Senin, 24 Maret 2014

Alqamah dan Ibunya R.huma

Alqamah adalah seorang pemuda yang rajin ibadah dan sangat gemar shadaqah. Ia cukup rajin hadir di majelis pengajaran Nabi SAW. Suatu ketika ia mengalami sakit keras, keadaannya sangat memprihatinkan dan ia sangat menderita. Istrinya sangat kasihan melihat keadaannya ini, karena itu ia mengirim seorang utusan kepada Nabi SAW untuk memberitahukan keadaan suaminya. Bagaimanapun juga Rasulullah SAW adalah "guru" Alqamah, karena itu beliau perlu tahu keadaan "muridnya" ini, begitu pikir istrinya.
Utusan tersebut menemui Nabi SAW dan memberitahukan pesan istrinya, "Ya Rasulullah, suami saya, Alqamah sedang sakit keras, mungkin sakaratul maut, dan saya ingin memberitahukan keadaannya kepada engkau."
Mendapat pemberitahuan ini, beliau berkata kepada Bilal, Ali, Salman al Farisi dan Ammar bin Yasir, "Pergilah kalian ke rumah Alqamah, perhatikanlah bagaimana keadaannya…!!"
Mereka berempat menuju rumah Alqamah sesuai perintah beliau. Tiba disana, mereka mengetahui kalau Alqamah dalam keadaan sakaratul maut (naza'), mereka membimbing Alqamah dengan kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah, sebagaimana pernah diajarkan Nabi SAW (laqqinu mautikum bi laa ilaaha illallah).
Tetapi sungguh mengherankan, seseorang yang rajin ibadah, sedekah dan belajar di majelis Nabi SAW, dibimbing oleh sahabat-sahabat Nabi SAW yang tidak diragukan lagi keutamaan dan kesalehannya, ternyata mulut Alqamah seakan terkunci, tak mampu mengucapkan kalimat tauhid tersebut. Padahal sehari-harinya kalimat itu menjadi bagian dari dzikrnya. Ia berusaha keras membuka mulutnya untuk mengucapkannya seperti dibimbingkan para sahabat tersebut, tetapi susah payah ia berusaha, hanya ucapan-ucapan yang tidak jelas yang keluar dari mulutnya. Karena berbagai upaya dilakukan untuk membimbing Alqamah gagal, mereka mengutus Bilal untuk mengabarkan keadaannya itu kepada Nabi SAW.
Mendengar pemaparan Bilal tentang Alqamah, Nabi SAW bersabda, "Apakah ia (Alqamah) masih memiliki ayah dan ibu?"
Salah seorang sahabat memberi jawaban, "Ayahnya telah meninggal, dan ia hanya mempunyai seorang ibu yang telah tua..!!"
Nabi SAW menyuruh Bilal menemui ibunya Alqamah untuk menyampaikan salam beliau, dan berkata kepadanya, "Wahai Ummu Alqamah, jika kamu mampu untuk berjalan, maka datanglah kepada Rasulullah SAW. Dan jika tidak mampu, tunggulah sampai beliau datang kepadamu…!!"
Bilal mendatangi ibunya Alqamah, menyampaikan salam beliau dan pesan beliau tersebut. Sang ibu berkata, "Diriku menjadi tebusan bagi Rasulullah SAW, akulah yang sepantasnya menghadap beliau dan bukan beliau yang datang kemari menemui aku…!!"
Kemudian ia mengambil tongkatnya, dan tertatih-tatih mengikuti Bilal menghadap Nabi SAW. Setibanya di sana, ia mengucap salam dan duduk menghadap Nabi SAW. Beliau berkata, "Wahai Ummu Alqamah, berkatalah yang jujur kepadaku karena jika engkau bohong, akan turun wahyu dari Allah kepadaku (untuk memberitahukan kebohonganmu itu). Bagaimana keadaan Alqamah?"
Sang ibu berkata, "Wahai Rasulullah, dia rajin shalat, puasa, berjihad, bershadaqah yang jumlah dan banyaknya tidak ada yang mengetahuinya (yakni, sedekah sirri)…!!"
Nabi SAW bersabda lagi, "Bagaimana hubunganmu dengannya?"
Mendengar pertanyaan ini, wajahnya menjadi berubah. Ingin sekali ia menyembunyikan apa yang dirasakannya, tetapi beliau telah memerintahkan untuk tidak berbohong. Maka ia berkata, "Aku sedang sangat marah kepadanya, ya Rasulullah..!!"
"Mengapa demikian?" Kata beliau.
Ibunya berkata lagi, "Ia lebih mementingkan dan mengutamakan istrinya daripada saya. Dalam banyak hal, ia lebih patuh kepada istrinya dan durhaka kepada saya..!!" Terasa sekali nada kemarahan dalam ucapannya tersebut.
Nabi SAW berpaling kepada khalayak yang hadir dan bersabda, "Kemarahan ibunya inilah yang menghalangi Alqamah mengucap kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah…!!"
Beliau berpaling lagi kepada ibunya Alqamah dan berkata, "Maukah engkau memaafkan dan ridha kepada putramu itu?"
Sekali lagi ibunya Alqamah dalam kebimbangan. Tetapi beliau melarangnya berbohong, perasaan sakit dan marah dalam hatinya itu masih saja mengganjal. Karena itu ia berkata, "Untuk saat ini, aku belum bisa memaafkannya, ya Rasulullah..!!"
"Benarkah?" Kata Nabi SAW, menegaskan.
Sang ibu mengangguk, walau dengan ragu-ragu. Maka Nabi SAW berpaling kepada Bilal dan sahabat lainnya, kemudian bersabda, "Pergilah, dan kumpulkan kayu bakar yang banyak, agar aku bisa membakar Alqamah dengan api..!!"
Wajah sang Ibu segera saja berubah, tampak sekali ada ketakutan dan kekhawatiran menggelayut. Sang ibu segera berkata, "Wahai Rasulullah, anakku, buah hatiku, Alqamah akan engkau bakar di hadapanku? Bagaimana dengan perasaanku, ya Nabiyallah..!!"
Benarlah kata pepatah, kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan, atau sepanjang masa. Bagaimanapun marahnya kepada Alqamah, rasa keibuan dan kasih sayangnya muncul juga mendengar "ancaman" yang disampaikan Nabi SAW kepada anaknya tersebut, dan itu yang memang diinginkan beliau dengan sabda beliau seperti itu.
Nabi SAW bersabda, "Wahai Ummu Alqamah, siksaan Allah itu lebih keras dan lebih kekal, karena itu lebih baik kalau aku membakarnya di dunia ini. Apabila engkau ingin agar Allah mengampuninya, engkau harus ridho kepadanya. Demi Dzat yang jiwaku ada di dalam genggaman-Nya, shalat, shadaqah dan semua amalannya tidak akan bermanfaat sama sekali selama engkau masih murka kepadanya…!!"
Ibunya Alqamah mengangkat kedua tangannya dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku mempersaksikan kepada Allah yang di langit, dan kepada engkau, ya Rasulullah, serta semua orang yang ada di sini, bahwa aku telah ridho kepada anakku, Alqamah…!!"
Nabi SAW lega dengan keputusan sang ibu ini, semua yang hadir juga mengucap syukur. Nabi SAW bersabda kepada Bilal, "Wahai Bilal, datanglah kepada Alqamah, lihatlah, apakah ia telah bisa mengucap : Laa ilaaha illallah, siapa tahu Ummu Alqamah mengungkapkan semua ini tidak setulus hati, hanya karena malu kepada aku..!!"
Bilal bergegas ke rumah Alqamah. Setibanya di sana, ia melihat Alqamah telah bisa mengucap kalimat tauhid tersebut, walaupun tidak secara khusus dibimbing untuk mengucapkannya. Bilal berkata kepada orang-orang yang hadir di sana, "Ketahuilah, kemurkaan ibunya itulah yang membuat Alqamah tidak bisa mengucap syahadat, dan kerelaan ibunya pula yang telah melepaskan lidahnya untuk bisa mengucapkan syahadat..!!"
Pada hari itu juga Alqamah meninggal dunia dengan khusnul khotimah. Rasulullah SAW datang ke rumahnya dan memerintahkan orang-orang untuk memandikan dan mengkafaninya, kemudian beliau menyalatkannya. Sewaktu berdiri di tepi kuburnya, beliau bersabda, "Wahai shahabat Muhajirin dan Anshar, barang siapa yang mengutamakan istrinya daripada ibunya, ia akan mendapat kutukan Allah, amal ibadahnya, yang fardhu dan yang sunnah tidak akan diterima!"

7 komentar:

  1. maaf, kisah palsu

    BalasHapus
  2. hadis yang mungkar.
    https://www.youtube.com/watch?v=EHdhMsxhuX8

    BalasHapus
  3. Ass.Wr.Wb. Kisah ini seringkali disampaikan para ulama ketika menjelaskan tentang 'Birrul Walidain) dan juga tercantum dalam banyak kitab yang diajarkan di ponpes salafiyah (NU Khususnya),di antaranya Kitab Irsyadul Ibad ilal Sabilil Rasyad oleh Syeh Zainuddin bin Ali al Ma'bari al Malibari, Kitab Qabasat min Hayat Ar Rasul oleh Syeh Ahmad Muhammad al Assaf, dan banyak kitab lainnya. Wallahu A'lam, Wass.Wr.Wb.

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatu... maaf kalau memberikan salam janganlah di singkat,karena ucapan salam itu doa apabila di singkat maknanya akan salah...

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Maaf, ini kisah shahih atau cuma karangan?

    BalasHapus
  7. Kisah ni tidak sohih tu...

    BalasHapus