Kamis, 05 April 2012

Abdullah bin Zaid al Anshari RA


Pada masa Khalifah Umar, ketika sekelompok pasukan kembali dari medan pertempuran, Abdullah bin Zaid  masuk ke masjid, kemudian Umar memanggilnya dan bertanya tentang kabar yang dibawanya, ia berkata, "Sesungguhnya aku membawa berita, ya Amirul Mukmimin…" 
Abdullah bin Zaid menceritakan bahwa dalam suatu pertempuran tengah berlangsung, ada sekelompok sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang sempat melarikan diri dari perang, dan mereka jadi sedih ketika melihat Umar. Mendengar ceritanya itu, Umar berkata, "Janganlah kalian bersedih hati, wahai kaum muslimin. Sesungguhnya kalian adalah dalam kumpulanku."
Umar menghibur mereka yang bersedih, antara lain adalah Mu'az al Qary. Umar juga menjelaskan kepada sahabat Sa'ad bin Ubaid, bahwa pada jaman Nabi SAW pernah terjadi seorang sahabat mundur dari pertempuran dan beliau memakluminya. Dan setelah berlalu beberapa waktu lamanya, Nabi SAW menggelari sahabat tersebut al Qari, karena prestasi dan kemampuannya dalam hal Al Qur’an.  
Abdullah bin Zaid adalah salah satu sahabat yang mengikuti perang Badar (Ahlu Badar). Ketika terjadi penyerbuan kota Madinah oleh pasukan Yazid bin Muawiyah pada Bulan Dzulhijjah tahun 36 hijriah, Amir para sahabat Anshar, yaitu Abdullah bin Hanzhalah memba'iat orang-orang Madinah atas maut. Ketika hal ini dilaporkan kepada Abdullah bin Zaid, ia berkata, "Aku tidak berba'iat kepada siapapun untuk mati, sepeninggal Rasulullah SAW."
Walau penyerangan kota Madinah sangatlah dilaknat, tetapi bagi Abdullah bin Zaid, ia tidak ingin ‘berjuang’ mati-matian karena yang mereka hadapi adalah masih sesama saudara muslim. Ia lebih mengedepankan ishlah, perbaikan hubungan dengan mereka itu. Hanya saja, ternyata kemudian pasukan Yazid bin Muawiyah tersebut sangatlah dzalim dan kejamnya. Banyak sekali penduduk Madinah, bahkan termasuk ratusan atau mungkin ribuan sahabat Nabi SAW ikut dibantai oleh pasukan dari Syam tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar