Kamis, 20 September 2012

Muawiyah bin Abu Sufyan RA

            Muawiyah bin Abu Sufyan, putra dari Abu Sufyan bin Harb, seorang penguasa, hartawan dan pedagang besar di Makkah yang menguasai perniagaan di Jazirah Arabia. Mereka berdua, anak dan bapak termasuk tokoh yang gencar memerangi Islam sampai terjadinya Fathul Makkah. Pada Fathul Makkah ini mereka termasuk dalam kaum yang dibebaskan dari pembalasan (kaum thulaqa'), dan kemudian memeluk Islam.
            Muawiyah terus memperbaiki keislamannya. Ia mengikuti perang Hunain dan memperoleh ghanimah yang melimpah ruah sebagaimana kaum muallaf Makkah lainnya. Nabi SAW juga mempercayai dirinya menjadi salah satu penulis wahyu.
            Suatu ketika Nabi SAW pernah bersabda kepadanya, "Wahai Muawiyah, jika kamu menjadi raja, maka berbuat baiklah…!!!"
            Nabi SAW memang seringkali mengucapkan suatu sabda yang merupakan ramalan, atau suatu penglihatan ghaib ke depan tentang apa yang akan dialami oleh beberapa sahabat. Misalnya pada sahabat Abu Dzar al Ghifari,  Abdullah bin Mas'ud, Suraqah bin Malik, Ammar bin Yasir, Hasan bin Ali (cucu beliau), dan lain-lainnya. Begitupun yang terjadi pada Muawiyah ini, bahkan di sana terselip suatu pesan, bahwa dalam kedudukan sebagai raja, ia akan bisa tergelincir dan melakukan kesalahan dalam kaitannya dengan orang lain, karena itu berliau menasehatinya, "…..berbuat baiklah…!!"
            Tetapi apa yang ditangkap Muawiyah adalah semacam "restu" dari beliau, karenanya, sejak mendengar sabda beliau ini, ia sangat menginginkan (berambisi) untuk memegang jabatan khalifah. Muawiyah memang tidak pernah mengalami masa sulit dan penderitaan dalam keislamannya, karena bukan termasuk dalam sahabat yang memeluk Islam sejak awalnya. Ketika memusuhi Islam, kedudukannya terhormat dan mapan, sehingga praktis kehidupannya selalu dalam kesenangan tanpa derita. Hal ini yang makin memupuk ambisinya untuk bisa mencapai jabatan tertinggi dalam pemerintahan Islam.
            Pada masa khalifah Abu Bakar, ia menyertai satu pasukan yang dipimpin oleh Yazid bin Abu Sufyan, kakaknya dalam memerangi pasukan Romawi di Damsyiq, Syam. Setelah memperoleh kemenangan, Yazid ditetapkan Abu Bakar sebagai wali negeri Damsyiq. Setelah Yazid wafat, Muawiyah mengambil alih pimpinan pemerintahan yang sebelumnya dipegang oleh kakaknya, tetapi kemudian kedudukannya tersebut ditetapkan oleh khalifah Abu Bakar.
            Ketika Umar memegang jabatan khalifah, ia mengadakan kunjungan ke Syam termasuk ke Damsyiq. Melihat gaya hidupnya yang bermewah-mewah, yang sangat berbeda dengan prinsip hidupnya, Khalifah Umar berkata kepadanya, "Ini adalah Kisra (Kaisar) Arab….!"
            Sepulangnya ke Madinah, ia menerbitkan surat pemecatan Muawiyah sebagai wali negeri Damsyiq, dan mengirimkan Sa'id bin Amir sebagai penggantinya. Seorang sahabat Nabi SAW yang memiliki prinsip hidup sederhana dan membenci kemewahan, seperti halnya Umar sendiri. Dalam riwayat lain, bukanlah wali negeri Damsyiq, tetapi wali negeri Homs, suatu wilayah yang sama-sama berada di Syam.
            Pada pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, Muawiyah ditetapkan sebagai gubernur untuk seluruh wilayah Syam, termasuk Palestina. Sebenarnya banyak keluhan masyarakat Syam tentang kepemimpinan Muawiyah dan juga keberandalan putranya, tetapi semua laporan dan keluhan masyarakat tersebut disembunyikan oleh sekretaris Khalifah Utsman, Marwan yang memang masih saudara sepupu Muawiyah.
            Setelah wafatnya Utsman dan hampir masyarakat muslim memba'iat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, Muawiyah menolak untuk berba'iat. Ia berhasil menghimpun kekuatan di Syam dan melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Muawiyah memang memiliki kecerdikan dan kemampuan strategi serta politik yang hebat. Dengan dalih menuntut balas atas kematian khalifah Utsman, ia berhasil mempengaruhi beberapa sahabat untuk bertikai dengan Ali dan memihak pada dirinya. Dan dengan suatu muslihat pula, ia berhasil menurunkan Ali dan meneguhkan dirinya sebagai khalifah, atau tepatnya Raja, karena hanya masyarakat Syam saja yang sepakat memba'iatnya, sedangkan masyarakat di luar Syam tidak bulat mendukungnya.
            Beberapa sahabat memilih abstain, tidak memilih dan memihak pada salah satu kubu, dan tidak ingin terlibat dalam perselisihan dua kelompok kaum muslimin tersebut. Di antara sahabat utama yang memilih sikap ini adalah Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Muhammad bin Maslamah. Muawiyah beranggapan, bahwa  penolakan mereka mendukung Ali, sebagaimana sahabat utama lainnya, karena mereka tidak mengakui keutamaan Ali atau meragukan berhak tidaknya Ali sebagai khalifah. Muawiyah sangat menginginkan dukungan mereka untuk mengokohkan kedudukannya sebagai Amirul Mukminin (khalifah, dalam pemahamannya). Ia mengirimkan beberapa utusan menemui mereka dan  mempengaruhi mereka agar mendukung dirinya. Bahkan para utusannya tersebut dipesankan untuk membawa bahasa diplomasi yang cerdas, "Sesungguhnya tuan-tuan lebih berhak menduduki kekhalifahan daripada Ali."
            Tetapi apa yang diharapkan oleh Muawiyah jauh sekali dari kenyataan. Bahkan ia seolah menerima tamparan keras dengan jawaban mereka.
            Abdullah bin Umar menjawab ajakannya dengan ucapan, "Apa yang kamu harapkan dariku, adalah sesuatu yang menjadikan dirimu seperti sekarang ini…Aku tidak bergabung dengan Ali bukan karena aku mencurigainya. Demi Allah, aku sama sekali tidak setaraf dengan Ali bin Abi Thalib, baik dalam hal keimanan, hijrah dan kedudukannya di sisi Rasulullah SAW, dan juga perjuangannya dalam melawan kemusyrikan…. Tetapi yang terjadi sekarang ini, sama sekali tidak pernah terjadi di masa Rasulullah SAW, karena itu saya tidak ingin memihak siapapun!! Jangan coba-coba mempengaruhi diriku..!!"
            Kalau Abdullah bin Umar mengakui tidak selevel dan sederajad dengan Ali, bagaimana dengan Muawiyah??
            Dan Sa'd bin Abi Waqqash memberikan jawaban seperti ini, "Persoalan ini sejak awal tidak aku sukai dan akhirnyapun tidak aku sukai…Seandainya Thalhah dan Zubair tetap tinggal di rumahnya masing-masing, tentu itu lebih baik bagi mereka…Semoga Allah SWT mengampuni Ummul Mukminin (Aisyah RA) atas apa yang telah terjadi. Sungguh saya tidak akan pernah memerangi Ali selama-lamanya Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali : Kedudukanmu di sampingku, adalah laksana Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada lagi Nabi sesudahku…."
            Memang, tiga orang utama, Aisyah RA (Ummul Mukminin), Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam sempat termakan fitnah yang dihembuskan oleh Muawiyah. Atas dalih "menuntut balas pembunuh Utsman", mereka memimpin sekelompok pasukan melawan Ali yang dianggap tidak tegas terhadap pembunuh Utsman. Pertentangan bersenjata yang dikenal dengan nama Perang Jamal (Perang Berunta), sebenarnya berakhir damai karena Thalhah dan Zubair yang memimpin pasukan tersebut akhirnya menyadari kesalahannya, dan mundur dari pertempuran. Hanya saja ada beberapa orang yang tidak puas dengan gagalnya pertempuran, segera membunuh Thalhah dan Zubair, yang sama sekali tidak melakukan perlawanan. Sedangkan Ummul Mukminin Aisyah RA dikawal pulang ke Madinah dengan pengawalan pasukan yang dipimpin Muhammad bin Abu Bakar, saudaranya sendiri yang berada di pihak Ali.
            Sedangkan Muhammad bin Maslamah memberikan jawaban yang tegas, tanpa tedeng aling-aling, "…Sesungguhnya kamu (wahai Muawiyah), demi nyawaku, yang kamu cari tidak lain hanyalah duniawiah semata, dan yang kamu perturutkan tidak lain adalah hawa nafsu belaka. Kamu membela Utsman di kala ia telah wafat sedangkan semasa hidupnya, engkau hanya merongrongnya…. Andaikata sikapku ini tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kesenanganku dan tidak menyebabkan keraguanku. Sungguh aku lebih  mengenal dan mengetahui kebenaran daripada engkau…!!"
            Inilah sebagian dari fitnah yang terjadi di kalangan umat Islam saat itu, fitnah, yang kata Al qur'an lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan. Terbunuhnya kaum muslimin akibat fitnah ini jauh lebih banyak daripada sekedar pembunuhan biasa, dan itu dilakukan oleh orang islam sendiri. Fitnah yang hampir pasti tidak bisa dihindarkan karena Nabi SAW telah meramalkan sebelumnya, dengan berbagai sabda beliau kepada beberapa orang sahabat  yang berbeda-beda.
            Terlepas dari peran kontroversial Muawiyah dalam situasi fitnah yang tidak terhindarkan ini, wilayah Islam makin meluas dalam masa pemerintahannya, bahkan menjangkau wilayah Eropa sekarang ini. Bagaimanapun juga Muawiyah seorang sahabat Nabi SAW, dan kita sama sekali "tidak pantas" untuk melakukan penilaian apalagi "hujatan" atas apa yang telah dilakukan Muawiyah. Kita serahkan semuanya kepada Allah, Dialah Pemilik Rahasia Takdir dan Arsitek semua peristiwa yang telah terjadi di antara para sahabat.

15 komentar:

  1. sungguh tulisan yg arif.... wa lana a'maluna ma lakum a'malukum....walau kita tahu aliy lah di pihak yg benar..namun Allah lah se adil adil pemegang keputusan...

    BalasHapus
  2. pembunuh tetaplah pembunuh..

    BalasHapus
  3. tulisan yang memfitnah Muawiyah ra dengan halus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tulisan santun yg menjerumuskan..hati2 saudaraku..

      Hapus
    2. tulisan santun yg menjerumuskan..hati2 saudaraku..

      Hapus
  4. silakan baca...

    http://muzir.wordpress.com/2013/02/13/hentikan-kisah-memburukkan-yazid-bin-muawiyah/

    semoga Allah SWT memberi kita semua petunjuk-Nya.

    BalasHapus
  5. Semua sahabat nabi laksana bintang di langit..jangan menghina mereka..sedekah kita emas sebesar gunung uhud tidak akan mampu menyamai mereka walau mereka bersedekah searuh biji kurma..mereka ridho kpd Alloh dan Alloh ridho kpd mereka..

    BalasHapus
  6. Sebenarnya penentangan Muawiyah terhadap Ali tidak berlaku, Muawiyah mengakui dan menghormati kedudukan Ali, peperangan yang berlaku antara keduanya dicetuskan puak ketiga yg mahu mereka berperang, semua para sahabat mengasihi semua sahabat yang lain, tiada dengki sesama mereka, sejarah perlu diperbetulkan

    BalasHapus
  7. Perintah dari para penguasa untuk mencaci maki, melaknat Imam ‘Ali ra itu sudah suatu perbuatan yang biasa-biasa saja, misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmudzi dari Sa’ad Ibnu Waqqash yang mengatakan:
    “Ketika Mu’awiyah menyuruh aku untuk mencaci maki Abu Thurab (julukan untuk Imam ‘Ali ra), maka aku katakan kepadanya (kepada Mu’awiyah); Ada pun jika aku sebutkan padamu tiga perkara yang pernah diucapkan oleh Rasulallah saw. untuknya (untuk Imam ‘Ali ra), maka sekali-kali aku tidak akan mencacinya. Jika salah satu dari tiga perkara itu aku miliki, maka hal itu lebih aku senangi dari pada unta yang bagus. Ketika Rasulallah saw. meninggalkannya (meninggalkan ‘Ali ra) didalam salah satu peperangannya, maka ia (‘Ali ra) berkata; ‘Wahai Rasulallah, mengapa engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak kecil ?’.
    Pada waktu itu aku (Sa’ad Ibnu Abi Waqqash) mendengar Rasulallah saw. bersabda; ‘ Apakah engkau tidak cukup puas jika engkau disisiku seperti Harun disisi Musa?, hanya saja tidak ada kenabian sepeninggalku.’ [HR.Bukhori, Muslim, Turmduzi ].

    (Yang kedua) Dan aku pun mendengar beliau bersabda pada hari Khoibar; ‘Aku akan berikan panji-panji ini pada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan ia pun dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya’. Pada waktu itu kami sama-sama penuh berharap (agar dipilih oleh Nabi saw.), tetapi beliau saw. bersabda ; ‘Panggilkan ‘Ali kepadaku’ ! ‘Ali ra dihadapkan pada beliau saw. sedang ia sakit kedua matanya. Nabi saw. meludah pada mata ‘Ali kemudian beliau saw. memberikan panji-panji perang padanya sehingga Allah swt. memberi kemenangan kepadanya [Sahih Bukhari jilid 4 hal. 30/207,dll.].

    (Yang ketiga) Ketika Allah swt. menurunkan ayat Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu….. ayat Mubahalah Aal-Imran:6–maka Rasulallah saw. memanggil ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, kemudian beliau saw. berdo’a: ‘Ya Allah, mereka adalah keluargaku’ “. (dikutip dari kitab At-Taaj Al-Jaami’ Lil Ushuuli Fii Ahaadiitsir Rasuuli jilid 3 hal.709 cet. pertama th.1994 oleh Syeikh Manshur Ali Nashif Al-Husaini diterbitkan oleh CV Asy-Syifa’ Semarang)

    BalasHapus
  8. Ternyata artikel fitnah,tidak syak lg kesesatannya,penulis nya dr kaum syiah rafidoh,yg aqidah nya dibangun diatas meng kafirkan para sahabat

    BalasHapus
  9. Ass.Wr.Wb. Mas Fadilla, terserah penilaian Anda, tetapi jika Anda membaca tigaratus lebih kisah sahabat ini, apa memang benar isinya hujatan dan fitnahan serta mengkafirkan para sahabat tersebut? Bahkan pada kisah Muawiyah bin Abu Sufyan RA ini, atau juga Amr bin Ash RA serta beberapa sahabat lainnya yang 'berseberangan' dengan Ali bin Abi Thalib RA, tidak ada isinya yang mengkafirkan beliau-beliau, kecuali penafsiran Anda dan orang-orang yang 'se-aliran' dengan Anda. KIta 'simpan' saja tuduhan Anda ini hingga yaumul hisab kelak di hadapan Allah SWT. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat danmaghfirahnya kepada kita semua, wass.wr.wb.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Persoalannya tetep ... kalo saja muawiyah tidak kekeh mempertahan jabatan khalifah dan menyerah saja pada Ali .. kan beres persoalannya .. kenapa malah berperang bahkan setelah puluhan ribu yang meninggal Muawiyah tetap tidak mau meyerah pada Ali. Kalo dia memang bijak seharusnya berembuk dengan Ali .. apa benar fitnah -fitnah ini .. wong kita sahabat ... Ini kan gak .. malah angkat senjata .. bukankah ini lebih jahat dari hanya mengkafirkan orang...Menumpahkan darah muslimin lagi ...
    Ya .. saya memang menuduh Muawiyah .. Walaupun Muawiyah sahabat nabi .. tapi dia tetap bukan golongan awal yang dijamin masuk surga oleh Allah.
    Gak perduli yang penyebar fitnah siapa bahkan alien dari planet Mars sekalipun ,, namanya saudara kalo terlibat persilihan kan bisa bicara baik-baik.. bukan mengangkat pedang ... Dari sini kita sudah tahu siapa yang jahat sebenarnya .. cuman kita saja yang gak berani mengatakan ...Itu adalah selemah-lemahnya iman.
    Lalu yang menuduh/memfitnah Ali bin Abi Tholib setiap khotbah Jumat setelah itu adalah siapa !?!?!?! Kenapa Muawiyah diam saja kalau dia benar mencintai Ali.

    BalasHapus
  12. he he he ....mengapa kita ragu berpihak?? kebenaran adalah kebenaran,.....gak perlu memandang syiah,sunni atau kafir sekalipun,,karena kita memang dituntututk adil...

    BalasHapus