Rabu, 01 Oktober 2014

Hubab bin Mundzir RA

Hubab bin Mundzir adalah seorang sahabat Anshar yang memiliki kecerdikan dalam strategi peperangan. Mungkin kemampuannya tersebut terbentuk ketika masih terjadi perang saudara di Madinah antara Suku Aus dan Khazraj.
Sebelum dimulainya perang Badar, Nabi SAW membawa pasukan muslim mendekati mata air Badar dan menentukan suatu tempat pertahanan bagi pasukan muslim. Ketika orang-orang muslim bersiap-siap mendirikan tenda, Hubab bin Mundzir menghampiri Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana tentang keputusan engkau berhenti dan berkemah di tempat ini, apakah ini tempat yang diturunkan Allah (sebagai wahyu) kepada engkau? Jika memang begitu keadaannya, tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini. Ataukah ini hanya pendapat, siasat dan taktik peperangan semata?”
“Tidak,” Kata Rasulullah SAW, “Ini hanya pendapatku, siasat dan taktik perang semata!!”
“Bolehkan saya memberikan pendapat, ya Rasulullah?” Kata Hubab.
Nabi SAW mengijinkannya, dan ia berkata, “Wahai Rasulullah, menurut pendapat saya, tidak tepat jika kita berhenti di tempat ini. Pindahkanlah pasukan kita ke tempat yang lebih dekat dengan mata air daripada mereka (yakni, pasukan kafir Quraisy Makkah), kita timbun mata air di belakang mereka dan kita menggali kolam dan mengalirkan air untuk kebutuhan kita. Setelah itu baru kita berperang melawan mereka. Kita bisa minum dan mereka akan kesulitan memperoleh air…!!”
Nabi SAW sangat gembira dengan usulan Hubab tersebut, beliau bersabda, “Sungguh engkau telah memberikan pendapat yang jitu…!!”
Kemudian beliau memerintahkan para sahabat untuk pindah tempat seperti disarankan oleh Hubab. Hampir separuh malam, sebagian para sahabat menggali kolam dan mengalirkan air untuk kebutuhan pasukan muslim, dan sebagian lainnya menimbun kolam yang bisa digunakan oleh pasukan kafir Makkah.
Setelah semuanya siap, pemuka sahabat Anshar lainnya, Sa’d bin Mu’adz, mengusulkan untuk membuat tenda khusus bagi Rasulullah SAW, yang akan digunakan sebagai pusat komando, dan beliau menyetujuinya dan mendoakan kebaikan bagi Sa’d. Sebuah tenda didirikan di tempat yang lebih tinggi, dan Sa’d menugaskan beberapa pemuda Anshar untuk melakukan penjagaan pada tenda Nabi SAW tersebut.
Pasukan muslimin yang dibawa Nabi SAW ke Badar sebenarnya tidak dipersiapkan untuk melakukan pertempuran. Dengan 313 orang sahabat tersebut, Nabi SAW bermaksud mencegat kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb yang baru pulang dari Syam. Tetapi dengan kepandaiannya, Abu Sufyan berhasil mengetahui rencana beliau dari mata-mata yang dikirimnya, sekaligus mengirim utusan ke Makkah untuk meminta bantuan. Maka Abu Jahal beserta tokoh-tokoh Quraisy lainnya membawa seribu orang lebih dalam pasukannya dengan persenjataan lengkap langsung menuju Badar. Abu Sufyan sendiri membelokkan kafilahnya melalui pesisir, dan berhasil melewati Madinah sebelum Nabi SAW sampai di Badar. Akhirnya pasukan muslim yang sebenarnya “tidak siap” tersebut harus berhadapan dengan pasukan Abu Jahal yang telah siap untuk bertempur dengan segala perlengkapan peperangannya.
Tetapi dengan strategi yang diusulkan Hubab bin Mundzir, semangat dan keteguhan untuk berjihad dari para sahabat, dan yang paling utama, datangnya pertolongan Allah kepada mereka, termasuk dikirimnya pasukan malaikat yang dipimpin Malaikat Jibril, akhirnya pasukan muslim berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Peristiwa yang hampir sama terjadi pada Perang Khaibar, perang melawan kaum Yahudi, yang bisa dikatakan ‘mengendalikan’ perekonomian jazirah Arabia saat itu. Khaibar adalah markas besar mereka dengan perlindungan berlapis-lapis hingga delapan benteng pertahanan. Ketika tiba di dinding luar Khaibar pada waktu subuh, Nabi SAW bersabda, “Allahu Akbar, runtuhlah Khaibar!! Allahu Akbar, runtuhlah Khaibar!! Jika kita tiba di pelataran suatu kaum, maka amat buruklah bagi orang-orang yang layak mendapat peringatan!!”
Nabi SAW memilih suatu tempat dan memerintahkan untuk bermarkas di sana, tetapi Hubab bin Mundzir mendekati beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah apakah tempat yang engkau pilih ini merupakan ketetapan Allah, atau hanya sekedar pendapat dan siasat perang!!”
Beliau bersabda, “Ini adalah pendapatku!!”
Hubab berkata, “Wahai Rasulullah, tempat ini terlalu dekat dengan benteng Nathat dan para prajurit Khaibar dipusatkan di benteng itu. Dengan begitu mereka mengetahui keadaan kita dan kita tidak mengetahui keadaan mereka, anah panah mereka bisa sampai ke tempat kita dan anak panah kita tidak bisa mencapai mereka. Kita juga tidak aman dari sergapan mereka yang dilakukan sewaktu-waktu. Di sini banyak sekali pohon kormanya, tempatnya rendah dan tanahnya kurang baik. Jika engkau berkenan, pindahkanlah markas kita ke tempat yang tidak seperti ini!!”
Beliau sangat gembira dengan pendapatnya itu dengan bersabda, “Engkau memberikan pendapat yang sangat jitu!!”
Setelah itu beliau memerintahkan pindah ke tempat lainnya, yang juga tidak terlalu jauh dari Khaibar, tetapi lebih aman dan strategis.
            Ketika Rasulullah SAW wafat, dan saat itu sempat terjadi ketegangan tentang siapa yang akan menjadi khalifah pengganti Rasulullah SAW, Hubab bin Mundzir sempat mengusulkan, bahkan setengah menuntut agar Amir atau Khalifah pengganti beliau terdiri dari dua orang, yakni seorang dari Muhajirin dan seorang dari Anshar. Alasannya sederhana, bukan karena iri atau gila kekuasaan, tetapi ia hanya khawatir, jika Amir hanya dari golongan Muhajirin saja, mereka akan menuntut balas kepada orang-orang Anshar, karena dalam pertempuran bersama Rasulullah SAW, mereka banyak membunuh kerabat orang-orang Muhajirin. Ketika ternyata khalifah yang diusulkan adalah Abu Bakar, yang telah sangat dikenal kedudukan dan kebaikannya di sisi Rasulullah SAW, ia menarik lagi usulannya tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar