasukan muslim berhenti dan bermarkas di Hamra’ul Asad, sekitar duabelas kilometer di luar kota Madinah, muncul Ma’bad bin Abu Ma’bad al Khuzai. Ia menghadap Nabi SAW untuk memeluk Islam. Setelah mengucapkan syahadat, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami (yakni orang-orang Quraisy) merasa hebat karena telah berhasil menimpakan bencana kepada sahabat-sahabat engkau di Uhud. Namun demikian saya berharap Allah masih memberikan afiat kepada engkau….!!”
            Nabi SAW memerintahkan Ma’bad untuk menyembunyikan keislamannya terlebih dahulu, dan menyusul pasukan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan, untuk mengetahui apa yang sedang mereka rencanakan. Bahkan kalau mungkin, mengacaukan dan melemahkan mereka.
            Ternyata apa yang dikhawatirkan Nabi SAW tidaklah salah. Ketika singgah di ar Rauha’, sekitar limapuluh kilometer dari Madinah, terjadi pembicaraan dan perdebatan di antara pasukan kaum kafir Quraisy, dan mayoritas memutuskan untuk kembali dan menyerang Madinah. Pendapat Shafwan bin Umayyah yang menolak usulan tersebut diabaikan begitu saja. Tetapi belum sampai pasukannya bergerak ke arah Madinah, muncullah Ma’bad yang memang dikenal baik oleh Abu Sufyan, dan tentunya belum diketahui kalau ia telah memeluk Islam. Abu Sufyan berkata, “Wahai Ma’bad, apa yang terjadi di belakangmu?”
            Mendapat pertanyaan tersebut, Ma’bad langsung melancarkan strategy “Psy-War”-nya, ia berkata, “Muhammad bersama rekan-rekannya pergi mencari kalian dalam jumlah yang tidak pernah kulihat sebanyak itu. Mereka meradang dan marah kepada kalian, orang-orang yang belum bergabung sebelumnya kini telah bergabung bersamanya. Rupanya mereka menyesal tidak ikut perang Uhud, dan kini akan menuntut balas. Yang jelas, jumlah mereka sangat banyak…!!”
            “Celaka kau ini, apa yang engkau katakan itu??’ Kata Abu Sufyan.
            “Demi Allah, menurut pendapatku, lebih baik kalian segera pulang sebelum mereka memergoki buntut pasukan ini..” Kata Ma’bad lagi.
            Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kami telah sepakat untuk kembali dan menyerang Madinah hingga kami dapat membinasakan mereka…!!”
            “Janganlah kalian lakukan itu…Itulah nasehatku..!!” Kata Ma’bad.
            Mendengar penjelasan Ma’bad yang begitu meyakinkan, mayoritas pasukan Quraisy jadi turun semangatnya. Walau Abu Sufyan masih berkeras untuk kembali dan menyerang Madinah, tetapi kini mereka berbalik menentangnya dan mendukung pendapat Shafwan bin Umayyah, yakni kembali ke Makkah dan “menikmati” kemenangan dalam Perang Uhud tersebut.
            Ma’bad mengikuti rombongan pasukan Abu Sufyan kembali ke Makkah. Beberapa waktu kemudian ia diam-diam datang ke Madinah dan bergabung bersama Rasulullah SAW dan saudara-saudara seagamanya, meninggalkan saudara dan kerabatnya yang masih dalam kekafiran.


Seorang Wanita Anshar dan Anaknya

            Seorang wanita Anshar hanya tinggal berdua dengan anak lelaki satu-satunya, tidak ada saudara atau kerabat lainnya yang mereka miliki. Kemungkinan besar, suami dan kerabat lainnya dari wanita ini telah gugur sebagai syuhada, sebagaimana sebagian besar sahabat Anshar yang mengorbankan jiwa dan harta mereka di jalan Allah. Membaktikan hidupnya untuk membela Nabi SAW dan kejayaan Islam hingga akhirnya bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia.
            Suatu ketika anak muda Anshar tersebut sakit parah beberapa waktu lamanya. Anas bin Malik dan beberapa sahabat lainnya menjenguknya. Saat itu sakitnya makin parah, bahkan ia dalam keadaan sakaratul maut sehingga para sahabat menungguinya sehingga nyawanya telah benar-benar kembali ke rahmat Allah. Mereka menutupkan kain ke wajah pemuda tersebut.
            Tiba-tiba datanglah ibu dari pemuda tersebut, mendekati tempat tidur anaknya. Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai ibu, berpasrahlah engkau kepada keputusan Allah, dan mengharaplah pahala dari-Nya…!!”
            “Apakah anakku sudah mati?” Tanya perempuan itu.
            “Ya…!!” Kata mereka.
            “Benarkah apa yang kalian katakan??” Tanya perempuan itu lagi.
            “Benar..!!” Kata mereka, menegaskan.
            Wanita Anshar itu menghadapkan wajah ke kiblat kemudian mengangkat tangan, dan berdoa, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku pasrah kepada-Mu, dan berhijrah kepada Rasul-Mu Muhammad SAW, dengan harapan Engkau akan menolongku dalam setiap kesulitan. Ya Allah, janganlah Engkau timpakan musibah ini pada hari ini…!!”
            Kemudian wanita tersebut membuka kain yang telah ditutupkan para sahabat ke wajah anaknya, memandang dan menyentuhnya dengan penuh kasih sayang.
Tidak lama berselang, sebelum para sahabat meninggalkan rumah itu, tampak wanita Anshar tersebut dan anaknya tengah makan bersama. Mereka akhirnya kembali, kemudian ikut makan bersama ibu dan anaknya tersebut dengan perasaan takjub.