Kamis, 03 Januari 2013

Zubair bin Awwam RA

Zubair bin Awwam masih sepupu Nabi SAW, walau usianya berbeda jauh. Ibunya adalah Shafiyyah binti Abdul Muthalib saudara dari ayahanda Rasulullah SAW, Abdullah.  Dan ayahnya adalah Awwam bin Khuwailid, saudara dari Khadijah, istri Nabi SAW. Maka tak heran jika Nabi SAW sangat menyayanginya. Ia telah memeluk Islam pada masa-masa awal Islam didakwahkan ketika masih berusia 12 tahun, dalam riwayat lainnya 15 tahun. Karena itu ia termasuk dalam kelompok sahabat as sabiqunal awwalin, yang memperoleh pujian langsung dari Allah dalam Al Qur'an. Ia juga salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika hidupnya.
Tidak lama setelah memeluk Islam, ia mendengar berita bahwa penduduk Makkah telah membunuh Nabi SAW, dengan marah ia menghunus pedangnya dan mencari tahu siapa yang membunuh beliau. Tetapi kemudian ia bertemu dengan Nabi SAW yang segar bugar saja, sementara pedangnya masih terhunus, Beliau bertanya, "Apa yang terjadi denganmu, wahai Zubair?"
"Aku mendengar bahwa tuan telah dibunuh.." Kata Zubair.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Nabi SAW.
"Aku akan memancung kepala orang yang membunuh tuan…"
Nabi SAW tersenyum melihat sikap dan semangatnya. Beliau mendoakan dia dan juga pedangnya, kemudian menyuruhnya pulang. Itulah pedang yang pertama kali dihunuskan demi untuk membela Islam.
Peristiwa itu merupakan gambaran awal bagaimana sikap Zubair bin Awwam terhadap Nabi SAW dan Islam, maka tak heran jika kemudian ia tak pernah absen dalam semua pertempuran bersama Nabi SAW dan setelah beliau meninggal. Jiwa dan semangat hidupnya dihabiskan untuk mengabdi pada perjuangan menegakkan panji-panji Islam.
Sebagaimana para sahabat pada masa awal, keislamannya membawanya kepada penyiksaan dari kaum Quraisy, walau sebenarnya ia dari keluarga terhormat dan sangat disegani. Pamannya sendiri, Naufal bin Khuwailid yang dikenal dengan nama "Singa Quraisy", pernah menggulungnya dengan tikar dan menggantungnya terbalik dalam keadaan terikat, dan di bawahnya ada api sehingga asapnya menyesakkan dadanya. Berbagai siksaan ditimpakan oleh kaum  kerabatnya sendiri, tetapi semua itu tidak mampu mengembalikannya ke agama jahiliahnya.
Karena makin kerasnya tekanan dan siksaan yang ditimpakan kaum kafir Quraisy pada orang-orang yang memeluk Islam, Nabi SAW mengijinkan mereka untuk berhijrah ke Habasyah, dan Zubair termasuk di antaranya. Raja Habasyah, Najasyi memberikan perlindungan kepada para muhajirin ini, dan memberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadahnya sendiri. Hal itu menimbulkan sekelompok orang melakukan pemberontakan, tidak setuju dengan sikap Najasyi tersebut. Sempat terjadi pertempuran, yang dalam pertempuran tersebut Zubair ikut berperan serta sebagai mata-mata untuk kepentingan Najasyi dan kaum muhajirin lainnya. Jika ternyata Najasyi kalah, ia harus segera memberitahukan agar kaum muslimin bisa segera meninggalkan bumi Habasyah. Tetapi Allah menghendaki kemenangan ada di pihak Najasyi, sehingga kaum muslimin dengan tenang tinggal di negeri Nashrani tersebut.
Walau hidup dalam keadaan damai dan tenang melaksanakan ibadah, tetapi hati Zubair selalu gelisah. Sejak ia memeluk Islam, hatinya seolah terikat dengan Rasulullah SAW. Ada kerinduan menggejolak untuk selalu bersama beliau, walau ada juga kekhawatiran. Karena itu, begitu mendengar keislaman Hamzah dan Umar bin Khaththab, yang membuat posisi kaum muslimin lebih kuat, ia segera kembali ke Makkah untuk bisa selalu bertemu dan melihat Rasulullah SAW, kapan saja kerinduannya itu datang.
Zubair juga dikenal sebagai penunggang kuda yang handal. Dialah salah satu dari hanya dua penunggang kuda pasukan muslim pada Perang Badar, dan ia diserahi Nabi SAW memimpin front/sisi kanan. Satu lagi adalah  Miqdad bin Aswad, diserahi untuk memimpin front kiri. Dengan pedang yang pernah didoakan oleh Nabi SAW, jiwa kepahlawanannya jadi makin menonjol. Dalam perang Badar tersebut ia mampu membunuh jagoan-jagoan Quraisy yang jadi andalan, seperti Naufal bin Khuwailid, Si Singa Quraisy yang masih pamannya sendiri, Ubaidah bin Said,  Ibnul Ash bin Umayyah, dan lain-lain.
Pada awal perang Uhud, Nabi SAW mengangkat sebuah pedang dan berkata, "Siapa yang mau mengambil pedang ini dengan memberikan haknya??"
Beberapa sahabat yang berkumpul tidak segera memberikan kesanggupan, maka Zubair bin Awwam segera  menyahutnya, "Saya, ya Rasulullah."
Tetapi Nabi SAW hanya memandangnya sekilas, kemudian mengulangnya hingga tiga kali, dan hanya Zubair yang dengan segera menyanggupinya. Namun demikian beliau tidak menyerahkan pedang tersebut kepadanya. Ketika Abu Dujanah yang menyanggupinya, beliau langsung menyerahkannya. Ini bukan berarti Nabi SAW tidak mempercayainya, tetapi Zubair telah memiliki pedang yang pernah didoakan Nabi SAW sehingga ia tidak memerlukan pedang lainnya. Biarlah pedang tersebut dipegang dan dimiliki sahabat lain untuk mengukirkan kepahlawanannya  kepada Islam.
Pada perang Uhud itu pula, pemegang panji kaum musyrikin, Thalhah bin Abu Thalhah menantang duel, tetapi tidak ada yang menyambutnya, sehingga dengan congkaknya ia meremehkan pasukan muslim. Ia memang seorang jagoan Quraisy yang perkasa. Segera saja Zubair keluar menyambut tantangannya. Ia berhasil meloncat ke atas belakang unta Thalhah dan mereka jatuh bergulingan di atas tanah. Zubair berhasil membantingnya kemudian membunuhnya dengan pedang kesayangannya, pedang yang pernah didoakan Rasulullah SAW.
Nabi SAW memuji ketangkasan Zubair tersebut dan beliau bersabda, "Setiap nabi itu mempunyai hawariyyun (pembela), dan hawariyunku adalah Zubair…"
Begitu juga dalam perang Khandaq, saat itu Naufal bin Abdullah bin Mughirah al Makhzumi menaiki tempat  yang tinggi kemudian menantang duel kaum muslimin. Nabi SAW sempat menawarkan pada salah seorang sahabat untuk melayani tantangan tersebut, dan ia menyanggupinya kalau memang diperintahkan. Tetapi kemudian Nabi SAW melihat keberadaan Zubair bin Awwam, beliaupun bersabda, "Bangunlah kamu, ya Abu Safiah, pergilah kepadanya!"
Majulah Zubair menghadapi Naufal, Mereka beradu kekuatan, saling merangkul dan bergulingan di tanah. Nabi SAW menyatakan bahwa siapa yang jatuh ke bawah lebih dahulu, dialah yang akan terbunuh. Beliau berdoa dan diamini oleh sahabat-sahabat lainnya. Tak lama kemudian Naufal jatuh, dan Zubair jatuh di atas dadanya, ia segera membunuhnya.
Begitulah, hampir semua pertempuran diterjuninya. Bahkan sebuah riwayat menyebutkan, Zubair bin Awwam adalah satu-satunya sahabat yang tidak pernah absen dari pertempuran yang dilakukan bersama Nabi SAW. Mungkin itu sebagian dari penjabaran bahwa Zubair memang hawari (pembela) Nabi SAW. Dan dalam setiap pertempuran, ia selalu menunjukkan jiwa dan semangat jihadnya, jiwa dan semangat untuk memperoleh syahid di jalan Allah. Begitu juga dengan berbagai pertempuran yang diterjuninya sepeninggal Nabi SAW.
Nama Zubair hampir tidak bisa dipisahkan dengan Thalhah. Kalau disebut nama Zubair, pastilah orang akan menyebut Thalhah, dan kalau ada yang menyebut Thalhah, pastilah Zubair disebut juga. Mereka berdua memang memiliki banyak kesamaan, sejak kecil dan remaja tumbuh bersama. Ketika mereka berdua memeluk Islam, Nabi SAW-pun mempersaudarakan mereka, di samping mereka berdua memang masih kerabat dekat dengan beliau.  Bahkan kemudian Nabi SAW pernah berkata, "Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga…..!"
Tidak ada bedanya jiwa perjuangan Thalhah dan Zubair dalam membela Islam, begitu juga dengan jiwa pemurah dan kedermawanannya. Seperti halnya Thalhah, ketika tidak sedang mengangkat pedangnya untuk berjuang di jalan Allah, ia akan mengurus perniagaannya, dan hasil perniagaannya lebih banyak dibelanjakan di jalan Allah daripada dinikmatinya sendiri. Bahkan dalam soal shadaqah dan membelanjakan harta di jalan Allah ini, bisa dikatakan "besar pasak daripada tiang." Ia tidak segan untuk berhutang demi "memuaskan" jiwa pemurah dan dermawannya. Tetapi ia selalu mencatat dengan  rapi hutang-hutangnya tersebut, dan mewasiatkan kepada anaknya, Abdullah bin Zubair untuk membayar hutangnya jika sewaktu-waktu ia meninggal, sambil ia berpesan, "Bila nanti engkau tidak mampu membayar hutang-hutang tersebut, minta tolonglah kepada Induk Semang  (Maulana) kita!!"
"Induk Semang yang mana yang bapak maksudkan?" Tanya Abdullah bin Zubair.
"Induk Semang dan Penolong kita yang utama, yakni Allah SWT…."
Maka, setiap kali Ibnu Zubair mengalami kesulitan dalam membayar hutang bapaknya, ia selalu berdoa, "Wahai Induk Semangnya Zubair, tolonglah aku melunasi hutangnya…!"
Tidak lama setelah itu, selalu ada jalan keluar bagi Ibnu Zubair untuk melunasi hutang-hutang ayahnya.
Seperti telah ditakdirkan untuk bersama-sama, kedua orang bersahabat itu, Zubair dan Thalhah inipun menjemput syahidnya bersama, yakni dalam perang Jamal di masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Hanya saja dalam perang saudara tersebut ia bersama Thalhah bin Ubaidillah dan Ummil Mukminin Aisyah memimpin pasukan dari Bashrah  untuk melakukan perlawanan kepada Ali bin Abi Thalib, dengan dalih menuntut balas kematian Utsman. Padahal beberapa waktu sebelumnya mereka ikut memba'iat Ali sebagai khalifah. Inilah memang dahsyatnya bahaya fitnah, sehingga orang-orang terpilih di masa Rasulullah SAW saling berperang satu sama lainnya.
Ada perbedaan pendapat tentang syahidnya Zubair. Satu riwayat menyebutkan, ketika pertempuran mulai berlangsung dan dari kedua pihak berjatuhan korban tewas, Ali menangis dan menghentikan pertempuran, padahal saat itu posisinya dalam keadaan memang. Ali meminta kehadiran Thalhah dan Zubair untuk melakukan islah. Ali mengingatkan Thalhah dan Zubair berbagai hal ketika bersama Rasulullah SAW, termasuk ramalan-ramalan beliau tentang mereka bertiga. Thalhah dan Zubair menangis mendengar penjabaran Ali dan seolah diingatkan akan masa-masa indah bersama Rasulullah SAW, apalagi saat itu mereka melihat Ammar bin Yasir ikut bergabung dalam pasukan Ali. Masih jelas terngiang sabda Nabi SAW ketika ‘kerja bakti’ membangun masjid Nabawi, "Aduhai Ibnu Sumayyah (yakni, Ammar bin Yasir), ia akan terbunuh oleh kaum pendurhaka…..!!"
Zubair dan Thalhah memutuskan menghentikan pertempuran dan ia menyarungkan senjatanya, kemudian  berbalik menemui pasukannya. Tetapi ada anggota pasukan yang tidak puas dengan keputusan ini dan mereka  memanah keduanya hingga tewas. Sebagian riwayat menyebukan pembunuhnya dari pasukan Ali, riwayat lain dari pasukan Bashrah sendiri.
Sedangkan riwayat lain menyebutkan, pertempuran berlangsung seru dan pasukan Bashrah dikalahkan oleh pasukan Ali, Thalhah dan Zubair bin Awwam gugur menemui syahidnya. Sedangkan Ummul Mukminin Aisyah dikirimkan lagi ke Madinah dengan pengawalan saudaranya, Muhammad bin Abu Bakar yang ada di fihak Ali.
Zubair meninggal dalam usia 64 tahun, dan jenazahnya di makamkan di suatu tempat yang disebut Waadis Sibba, sekitar 7,5 km dari kota Bashrah, di Irak sekarang ini.
Usai pertempuran, ketika Ali sedang beristirahat, datang salah seorang prajuritnya dan berkata, "Amr bin Jurmuz at Tamimi, pembunuh Zubair bin Awwam menunggu di luar, minta ijin untuk menghadap!!"
Ali mengijinkannya. Amr masuk dengan pongahnya, ia mengira akan memperoleh pujian dan penghargaan karena telah membunuh seseorang yang memusuhi khalifah Ali. Tapi begitu bertatap muka, Ali membentaknya dengan keras, dan berkata, "Apakah pedang yang kamu bawa itu pedang Zubair??"
Dengan gemetar ketakutan, ia berkata, "Benar, ini pedang Zubair, saya merampasnya setelah saya membunuhnya!"
Ali mengambil pedang tersebut dari tangannya dan menggenggamnya penuh perasaan dan khusyu, diciumnya pedang yang pernah didoakan Nabi SAW tersebut penuh rindu dan haru, hingga air mata membasahi pipinya, kemudian Ali berkata, "Pedang ini, Demi Allah, adalah pedang yang selama ini digunakan pemiliknya untuk membebaskan Nabi SAW dari berbagai marabahaya…..!!"
Setelah itu Ali memandang Amr bin Jurmuz dengan mata menyala, "Mengenai dirimu, wahai pembunuh Zubair, bergembiralah dengan masuk neraka, atas apa yang kamu lakukan kepada putra Shafiyah ini….!"
Amr berlalu dengan dongkol karena maksudnya tidak tercapai, sambil ia bergumam, "Aneh sekali tuan-tuan ini, telah kami bunuh musuh tuan, tetapi tuan katakan saya akan masuk neraka….!!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar