Kamis, 17 Mei 2012

Muhayyishah & Huwayyishah R.Huma


Muhayyishah dan Huwayyishah dua orang sahabat yang masih bersaudara, Keduanya adalah putra Mas'ud bin Zaid. Muhayyishah memeluk Islam terlebih dahulu daripada saudaranya yang lebih tua itu.. Suatu ketika ia mendengar Nabi SAW bersabda, "Siapa saja orang Yahudi yang dapat kalian kalahkan, maka bunuhlah dia!"
Suatu ketika Muhayyishah bertemu dengan Ibnu Syaibah, seorang pedagang Yahudi yang bergaul dan berjual beli dengan keluarganya. Teringat akan sabda Nabi SAW, iapun menyerang Ibnu Syaibah dan berhasil membunuhnya. Huwayyishah yang saat itu belum memeluk Islam, langsung memukul saudaranya dan berkata, "Wahai musuh Allah, engkau telah membunuhnya! Ketahuilah, demi Allah, lemak yang ada dalam perutmu bisa jadi berasal dari hartanya."
Mendengar penuturan saudaranya ini, Muhayyishah dengan tegas berkata, "Demi Allah! Jika Muhammad (SAW) menyuruhku untuk membunuhmu, pasti aku akan memancung kepalamu dengan pedangku ini!"
Sungguh suatu kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya yang tidak perlu diragukan lagi. Tetapi sebaliknya merupakan suatu sikap yang sangat tidak diduga oleh Huwayyishah, ia bertanya dengan bimbang, "Engkau akan membunuhku, jika saja Muhammad menyuruhmu melakukan itu?"
"Tentu saja! Demi Allah, aku akan melakukannya!!" Kata Muhayyishah tanpa ragu-ragu.
Ketegasan sikapnya ini ternyata menjadi jalan hidayah bagi Huwayyishah, ia berkata, "Demi Allah! Agama yang bisa membuat umatnya mencapai taraf seperti itu adalah agama yang mengagumkan!"
Dan iapun memeluk Islam mengikuti jejak saudaranya.

Mundzir bin Uqbah bin Amr RA


Mundzir bin Uqbah bin Amr termasuk dari tujuhpuluh sahabat huffadz Qur’an yang dikirimkan Rasulullah SAW untuk mendakwahkan Islam kepada Penduduk Najd dan sekitarnya. Ketika pimpinan rombongan, Mundzir bin Amr menetapkan untuk berhenti di Bi’r Ma’unah, ia ditugaskan menggembalakan unta-unta bersama Amr bin Umayyah adh Dhamry, hingga mereka berdua sebenarnya lolos dari pembantaian yang dilakukan oleh Amir bin Thufail terhadap sahabat-sahabat yang hafal Al Qur'an tersebut.
Dari tempat penggembalaannya, mereka berdua melihat burung pemakan bangkai melayang di udara di atas perkemahannya, salah seorang berkata, "Sesuatu yang buruk telah terjadi, mari kita kembali ke perkemahan menemui teman-teman kita…"
Mereka bergegas kembali, dan dari kejauhan tampak para sahabat telah terkapar tak bernyawa dikelilingi para pembunuh yang pedangnya masih meneteskan darah. Langkah mereka terhenti, Amr mengajak kembali ke Madinah untuk mengabarkan peristiwa tersebut, tetapi Mundzir tidak setuju, ia berkata, "Cepat atau lambat, berita ini akan sampai juga kepada Nabi SAW, aku tidak rela meninggalkan sahabat kita terbaring nyenyak dalam keadaan ‘nyaman’, tanpa kita berjuang dan syahid bersama mereka, ayolah Amr! Kita maju dan berjuang menyusul mereka yang telah syahid.."
Amr menyambut ajakan Mundzir, mereka berdua menyerang para pembunuh kejam tersebut sehingga terjadi pertempuran hebat yang tidak berimbang. Mundzir akhirnya gugur sebagai syahid, sedangkan Amr ditawan.

Selasa, 01 Mei 2012

Muawiyah bin Haidah RA


Muawiyah bin Haidah telah bersumpah berkali-kali bahwa ia tidak akan mendatangi Rasulullah SAW  dan tidak akan memeluk Islam. Tetapi memang kehendak Allah berbicara lain, percik-percik hidayah menyentuh kalbunya, yang kemudian memaksa langkahnya untuk menemui Nabi SAW. Ia berkata, "Wahai Rasullullah, aku tidak datang kepadamu sampai aku bersumpah dengan sumpah yang lebih banyak daripada jumlah jari tangan, bahwa aku tidak akan mendatangimu dan agamamu. Tetapi kini aku datang juga kepadamu sebagai seseorang yang tidak faham apapun, kecuali apa yang diajarkan Allah kepadaku. Maka aku bertanya kepadamu demi wajah Allah Yang Maha Besar, dengan apakah Tuhan mengutusmu kepada kami?"
            Nabi SAW bersabda, “Benar!!”
Kemudian beliau menjelaskan dengan gamblang tentang Islam, kewajiban-kewajibannya, keimanan akan alam akhirat, dan lain-lainnya sehingga akhirnya Muawiyah memeluk Islam pada saat itu juga.

Aisyah binti Abu Bakar RA, Ummul Mukminin


Aisyah binti Abu Bakar RA merupakan istri yang paling dicintai Nabi SAW setelah Khadijah RA, dan satu-satunya wanita yang dinikahi Nabi SAW dalam keadaan gadis. Ia mendapat panggilan kesayangan dari Nabi SAW, Khumaira, artinya, yang pipinya kemerah-merahan. Ia adalah seorang wanita yang cerdas, sehingga setelah Nabi SAW wafat, banyak sahabat yang bertanya kepada Aisyah tentang berbagai permasalahan.
Aisyah dinikahi Nabi SAW ketika ia masih berusia 6 tahun di Makkah, dan mulai berkumpul dengan beliau ketika berusia 9 tahun di Madinah. Riwayat lainnya menyebutkan, ia dinikahi Nabi SAW pada usia 9 tahun, dan berkumpul dengan beliau pada usia 11 tahun. Ketika Nabi SAW wafat, Aisyah baru berusia 18 tahun. Ia lahir pada tahun ke 4 kenabian, dan wafat pada usia 66 tahun, malam selasa tanggal 17 Ramadhan tahun 57 Hijriah.
Awal mula pernikahan ini, adalah ketika Khaulah binti Hakim menemui Nabi SAW beberapa waktu setelah meninggalnya Khadijah RA. Ia menanyakan kesediaan Nabi SAW untuk menikah lagi, dan ia memberikan pandangan, jika janda, adalah Saudah binti Zam'ah bin Qais, dan jika gadis, adalah Aisyah binti Abu Bakar. Nabi SAW menyerahkan urusan ini pada Khaulah. Ketika Khaulah menemui orang tua Aisyah, baik ibunya, Ummu Ruman atau bapaknya Abu Bakar sempat terkejut, karena Aisyah masih termasuk keponakan Nabi SAW sendiri.
Khaulah menemui Nabi SAW tentang status Aisyah yang masih keponakan beliau, tetapi beliau menyampaikan bahwa Aisyah tidak termasuk keponakan yang terlarang untuk dinikahinya. Abu Bakar dan Ummu Ruman dengan gembira menerima lamaran Nabi SAW lewat Khaulah ini. Nabi SAW datang ke rumah Abu Bakar, dan beliau dinikahkan sendiri oleh Abu Bakar dengan putrinya, Aisyah.
Beberapa bulan lamanya setelah tinggal di Madinah, Abu Bakar bertanya kepada Nabi SAW, tentang putrinya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengajak Aisyah tinggal bersama engkau?"
"Saya tidak mempunyai peralatan rumah tangga..!" Kata Nabi SAW.
Mendengar jawaban beliau itu, Abu Bakar membeli peralatan rumah tangga yang diperlukan, dan membawanya ke rumah Rasulullah SAW. Setelah semuanya siap, Abu Bakar mengantarkan Aisyah ke rumah beliau, di bulan Syawal tahun 1 atau 2 hijriah di waktu dhuha.
Setelah ditinggal wafat Nabi SAW, Aisyah sering memperoleh hadiah uang dari para sahabat, seperti Muawiyah, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam dll., sehingga sebenarnya ia tidak dalam keadaan kekurangan. Tetapi didikan Nabi SAW atas dirinya tidak sedikitpun berubah. Kemurahan dan kesederhanaan tetap menjadi pola hidupnya sebagaimana yang dijalaninya bersama Nabi SAW, sehingga hidupnya cenderung dalam kekurangan.
Suatu ketika Aisyah memperoleh hadiah dua karung uang yang masing-masing berisi 100.000 dirham. Ia membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin dari pagi hingga sore sehingga tidak tersisa sama sekali. Hari itu Aisyah sedang berpuasa, saat masuk waktu maghrib, pembantunya datang membawa makanan untuk berbuka berupa sepotong roti dan minyak zaitun. Ia berkata kepada Aisyah, "Seandainya engkau tadi menyisakan satu dirham, tentu aku bisa menyediakan sepotong daging untuk menu berbuka."
"Mengapa engkau baru mengatakannya sekarang," Kata Aisyah, "Andai tadi engkau mengatakannya, tentu kusisakan satu dirham untukmu."
Suatu ketika Aisyah dalam keadaan puasa, dan hanya memiliki sepotong roti untuk persiapan berbuka. Tiba-tiba datang datang seorang lelaki miskin meminta makanan kepadanya, Aisyahpun menyuruh pembantunya menyerahkan sepotong roti yang ada. Pembantunya berkata, "Jika kita memberikan roti ini, kita tidak memiliki makanan lagi untuk berbuka puasa…!"
“Biarlah, berikan saja roti itu kepadanya." Kata Aisyah.
Keadaan seperti itu seringkali terjadi, sehingga menyulut rasa kasihan dari keponakannya, Abdullah bin Zubair, karena hidupnya yang dalam keadaan miskin dan serba kekurangan. Sebenarnya bukannya tidak ada harta dan uang yang datang, tetapi karena gemarnya bersedekah, sehingga tidak ada yang ‘sempat’ menginap walau hanya semalam, sebagaimana seringkali dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Abdullah bin Zubair adalah anak dari saudaranya, Asma binti Abubakar, dan sejak kecil Aisyah ikut mengasuhnya hingga ia amat sayang pada bibinya tersebut. Atas sikap kedermawanan bibinya ini, ia pernah berkata pada  salah seorang sahabat, "Saya harus menghentikan kebiasaan bibi yang selalu banyak bersedekah ini…"
Ucapannya itu ternyata sampai kepada Aisyah, dan ia merasa sangat marah kepada keponakannya, ia berkata, "Mengapa engkau melarang aku bersedekah?"
Sambil berkata seperti itu, ia bersumpah tidak akan berbicara lagi dengan Abdullah bin Zubair. Bagaimanapun juga sikap dermawannya itu adalah didikan dan juga dukungan penuh Rasulullah SAW selama ia hidup bersama beliau, sehingga tak mungkin ia meninggalkan atau merubahnya.
Ibnu Zubair menyadari kesalahannya, ia berusaha untuk meminta maaf dan meminta bibinya membatalkan sumpahnya tersebut, tetapi Aisyah tetap teguh dengan sumpahnya. Beberapa sahabat datang untuk membujuknya membatalkan sumpahnya tetapi tidak berhasil juga. Akhirnya ia meminta bantuan Hasan dan Husain, dua cucu kesayangan Rasulullah SAW. Dengan suatu siasat Ibnu Zubair berhasil menemui Aisyah, Hasan dan Husain mengingatkanmya berulang-ulang akan larangan Nabi SAW memutuskan silaturahmi, sehingga akhirnya Aisyah luluh juga. Ia membebaskan dua orang budaknya sebagai kafarat membatalkan sumpahnya.
Aisyah seringkali menangis jika mengingat masalah ini. Pertama karena ketergesaannya dalam bersumpah, sehingga membawa dampak yang luas bagi orang-orang di sekitarnya, dan kedua karena ia harus melanggar dan membatalkan sumpah yang diucapkannya sendiri. Begitu menyesalnya, sehingga air matanya mengalir deras membasahi kain yang dipakainya.
Aisyah adalah seorang yang sangat cerdas, masa kanak-kanak dan remajanya bisa dikatakan dihabiskan bersama Rasulullah SAW. Namun demikian ia mampu menghafal begitu banyak Hadits dan juga ayat Al Qur'an, padahal saat itu belum populer alat tulis dan buku catatan sebagai sarana penyimpan informasi. Tak kurang dari 2.210 hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Tidak hanya itu, ia juga mampu memberikan solusi berbagai permasalahan agama yang mucul kemudian, berdasarkan apa yang dialaminya bersama Rasulullah SAW. Apa yang disabdakan dan dilakukan beliau, menjadi dasar acuannya dalam memberikan solusi. Tak jarang beberapa sahabat terkemuka  mendatangi Aisyah untuk meminta pertimbangan.

Saudah binti Zam'ah RA, Ummul Mukminin


Saudah binti Zam'ah bin Qais sebelumnya diperistri oleh Sakran bin Amar RA, salah seorang sahabat Nabi SAW lainnya. Mereka berdua telah memeluk Islam pada masa awal ketika di Makkah. Karena kerasnya siksaan dan halangan yang dilakukan oleh kaum Quraisy, mereka berdua hijrah ke Habasyah bersama beberapa sahabat lainnya. Suami Saudah meninggal pada tahun 10 kenabian, beberapa hari sebelum meninggalnya Khadijah RA, ketika masih berada di Habasyah. Sebagian riwayat menyebutkan Sakran telah kembali ke Makkah, kemudian meninggal.
Beberapa bulan setelah wafatnya Khadijah, Nabi SAW menikahinya, inilah pernikahan pertama beliau setelah Khadijah wafat. Tetapi sebagian riwayat menyebutkan, Nabi SAW terlebih dahulu menikah dengan Aisyah, walau saat itu belum berkumpul bersama Nabi SAW.
Ketika dinikahi Nabi SAW, Saudah sudah agak tua dan telah berkurang kecantikannya, badannya agak gemuk. Karena itu ia menjadi istri Nabi yang paling akrab dengan Aisyah, karena tidak ada sesuatu alasan yang bisa membuatnya dicemburui oleh Aisyah, bahkan seringkali Saudah memberikan gilirannya dikunjungi Nabi SAW kepada Aisyah. Keakraban mereka ini kadang terjadi ketika Nabi SAW berada di antara mereka.
Suatu ketika Nabi SAW datang ketika Aisyah sedang bersama Saudah, beliau duduk di antara mereka berdua. Aisyah bangkit untuk membuatkan kue khazirah, kue dari bahan tepung dan susu. Setelah siap, ia menghidangkannya untuk Rasulullah SAW. Aisyah tahu kalau Saudah tidak suka dengan kue khazirah, tetapi justru itu ia berkata setengah memaksa kepada Saudah, "Engkau harus memakan kue ini, kalau tidak, aku akan mengolesi wajahmu dengan khazirah!"
Saudah menolak mati-matian karena memang ia tidak suka. Aisyah terus merajuk dan akhirnya mengoleskan kue itu ke wajah Saudah. Melihat hal ini, Nabi SAW merendahkan kedua lutut dan memberi isyarat kepada Saudah untuk menuruti permintaan Aisyah. Tetapi belum sempat Saudah melakukannya, Aisyah mengambil sepotong kharijah dan mengoleskannya ke wajahnya sendiri. Nabi SAW tersenyum geli melihat wajah dua istrinya yang berlumuran tepung, Aisyah dan Saudah ikut tertawa karenanya.
Di waktu senggangnya, Nabi SAW menyibukkan diri dengan shalat sunnah. Saudah sangat senang ikut shalat di belakang beliau, walau tidak diperintah mengikutinya. Pernah terjadi, ketika beliau shalat dengan ruku yang sangat panjang, hidungnya mengeluarkan darah. Mungkin disebabkan oleh badannya yang terlalu gemuk.
Saudah wafat pada tahun 54 atau 55 hijriah, sebagian riwayat menyebutkan, ia wafat pada akhir kekhalifahan Umar bin Khaththab RA.

Anak Perempuan Hitam Bekas Budak


Anak perempuan hitam ini adalah budak dari seorang Arab yang telah dimerdekakan oleh tuannya, tetapi tetap tinggal bersama dan bekerja kepada mereka. Suatu ketika anak tuannya keluar dengan memakai selendang kulit warna merah, tetapi selendang merah tersebut hilang entah kemana. Mereka pun mencari-cari, ketika tidak ditemukan mereka menuduh anak perempuan hitam itu yang mencurinya. Anak perempuan hitam ini diperiksa dengan teliti, bahkan sampai kemaluannya diperiksa, tetapi tidak diketemukan karena ia memang tidak mencurinya.
Ketika sedang sibuk memeriksa tersebut, tiba-tiba lewatlah seekor burung elang dan menjatuhkan selendang merah tersebut di hadapan mereka. Mungkin anak tuannya itu menjatuhkan selendang tersebut tanpa sengaja, dan burung elang mengambilnya karena disangka sebagai daging yang segar. Seketika anak perempuan hitam itu berkata, "Inilah yang anda semua tuduhkan kepadaku sedangkan aku tidak bersalah apa-apa, inilah dia, inilah dia…"
Ia merasa ada keajaiban dalam peristiwa ini, elang tersebut datang tentunya atas perintah Allah SWT, dan ini tidak terlepas dari hadirnya seorang nabi yang tidak membeda-bedakan kedudukan, derajad dan warna kulit. Ia berpamitan keluar atau pindah dari rumah bekas tuannya tersebut dan menemui Nabi SAW untuk memeluk Islam. Ia mendapat tempat tinggal (berdiam) di salah satu serambi masjid dan sering berbincang-bincang dengan istri tercinta Nabi SAW, Aisyah RA. Dan ia selalu  mengenang peristiwa tersebut dengan berkata, "Dan hari selendang itu adalah keajaiban dari Allah, dan peristiwa itu telah melepaskan aku dari belenggu kekafiran…"

Lelaki Berkulit Hitam


Seorang lelaki yang telah memeluk Islam, datang menemui Nabi SAW yang sedang dalam suatu peperangan. Ia bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku hanya seorang lelaki berkulit hitam yang berwajah jelek, dan aku tidak mempunyai harta. Seandainya aku memerangi mereka (kaum musyrikin) sampai aku terbunuh, apakah aku akan masuk surga?"
“Ya," Kata Nabi SAW dengan tegas.
Lelaki itu menerjunkan diri ke dalam pertempuran, berperang dengan perkasa sehingga akhirnya menemui syahidnya. Nabi SAW mendekati jenazahnya dan berkata, "Sungguh Allah telah mempertampan wajahmu, mengharumkan baumu dan memperbanyak hartamu…"
Sesaat kemudian beliau bersabda lagi, "Sungguh aku telah melihat dua istrinya dari jenis bidadari, yang bulat dan indah matanya, saling berebut menarik jubahnya, kemudian keduanya masuk di antara jubah dan kulitnya…"