Minggu, 28 Oktober 2012

Thalhah bin Ubaidillah RA

Thalhah bin Ubaidillah masih mempunyai garis keturunan yang bersambung dengan Rasulullah SAW, yakni pada Murrah bin Ka’ab, enam atau tujuh generasi di atas beliau. Ketika ia sedang berdagang di pasar Bushra, Syam, ada seseorang yang diutus oleh seorang rahib untuk mencari-cari orang yang datang dari tanah haram (Makkah). Thalhah menyatakan dirinya dari Makkah, dan ia diajak menemui rahib yang beragama Nashrani itu di biaranya. Sang Rahib bertanya kepadanya, "Apakah Ahmad telah muncul?"
"Siapakah Ahmad?" Thalhah balik bertanya kepada rahib itu.
"Beliau adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib, bulan ini adalah bulan dimana ia akan muncul sebagai Nabi terakhir. Tempat munculnya adalah tanah haram, dan tempat hijrahnya adalah daerah yang banyak ditumbuhi pohon kurma, banyak batu hitam dan tanahnya sangat asin sehingga jarang ditumbuhi pepohonan. Hendaknya engkau bersegera menyambutnya…!"
Perkataan rahib ini sangat berkesan di hatinya, sehingga ia memutuskan untuk segera pulang ke Makkah. Sesampainya di Makkah, ia bertanya kepada orang-orang tentang peristiwa yang baru saja terjadi, mereka berkata, "Muhammad bin Abdullah telah menyatakan dirinya sebagai Nabi, dan Abu Bakar bin Abu Quhafah telah mengikuti ajarannya…"
Thalhah segera menemui Abu Bakar untuk menanyakan kebenaran berita tersebut, dan ia menceritakan apa yang dialaminya dengan Rahib Nashrani di Bushra, Syam. Mereka berdua segera menemui Nabi SAW. Ketika ia menceritakan peristiwa dengan Rahib Nashrani di Bushra, Rasulullah SAW sangat gembira atas pembenaran sang Rahib dan makin menguatkan tekad beliau untuk terus mendakwahkan Islam, apapun resikonya. Thalhah sendiri seketika itu memeluk Islam, sesuai dengan yang disarankan oleh sang Rahib tersebut.
Sebagaimana para pemeluk Islam pada masa awal, ia tak terlepas dari penyiksaan dan teror dari para pembesar dan pemimpin kaum Quraisy untuk mengembalikannya ke agama jahiliah, padahal ia seorang hartawan dan terpandang di antara kaumnya. Setelah keislamannya diketahui oleh orang-orang Quraisy, Nufail bin Khuwailid, salah seorang pembesar yang terkenal dengan sebutan ‘Singa Quraisy’ mencari-cari dirinya. Mereka bertemu Thalhah sedang berjalan dengan Abu Bakar yang segera saja keduanya ditangkap dan disiksa. Mereka berdua diikat dengan satu tambang, kemudian diancam dan diintimidasi. Tetapi mereka tidak berani bertindak terlalu keras dan kejam karena khawatir dengan pembalasan dari kabilahnya Abu Bakar dan Thalhah. Setelah berbagai ancaman dilakukan, dari yang halus hingga keras tidak juga berhasil, akhirnya mereka melepaskannya kembali. Karena peristiwa ini, Abu Bakar dan Thalhah disebut sebagai ‘Al Qarinain’, artinya dua setangkai.
Thalhah juga mengalami penyiksaan dari ibunya sendiri, Sha’bah binti Hadramy, saudara dari seorang sahabat Nabi SAW, Ala’ bin Hadramy. Tangan Thalhah diikatkan pada lehernya, kemudian diarak berkeliling di jalan-jalan kota Makkah, diikuti rombongan keluarganya. Ibunya mengikuti di belakangnya sambil mencaci maki dirinya. Walau disakiti dan dipermalukan oleh orang yang sangat dicintai dan dihormatinya, keyakinan dan keimanannya tidak bergeming. Bagaimanapun juga Allah SWT dan Nabi SAW lebih dicintainya daripada ibu dan sanak keluarganya yang lain.
Thalhah bin Ubaidillah termasuk dalam as sabiqunal awwalin (kelompok yang pertama memeluk Islam), ia juga salah satu dari sepuluh sahabat yang memperoleh berita gembira masuk surga ketika hidupnya. Sembilan lainnya adalah empat sahabat Khulafaur Rasyidin, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, Zubair bin Awwam dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Pada waktu turun surah Al Ahzab ayat 23,  "…Di antara orang-orang mukmin itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya sedikitpun…!"
Nabi SAW menyapukan pandangannya kepada para sahabat yang berkumpul, ketika menatap pada Thalhah, beliau bersabda, "Siapa yang ingin melihat seseorang yang masih berjalan di muka bumi, tetapi ia telah menyerahkan nyawanya (kepada Allah, maksudnya syahid), hendaklah ia memandang kepada Thalhah…"
Setelah hijrah ke Madinah, Thalhah hampir tidak pernah tertinggal berjuang bersama Rasulullah SAW, kecuali pada Perang Badar. Pada perang ini Thalhah dan Sa'id bin Zaid dikirimkan Nabi SAW untuk tugas mata-mata ke suatu tempat. Namun demikian beliau memasukkannya sebagai Ahlu Badar dan memberi mereka bagian dari ghanimah perang Badar. Ada delapan orang sahabat yang tidak secara langsung terlibat dalam perang Badar tetapi Nabi SAW menempatkannya sebagai Ahlu Badar sebagaimana pahlawan Badar lainnya, yang mendapat pujian dalam Al Qur'an. Selain Thalhah dan Sa'id bin Zaid, adalah Utsman bin Affan, Abu Lubabah, Ashim bin Adi, Harits bin Hathib, Harits bin Shimmah dan Khawwat bin Jubair R.Hum.
Seolah ingin menebus ketertinggalannya di perang Badar, Thalhah ingin mencurahkan kemampuan dan semangat perjuangannya di Perang Uhud. Pada awal pertempuran, pasukan kafir Quraisy centang-perenang digempur oleh semangat jihad kaum muslimin, termasuk Thalhah, yang tidak mau jauh dari posisi Nabi SAW. Peranan 50 pemanah di atas bukit yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair, sangat menentukan sisi pertahanan pasukan muslim. Nabi SAW telah berpesan kepada mereka untuk tidak meninggalkan posisi tersebut, menang atau kalah, sampai  beliau sendiri yang memerintahkannya.
Setelah pasukan Quraisy kocar-kacir meninggalkan arena pertempuran dan meninggalkan banyak sekali barang-barangnya, pasukan pemanah ini sebagian besar tergiur untuk mengambil barang rampasan. Ibnu Jubair berteriak mengingatkan akan pesan Nabi SAW, tetapi mereka tidak menggubrisnya. Empat puluh pemanah meninggalkan posnya untuk berebut harta rampasan perang. Mengetahui keadaan itu, pasukan berkuda Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid berbalik lagi menaiki bukit, dan sepuluh pemanah yang tertinggal tidak berdaya menghadangnya sehingga mereka syahid semua. Pasukan Quraisy lainnya mengikuti jejak Khalid menyerang pasukan muslim. Kondisi jadi berbalik, bahkan posisi Nabi SAW jadi terancam.
Beliau mencoba menghimpun pasukan muslim di sekitarnya, dan hanya tujuh orang Anshar dan dua Muhajirin yang sempat melindungi beliau ketika gelombang  pasukan Quraisy mendekati posisi Nabi SAW. Satu persatu sahabat Anshar menghadang serangan mereka, sementara dua sahabat Muhajirin pasang badan melindungi Nabi SAW dari serangan yang mengarah pada beliau. Sa'd  bin Abi Waqqash menyerbu dengan panahnya dengan gencar, sampai Nabi SAW perlu membantu mengulurkan  anak panah kepadanya. Sedangkan Thalhah bin Ubaidillah menghadang para penyerang Nabi SAW dengan pedangnya. Kekuatan sangat tidak berimbang, satu persatu sahabat Anshar gugur, bahkan Nabi SAW terluka, padahal beliau  memakai baju besi. Tinggallah Thalhah dan Sa'd bertahan mati-matian melindungi Nabi SAW agar beliau tidak terkena senjata secara langsung. Namun demikian beliau sempat terjatuh ke dalam lobang dan darah mengucur dari  pipi dan kening beliau, sehingga penyerang-penyerang tersebut sempat meneriakkan kalau Nabi SAW telah wafat.
Untunglah tidak berapa lama sekelompok sahabat berhasil menerobos kepungan dan berhimpun di sekitar Nabi SAW. Yang pertama sampai adalah Abu Bakar, kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah dan menyusul beberapa sahabat lainnya, termasuk seorang sahabat wanita, Ummu Ammarah (Nashibah atau Nushaibah binti Ka'b). Tetapi pada saat yang sama, Thalhah roboh di hadapan Nabi SAW karena terlalu banyak luka-luka pada tubuhnya. Makin banyak sahabat yang berhasil datang dan melindungi sehingga orang-orang kafir tersebut gagal memenuhi targetnya untuk membunuh Nabi SAW.
Ketika Nabi SAW memerintahkan Abu Bakar dan Abu Ubaidah memeriksa keadaan Thalhah, terdapat tujuh puluh luka-luka sobekan dan tusukan, tetapi nyawanya masih bisa terselamatkan.
Jika Abu Bakar menceritakan saat-saat kritis Nabi SAW di perang Uhud, yang hampir saja beliau terbunuh, ia selalu berkata, "Hari itu keseluruhannya adalah milik Thalhah…."
Thalhah adalah seorang pejuang yang tangguh di medan-medan pertempuran yang diterjuninya, tetapi ia juga seorang pengusaha yang trampil dan bertangan dingin, sehingga harta dari hasil perniagaannya melimpah ruah. Bakat dagang ini telah dimilikinya sejak masa jahiliah. Seolah telah disiapkan untuk jadi ahlul jannah, kekayaan yang dikumpulkannya lebih banyak digunakan untuk membantu orang-orang yang memerlukannya. Sejak lama ia dikenal sebagai "Thalhah al Khair (Thalhah yang baik hati)" atau juga "Thalhah al Jud (Thalhah si Penyantun)".
Ketika di Madinah, ia pernah terlihat begitu sedih dan berduka. Istrinya, Su'da bin Auf RA menanyakan sebab kesedihannya tersebut, maka Thalhah berkata, "Soal harta yang kita miliki ini, semakin hari semakin banyak saja, sehingga menyusahkan dan menyempitkan hatiku…."
Karena istrinya juga didikan Islam yang dipenuhi keimanan, ia berkata, "Bagi-bagikan sajalah kepada kaum muslimin yang memerlukannya!!"
Thalhah bangkit berdiri dan memanggil orang-orang untuk berkumpul di rumahnya, dan membagikan hartanya kepada mereka sehingga tidak tersisa, walaupun hanya satu dirham. 
Pernah juga ia berhasil menjual tanahnya dengan harga tinggi sehingga harta bertumpuk di rumahnya, maka mengalirlah air matanya, dan ia berkata, "Sungguh, jika seseorang 'dibebani' bermalam dengan harta sebanyak ini dan tidak tahu apa yang akan terjadi, pastilah akan mengganggu ketentraman ibadahnya kepada Allah…!"
Malam itu juga ia memanggil beberapa sahabatnya dan membawa harta tersebut berkeliling di jalan-jalan di kota Madinah untuk membagikan kepada yang memerlukan. Sampai fajar tiba belum habis juga, dan diteruskan  setelah shalat subuh hingga menjelang siang. Ia baru merasa lega setelah tidak tersisa lagi walau hanya satu dirham.
Berlalulah waktu, Rasulullah wafat dan digantikan Abu Bakar, Abu Bakar wafat dan digantikan oleh Umar. Selama itu irama hidupnya tidak banyak berbeda, memanggul senjata untuk menegakkan panji Islam atau menjalankan perniagaannya. Selama itu pula ia terus menunggu kapan penantiannya akan berakhir? Kapan "syahid" yang berjalan di muka bumi (yakni dirinya, sebagaimana disebut Nabi SAW)  akan menjadi benar-benar syahid?
Thalhah akhirnya menemui syahidnya di perang Jamal di masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Ironinya, dalam peperangan tersebut ia bersama Zubair bin Awwam dan Ummil Mukminin Aisyah memimpin pasukan dari Bashrah  untuk melakukan perlawanan kepada Ali bin Abi Thalib, dengan dalih menuntut balas kematian Utsman. Padahal beberapa waktu sebelumnya mereka ikut memba'iat Ali sebagai khalifah. Inilah memang dahsyatnya bahaya fitnah, sehingga orang-orang terpilih di masa Rasulullah SAW saling berperang satu sama lainnya.
Ada perbedaan pendapat tentang syahidnya Thalhah. Satu riwayat menyebutkan, ketika pertempuran mulai berlangsung dan dari kedua pihak berjatuhan korban tewas, Ali menangis dan menghentikan pertempuran, padahal saat itu posisinya dalam keadaan menang. Ali meminta kehadiran Thalhah dan Zubair untuk melakukan islah. Ali mengingatkan Thalhah dan Zubair berbagai hal ketika bersama Rasulullah SAW, termasul ramalan-ramalan beliau tentang mereka bertiga. Thalhah dan Zubair menangis mendengar penjabaran Ali dan seolah diingatkan akan masa-masa indah bersama Rasulullah SAW. Apalagi saat itu mereka melihat Ammar bin Yasir ikut bergabung dalam pasukan Ali. Masih jelas terngiang di telinga mereka sabda Nabi SAW ketika kerja bakti membangun masjid Nabawi, "Aduhai Ibnu Sumayyah (yakni, Ammar bin Yasir), ia akan terbunuh oleh kaum pendurhaka…..!!"
Kalau terus memaksakan pertempuran ini, jangan-jangan mereka menjadi "kaum pendurhaka" tersebut. Thalhah dan Zubair memutuskan menghentikan pertempuran dan ia menyarungkan senjatanya, kemudian  berbalik menemui pasukannya. Tetapi ada anggota pasukan yang tidak puas dengan keputusan ini dan mereka  memanah dan menyerang keduanya hingga tewas. Sebagian riwayat menyebutkan penyerangnya dari pasukan Ali, riwayat lain dari pasukan Bashrah sendiri.
            Sedangkan riwayat lain menyebutkan, pertempuran berlangsung seru dan pasukan Bashrah dikalahkan oleh pasukan Ali, Thalhah dan Zubair bin Awwam gugur menemui syahidnya.

Qa'is bin Sa'd bin Ubadah RA

Qa'is bin Sa'd bin Ubadah, seorang pemuda Anshar putra dari seorang sahabat dan pemuka kaum Khazraj. Ayahnya, Sa'd bin Ubadah bin Dulaim telah memeluk Islam pada Ba'iatul Aqabah kedua. Ketika Nabi SAW telah tinggal di Madinah, Sa'd membawa anaknya Qa'is kepada beliau untuk memeluk Islam, kemudian ia berkata, "Ini adalah khadam (pelayan) anda, Ya Rasulullah!!"
Beliau memandanginya cukup lama, kemudian merangkul dan mendekatkannya pada beliau. Setelah itu ia selalu mendapat tempat yang dekat dengan Rasulullah. Anas bin Malik, seorang sahabat yang juga diserahkan ibunya, Ummu Sulaim untuk menjadi pelayan Rasulullah SAW, berkata mengenai kedekatan Qa'is tersebut, "Kedudukan Qa'is bin Sa'd di sisi Nabi SAW, tak ubahnya seorang ajudan/pengawal…"
Qa'is bin Sa’d mempunyai kedudukan yang mulia di kalangan kaumnya, sebagaimana kedudukan orang tuanya. Dalam usia mudanya ia tidak seperti seorang pemuda pada umumnya, ia telah mewarisi sifat-sifat yang mulia dari keluarganya, terutama sifat dermawan dan pemurah. Karena sifatnya ini, Abu Bakar dan Umar pernah memperbincangkannya, "Kalau kita biarkan pemuda ini dengan kedermawanan dan kepemurahannya, pastilah akan tandas (habis sama sekali) kekayaan orang tuanya….!"
Ketika pembicaraan tersebut sampai kepada Sa'd bin Ubadah, ia berkata, "Siapakah yang dapat membela/memberi hujjah diriku atas Abu Bakar dan Umar? Diajarkannya anakku bersikap kikir dengan memakai namaku…!"
Pernah Qa'is memberi pinjaman kepada temannya yang sedang kesulitan dalam jumlah cukup besar. Pada hari yang disepakati untuk membayar, temannya tersebut datang kepadanya untuk mengembalikan pinjamannya. Tetapi Qa'is menolaknya sambil berkata,  "Kami tidak pernah menerima kembali, apa-apa yang telah kami berikan….!"
Ternyata dermawan dan pemurah merupakan sifat turun temurun dari keluarga besarnya. Qa'is sendiri sejak kecil tinggal bersama kakek buyutnya, Dulaim bin Haritsah. Kakek buyutnya ini mempunyai kebiasaan menyuruh seseorang berdiri di tempat ketinggian dan memanggil orang-orang untuk makan siang bersama mereka. Dan di malam harinya, ia menyuruh seseorang menyalakan api sebagai petunjuk bagi musafir dan pejalan malam lainnya, sekaligus mengundang mereka untuk makan malam di tempatnya.  Sehingga saat itu sudah menjadi pembicaraan  umum, "Siapa yang ingin makan lemak dan daging, silakan mampir ke perkampungan Dulaim bin Haritsah!!"
Selain dermawan dan pemurahnya, sifat yang menonjol dari Qa'is adalah kemampuan untuk berdiplomasi dan menyusun suatu strategi, serta membuat tipu muslihat yang sangat lihai karena kecerdikannya. Sebelum Islam masuk Madinah, ia menjadi seorang yang ditakuti karena kemampuannya tersebut. Siapa saja yang berkonflik dan bermasalah dengan dirinya, pastilah ia akan terkalahkan. Tiada suatu kesulitan dan halangan yang menghadang langkahnya, pastilah ia mampu  mencari jalan keluarnya.
Setelah memeluk Islam, dan mendapat didikan langsung dari Nabi SAW karena diserahkan orang tuanya untuk menjadi pelayan beliau, ia membuang jauh semua kebiasaannya tersebut, walau bukan berarti ia kehilangan kecerdikannya. Tetapi kecerdikannya saat itu disempurnakan dengan sifat kebenaran dan kejujuran, tidak lagi diarahkan untuk kemenangan, kemegahan, keuntungan dan nilai duniawiah semata-mata. Qa'is bin Sa'd pernah berkata tentang kemampuannya tersebut, "Kalau bukan karena Islam, saya sanggup membuat tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh orang Arab manapun!!"
Qa’is juga pernah berkata, "Kalau tidaklah aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tipu daya dan muslihat licik itu di neraka, tentulah aku orang yang paling lihai di antara umat ini…..!"
Seperti dikatakan sahabat Anas bahwa Qa'is ini tak ubahnya ajudan Nabi SAW, maka ia tak pernah tertinggal dalam pertempuran bersama beliau, seperti halnya para sahabat beliau lainnya. Begitu juga dengan masa khalifah pengganti beliau, sehingga pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib yang diwarnai dengan pertikaian dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Qa'is akhirnya memilih berpihak kepada Ali karena ia melihatnya berada di jalan kebenaran.
Khalifah Ali sempat mengangkatnya sebagai gubernur di Mesir, tetapi kemudian ia dicopot dari jabatannya  tersebut karena suatu fitnah. Tidaklah menjadi masalah ia kehilangan jabatan, hanya saja kemudian ia tahu bahwa fitnah yang mengenai dirinya itu merupakan siasat dan muslihat dari Muawiyah, sebagai pembalasan karena gagal menarik dirinya menjadi pendukungnya dan memilih berpihak kepada Ali. Bagi Muawiyah, letak geografis Mesir yang tidak jauh dari Syam, bisa membahayakan kedudukannya kalau yang menjadi gubernurnya adalah Qa'is bin Sa'd, seorang yang cerdik, ahli strategi dan sangat lihai dalam tipu muslihat.
Sebenarnya amat mudah bagi Qa'is jika ingin membalas muslihat Muawiyah dengan muslihat pula, tetapi ia tidak melakukannya. Ketika akhirnya pecah beberapa pertempuran, ia berdiri tegak membela Ali, bahkan ia menjadi pembawa panji kaum Anshar yang berjuang dengan gagah berani tanpa takut mati. Perang Nahrawan, perang Jamal dan perang Shiffin semuanya diikutinya.
Pada perang Shiffin, ia melihat dengan sangat jelasnya strategi dan muslihat Muawiyah yang cenderung menghalalkan segala cara. Karena itu ia sempat merancang strategi dan muslihat balasan yang untuk bisa membinasakan Muawiyah dan pengikut-pengikutnya. Ia berfikir bahwa semua itu dilakukannya untuk membela Ali yang memang berada di jalan kebenaran. Tetapi tiba-tiba saja ia teringat akan Firman Allah Surah Fathir ayat 43, "Dan tipu daya yang jahat itu akan kembali menimpa orang yang merancangnya sendiri…."
Qa’is tersentak kaget dan seketika sadar, dibatalkannya semua rencana yang telah disusunnya, kemudian ia bertobat mohon ampunan Allah. Kemudian ia berkata, "Demi Allah, seandainya Muawiyah bisa mengalahkan kita dalam peperangan ini, kemenangannya itu bukan karena kepintarannya, tetapi hanyalah karena kesalehan dan ketakwaan kita….!"

Senin, 08 Oktober 2012

Ja'far bin Abu Thalib RA

Ja'far bin Abu Thalib masih saudara sepupu Rasulullah SAW, putra dari Abu Thalib, paman yang mengasuh beliau dari kecil, dan menjadi pelindung Nabi SAW dan dakwah Islamiah ketika masih di Makkah, walaupun akhirnya meninggal dalam kekafiran. Nabi SAW sangat menyayangi Ja’far karena ia termasuk sahabat yang paling mirip dengan beliau. Beliau sendiri pernah bersabda kepadanya, “Engkau adalah yang paling mirip dengan akhlak dan rupaku!!”
Ja’far dan istrinya, Amma binti Umais memeluk Islam pada masa-masa awal di Makkah. Tak pelak lagi mereka mendapat tekanan dan siksaan dari para pembesar kafir Quraisy. Memang tidak seberat dialami para budak seperti Bilal, Ammar bin Yasir, Khabbat bin Aratt dan beberapa lainnya. Tetapi kehidupan mereka di tanah kelahirannya sendiri menjadi tidak nyaman dan tidak bisa bebas melaksanakan ajaran agama barunya tersebut. Karena itu, ketika  Nabi SAW menghimbau sahabat-sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), Ja'far dan istrinya segera menyambut seruan tersebut. Bahkan Nabi SAW mengangkatnya sebagai pimpinan rombongan Muhajirin pertama ini.
Kaum kafir Quraisy merasa kecolongan karena beberapa orang muslim (sebanyak 83 lelaki dan 18/19 perempuan) lolos dari pengawasan mereka, dan berhasil hijrah ke Habasyah. Tetapi mereka tidak berdiam diri begitu saja, mereka berupaya keras bagaimana bisa mengembalikan mereka ke Makkah. Dikirimlah dua orang ahli diplomasi, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. untuk mempengaruhi Najasyi agar bersedia mengembalikan kaum muhajirin tersebut ke Makkah. Mereka menyiapkan berbagai macam hadiah dan bingkisan untuk memuluskan rencana tersebut. Setibanya di Habasyah, Amr bin Ash menemui para uskup terlebih dahulu dan memberikan berbagai hadiah, dengan harapan mereka memberikan dukungan kepadanya.
Tiba waktu yang ditentukan, Amr bin Ash dan Ibnu Abi Rabiah menyampaikan hadiah dan bingkisan yang disiapkan untuk Najasyi, Raja Habasyah, kemudian menyampaikan maksud kedatangannya dengan gaya diplomasi yang manis dan memikat. Para uskuppun ikut berbicara, "Benar apa yang dikatakan mereka berdua, wahai Baginda Raja. Serahkan saja mereka kepada keduanya agar mereka bisa dikembalikan ke negerinya dan kepada kaum kerabatnya."
Tetapi Ashamah an Najasyi adalah seorang raja yang adil, berilmu dan beriman kuat (pada agama Nashrani yang dipeluknya) dan berakhlak mulia, persis seperti yang digambarkan Nabi SAW kepada para sahabat yang akan berhijrah ke Habasyah. Ia tidak akan mengambil keputusan apapun hanya berdasarkan apa yang disampaikan oleh Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Karena itu ia memerintahkan agar rombongan muhajirin tersebut dibawa menghadap kepadanya.
Kaum muslimin pun mendatangi majelis Najasyi dengan hati was-was. Mereka memang telah mengetahui kehadiran dua utusan Quraisy dan sepak terjangnya dalam upaya mengembalikan mereka ke Makkah. Merekapun menunjuk Ja'far bin Abu Thalib sebagai juru bicara menghadapi Najasyi. Setibanya di majelis itu, Najasyi berkata, "Agama seperti apakah yang kalian pegangi itu, sehingga karena agama tersebut kalian memecah belah kaum kalian, dan kalian tidak juga memeluk agama kami atau agama lainnya yang kami kenali??"
Sebagai juru bicara kaum muhajirin yang ditunjuk, Ja'far maju menghadap ke Najasyi. Apa yang dikatakannya akan menjadi penentu, apakah mereka akan tetap tinggal di Habasyah dan dengan tenang bisa melaksanakan ibadah, atau apakah mereka akan kembali ke Makkah dan menjadi sasaran siksaan dan pengejaran untuk memaksa mereka kembali ke agama jahiliahnya?
Ja'far berkata, "Wahai Tuan Raja, dulu kami pemeluk agama jahiliah yang menyembah berhala-berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, yang kuat menindas yang lemah, memutuskan tali persaudaraan dan berbagai pekerti buruk lainnya. Lalu Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri, yang sangat kami kenali nasab, kejujuran, amanah dan kesucian hatinya. Beliau menyeru kami untuk hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya. Beliau juga memerintahkan kami untuk berbuat jujur, amanah….."
Ja'far-pun menyebutkan berbagai macam perintah Islam yang harus dilaksanakan dan juga larangan-larangan yang harus ditinggalkan. Kemudian ia meneruskan, "….Tetapi kaum kami memusuhi kami, menyiksa dan menimbulkan berbagai cobaan dengan tujuan mengembalikan kami kepada penyembahan berhala dan menghalalkan berbagai macam keburukan seperti dahulu. Mereka menekan dan mempersempit ruang gerak kami, menghalangi kami dari melaksanakan ajaran agama kami sehingga Nabi SAW kami memerintahkan kami pergi ke negeri tuan, dan memilih tuan daripada orang lainnya…!! Kami gembira mendapat perlindungan tuan, dan kami berharap agar kami tidak didzalimi di sisi tuan, Wahai tuan Raja!!"
Najasyi terdiam beberapa saat, merenungi penjelasan Ja'far yang panjang lebar tersebut. Kemudian ia berkata, "Apakah kalian bisa membacakan sedikit dari ajaran kalian kepadaku??"
"Bisa, tuan Raja, " Kata Ja'far.
Kemudian ia membacakan beberapa ayat-ayat awal dari Surah Maryam. Najasyi dan beberapa orang uskup dengan ta'dhim mendengar bacaan Ja'far, tanpa terasa mereka berurai air mata sehingga membasahi jenggotnya.
"Cukup," Kata Najasyi, "Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa Isa benar-benar keluar dari misykat yang sama…"
Misykat adalah lubang di tembok tempat menaruh lampu, yang dari tempat itu cahaya menerangi seluruh ruangan. Dengan perkataannya itu berarti Najasyi mengakui bahwa Islam adalah agama wahyu, sebagaimana agama Nashrani yang dipeluknya.
Kemudian Najasyi berpaling kepada dua utusan Quraisy tersebut dan berkata, "Pergilah kalian! Sungguh aku tidak akan pernah menyerahkan mereka kepada kalian, tidak akan pernah !!"
Tak ada pilihan bagi keduanya kecuali pergi dari hadapan Najasyi. Tetapi Amr bin Ash sempat berkata pelan, "Demi Allah, besok aku akan mendatangkan mereka lagi dengan sesuatu yang bisa membinasakan mereka."
"Jangan lakukan itu," Kata Ibnu Abi Rabiah, "Bagaimanapun mereka masih kerabat kita walaupun mereka  menentang kita…!!"
Tetapi Amr bin Ash tidak memperdulikan saran temannya tersebut. Esoknya ia menghadap Najasyi dan berkata, "Wahai tuan Raja, sesungguhnya mereka menyampaikan perkataan yang menyalahi Tuan dalam masalah Isa bin Maryam!!"
Sekali lagi Najasyi mengirim utusan memanggil kaum muhajirin tersebut untuk menjelaskan masalah Isa.  Mereka menjadi kaget dan risau, bagaimanapun juga mengenai Isa bin Maryam menjadi masalah yang krusial karena jelas-jelas Islam menolak ketuhanan Isa bin Maryam. Sempat terpikir untuk mencari jawaban yang bisa menyenangkan Najasyi, tetapi akhirnya semua ditepiskan, tidaklah mereka akan mengatakan sesuatu kecuali kebenaran semata.
Ketika mereka dihadapkan dan Najasyi menanyakan hal tersebut, Ja'far berkata diplomatis, "Mengenai Isa bin Maryam, kami katakan seperti apa yang dinyatakan oleh Nabi SAW kami, bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Roh-Nya dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, sang Perawan Suci…"
Sebenarnya sama saja dan juga lebih mudah kalau dikatakan, "Isa bin Maryam bukan Tuhan". Tetapi itu akan langsung menghantam keyakinan Raja dan para pengikutnya. Di sinilah tampak kemampuan diplomatis yang dimiliki Ja'far bin Abu Thalib. Mereka telah siap dan pasrah atas keputusan dan kemarahan Raja Najasyi. Tetapi reaksi yang terjadi jauh di luar dugaan. Tiba-tiba Najasyi turun dari tahtanya, ia mengambil sepotong ranting yang ada di tanah dan berkata, "Demi Allah, Isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kamu katakan, walaupun hanya sepanjang ranting ini. Kalian aman di sini, jika ada orang yang menghina dan mencerca kalian, dia akan menanggung denda. Aku tidak suka seandainya memiliki gunung emas, sedangkan aku menyakiti salah satu dari kalian."
Sebagian pembesar dan panglimanya tampak tidak senang dengan perkataan Najasyi, mereka mendengus marah. Najasyipun berkata, "Aku tidak perduli jika kalian marah, kembalikan hadiah yang diberikan oleh kedua orang itu (utusan Quraisy), Demi Allah, Allah tidak menerima suap dariku ketika Dia memberikan amanat kerajaan ini, karena itu aku tidak perlu menerima suap dalam urusan-Nya. Tidak juga Allah menuruti kemauan orang banyak dalam urusanku, sehingga aku tidak perlu menuruti kemauan kalian dalam urusanNya."
Dengan terpaksa mereka mengembalikan hadiah-hadiah tersebut kepada dua utusan Quraisy, dan keduanya keluar dari majelis Najasyi dengan terhina.
Ja'far dan para muhajirin lainnya tetap tinggal di Habasyah sampai datang perintah Nabi SAW agar mereka segera berhijrah lagi ke Madinah, itu terjadi di bulan Dzulhijjah 6 H, atau Muharam 7 H. Tetapi sebelum mereka meninggalkan bumi Habasyah, Raja an Najasyi menyatakan dirinya memeluk Islam, sesuai dengan seruan Nabi SAW, di hadapan Ja’far bin Abu Thalib. Pada saat yang sama, Najasyi juga mengadakan ‘pesta’ pernikahan Nabi SAW dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Ia juga memberikan hadian dan perbekalan yang cukup melimpah kepada kaum muhajirin yang dipimpin Ja’far ini.
Dalam perjalanan hijrah ke Madinah ini mereka bersama-sama dengan Abu Musa al Asy'ari dan kaumnya, Asy'ariyyin yang berasal dari Yaman. Kaum Asy'ariyyin ini sebenarnya ingin menyertai Nabi SAW dan pasukan muslim lainnya yang akan menyerang kaum Yahudi di benteng Khaibar, tetapi perahu  mereka mengalami kerusakan dan terdampar di Habasyah beberapa hari lamanya.
Rombongan muhajirin ini bertemu dengan Nabi SAW yang baru pulang dari perang Khaibar, Nabi SAW langsung memeluk  Ja'far dengan hangat dan berkata, "Aku tidak tahu, mana yang lebih menggembirakan aku, dibebaskannya Khaibar atau kembalinya Ja'far…!!"
Setelah itu Nabi SAW memberikan bagian ghanimah Perang Khaibar mereka semua.
Di Madinah, Ja’far berkumpul lagi dengan banyak sahabat dan kerabatnya yang memeluk Islam, termasuk kaum Anshar yang baru dikenalinya saat itu. Ada senang dan haru, tetapi juga ada sedih, karena sebagian dari mereka  telah syahid di medan perang Badar, Uhud dan peperangan lainnya. Tiba-tiba saja muncul gairah dan kerinduan ketika mengenang mereka, gairah untuk menerjuni medan perjuangan dan syahid menyusul mereka, "Kapankah aku bisa berbuat demikian pula…??" Begitu angan-angannya.
Beberapa pertempuran kecil dan beberapa pengiriman pasukan setelah Perang Khaibar dan Umrah Qadha' belum bisa menutupi dan memuaskan gairah Ja'far untuk berjuang di jalan Allah, sampai tibanya Perang Mu'tah.
Pada perang Mu'tah, Nabi SAW menetapkan bahwa pimpinan pasukan adalah Zaid bin Haritsah, jika gugur digantikan oleh Ja'far bin Abu Thalib, dan jika ia gugur juga digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Dari apa yang dipesankan oleh Nabi SAW tersebut, Ja'far yakin betul bahwa kegairahan dan kerinduannya akan terpuaskan dalam pertempuran ini, karena beliau telah menunjuk penggantinya. Artinya, kerinduannya untuk menjadi syahid sebagaimana banyak sahabat dan kerabat lainnya pasti menjadi kenyataan. Semangatnya pun jadi makin menggelora.
Nabi SAW menyiapkan tigaribu tentara dalam pasukan Mu'tah tersebut, dan itu merupakan jumlah pasukan terbesar yang pernah dikirimkan Nabi SAW. Pasukan di bawah komando Zaid bin Haritsah ini bergerak ke arah Syam, Nabi SAW sendiri mengantar keberangkatannya sampai ke Tsaniyatul Wada'.
Setibanya di Mu'an, tak jauh dari Mu' tah, mereka mendapati kenyataan bahwa Pasukan Romawi yang harus mereka hadapi sejumlah seratus ribu orang, itupun masih ditambah tentara dari sekutu-sekutunya sejumlah seratus ribu orang, sehingga totalnya duaratus ribu tentara. Sungguh kekuatan yang sangat tidak berimbang.  Pasukan muslim bermusyawarah, dan sempat memutuskan  untuk mengabarkan jumlah pasukan musuh kepada Nabi SAW, sambil menunggu petunjuk beliau lebih lanjut.
Tetapi pendapat tersebut ditentang oleh komandan lapis ke tiga, Abdullah bin Rawahah. Menurutnya, pertempuran ini adalah karena Allah dan Agama-Nya, bukan karena jumlah pasukan yang dihadapinya, Rasulullah SAW telah menetapkan pertempuran ini dan tugas mereka melaksanakannya. Apapun hasilnya adalah kebaikan semata, yakni kemenangan, atau gugur sebagai syahid. Pendapat ini yang akhirnya disetujui secara aklamasi.
Pertempuran-pun berlangsung seru, jumlah yang sedikit tidak mematahkan semangat perjuangan mereka, dan tidak berarti menjadi mudah bagi pasukan Romawi untuk menaklukan pasukan muslim. Ketika akhirnya Zaid menemui syahidnya, Ja'far segera mengambil panji peperangan dari tangan Zaid, dan terus menghambur menyerang musuh. Ketika gerakan kudanya makin terbatas sehingga tidak leluasa berperang, ia turun dari kudanya yang bernama Syaqra' dan melukai kaki kudanya. Ia tidak ingin kudanya tersebut lari dari medan pertempuran, selagi tuannya masih terus berjuang. Ia adalah orang pertama yang melakukan hal tersebut.
Sebagian riwayat menyebutkan, Ja’far tidak turun, tetapi terlempar  jatuh dari kudanya karena begitu semangatnya, dan ia meneruskan perjuangan dengan berjalan kaki. Tangan kiri memegang panji dan tangan kanan terus menyerang musuh tanpa ampun. Ketika tangan kanannya putus terkena senjata lawan, ia mengepit panji dengan sisa tangan kanannya, dan tangan kirinya  meraih pedang untuk meneruskan menyerang musuh. Ketika tangan kirinya juga terputus kena pedang lawan, ia  berdiri tegak mempertahankan panji agar tetap berkibar, sampai akhirnya senjata lawan bertubi-tubi menyerangnya  hingga dia gugur sebagai syahid, gugur dengan senyum tersungging karena gairah dan kerinduannya terpuaskan. Panji peperangan diambil alih Abdullah bin Rawahah untuk meneruskan perempuran.
Ketika Nabi SAW diberitahu tentang kondisi tubuh Ja'far bin Abu Thalib tersebut, beliau mengatakan bahwa Allah menganugerahinya dua sayap di surga sebagai pengganti tangannya tersebut. Karena itu, Ja'far juga digelari dengan 'ath Thayyar' (penerbang) atau 'Dzul Janahain' (orang yang memiliki dua sayap).

Zaid bin Haritsah RA

Keluarga Zaid bin Haritsah hanyalah keluarga Arab biasa, yang ketika itu sedang mengunjungi kerabatnya di kampung Kabilah Bani Ma'an, dan Zaid kecil diajak serta. Takdir Allah menghendaki akan mengangkat derajadnya setinggi-tingginya, tetapi melalui jalan musibah. Tiba-tiba sekelompok perampok badui menjarah perkampungan Bani Ma’an tersebut, harta bendanya dikuras habis dan sebagian penduduknya ditawan untuk dijual sebagai budak, termasuk di antaranya adalah Zaid bin Haritsah.
Zaid bin Haritsah yang masih kecil itu dijual di pasar Ukadz di Makkah, ia dibeli oleh Hakim bin Hizam. Oleh Hakim, ia diberikan kepada bibinya, Khadijah binti Khuwailid, yang tak lain adalah istri Nabi SAW, dan akhirnya ia diberikan kepada Nabi SAW untuk menjadi khadam (pelayan) beliau. Walau saat itu Nabi SAW belum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, tetapi pendidikan yang diperoleh Zaid dari beliau merupakan pendidikan berbasis akhlak mulia, didikan yang berbasis kenabian yang menaikkan derajadnya, dan mengantarnya menjadi salah seorang kelompok sahabat as sabiqunal awwalin.
Ketika ayahnya, Haritsah mendengar kabar bahwa putranya dimiliki oleh seorang keluarga bangsawan Quraisy di Makkah, ia bergegas mengumpulkan harta semampunya untuk menebusnya dari perbudakan. Ia mengajak saudaranya untuk menemaninya ke Makkah. Sesampainya di Makkah, ia menemui Nabi SAW dan berkata, "Kami datang kepada anda untuk meminta anak kami, kami mohon anda bersedia mengembalikannya kepada kami dan menerima uang tebusan yang tidak seberapa banyaknya ini!!"
"Tidak harus seperti itu," Kata Nabi SAW, "Biarlah ia memilih sendiri. Jika ia memilih anda, saya akan mengembalikannya kepada anda tanpa tebusan apapun. Tetapi jika ia memilih saya, maka saya tidak bisa menolak orang yang dengan sukarela mengikuti saya…!"
Nabi SAW menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Sementara itu tampak kegembiraan Haritsah dengan penjelasan beliau. Ia akan meperoleh kembali anaknya tanpa tebusan apapun, begitu pikirnya. Ketika Zaid telah datang, beliau berkata kepadanya, "Tahukah engkau, siapa dua orang ini?"
"Ya, saya tahu," Kata Zaid, "Yang ini ayahku, satunya lagi adalah pamanku…"
Nabi SAW menjelaskan permintaan ayahnya, dan juga tentang pilihan yang beliau berikan kepadanya. Tanpa berfikir  panjang, Zaid berkata, "Tak ada pilihanku kecuali anda, andalah ayahku, dan andalah juga pamanku…!"
Mendengar jawaban Zaid ini ayah dan pamannya terkejut, tetapi Nabi SAW tampak berlinang air mata karena haru dan syukur. Beliau memang sangat  menyayanginya seperti anak sendiri, sehingga bagaimanapun secara manusiawi, beliau akan merasa kehilangan jika Zaid memutuskan untuk kembali kepada keluarganya sendiri. Segera saja Nabi SAW membawa Zaid ke Ka'bah dimana biasanya para pembesar Quraisy berkumpul, kemudian beliau berkata lantang, "Saksikanlah oleh kalian semua, mulai hari ini Zaid adalah anakku, ia ahli warisku dan aku ahli warisnya…"
Memang, budaya Arab saat itu membenarkan mengangkat anak yang statusnya sama seperti anak kandung. Sejak itu, Zaid dikenal dengan nama Zaid bin Muhammad. Dalam perkembangan selanjutnya ketika telah tinggal di Madinah, Al Qur'an melarang penisbahan kecuali kepada ayah kandungnya, begitu juga anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung. Salah  satu cara Allah SWT ‘membongkar’ budaya jahiliah ini adalah Nabi SAW diperintahkan menikahi atau lebih tepatnya dinikahkan dengan janda Zaid bin Haritsah, yakni Zainab binti Jahsy, melalui firman Allah dalam surah al Ahzab 37. Zaid sendiri kemudian dinikahkan Nabi SAW dengan Ummu Kaltsum binti Uqbah, saudara dari Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb.
Mendengar pernyataan Nabi SAW ini, Haritsah menjadi tenang, ia tidak perlu lagi merisaukan bahwa anaknya akan terlantar atau tersiksa karena statusnya sebagai budak. Ia kembali ke kaumnya dengan hati riang dan bangga.
Zaid bin Haritsah menjadi kelompok pertama pemeluk Islam karena ia tinggal bersama Rasulullah SAW. Ia  menjadi orang yang ke dua (setelah Khadijah RA) atau ke tiga (setelah Ali bin Abi Thalib) yang meyakini kenabian Nabi Muhammad SAW. Ia begitu disayang oleh Nabi SAW, di samping karena ketinggian akhlaknya sebagai hasil didikan beliau sendiri, kecintaannya kepada Nabi SAW juga begitu besar. Ia rela menderita dan kesakitan demi keselamatan beliau. Hal ini tampak jelas ketika ia mendampingi beliau menyeru penduduk Thaif untuk memeluk Islam.
Ketika Abu Thalib dan Khadijah wafat, tekanan dan siksaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy makin meningkat, karena itu beliau berinisiatif untuk menyeru penduduk Thaif untuk memeluk Islam. Kalau berhasil, setidaknya bisa mengurangi dan menghambat tekanan kaum Quraisy, karena Bani Tsaqif yang mendiami kota Thaif adalah kabilah yang cukup kuat. Beliau menempuh jarak sekitar 90 atau 100 km dengan berjalan kaki, hanya berdua dengan Zaid bin Haritsah.
Selama sepuluh hari tinggal di Thaif ternyata tidak ada seorangpun yang menyambut seruan beliau. Bahkan akhirnya mereka mengusir beliau dari Kota Thaif. Tidak cukup itu, mereka mengumpulkan beberapa orang jahat dan para budak  mengerumuni beliau, membentuk dua barisan di kanan kiri jalan, dan mereka mencaci maki serta melemparkan batu kepada mereka berdua. Zaid bin Haritsah mati-matian melindungi Nabi SAW dari serangan lemparan batu tersebut. Tak terkira luka-luka di kepala dan tubuhnya, karena mereka terus melakukan serangan batu tersebut sepanjang 4,5 km (3 mil) perjalanan, sampai Nabi SAW dan Zaid masuk dan berlindung ke dalam kebun milik Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabiah, seorang tokoh Quraisy.
Luka mengucur hampir dari seluruh bagian tubuh Zaid, Nabi SAW sendiri juga terluka, bahkan salah urat di atas tumit beliau putus sehingga darah membasahi terompah beliau. Tetapi Zaid justru lebih mengkhawatirkan luka pada kaki Nabi SAW daripada luka-luka yang dialaminya. Persoalan belum selesai sampai di situ, kaum kafir Quraisy dengan pimpinan Abu Jahal ternyata telah bersiap-siap menolak Rasulullah SAW untuk memasuki Makkah, bahkan akan mengusir beliau. Zaid bin Haritsah bertanya, "Bagaimana caranya engkau memasuki Makkah, Ya Rasulullah, padahal mereka telah (berniat) mengusir engkau?"
"Wahai Zaid," Kata Nabi SAW, "Sesungguhnya Allah akan menciptakan kelonggaran dan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi ini. Sungguh Allah pasti akan menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya….!"
Setelah hijrah ke Madinah, Zaid tidak pernah terlewat berjuang bersama Rasulullah SAW. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan lain-lainnya, semua diterjuninya tanpa kenal menyerah. Jika Nabi SAW mengirim suatu pasukan sementara beliau sendiri tidak mengikutinya, pastilah Zaid yang ditunjuk sebagai pemimpinnya. Misalnya perang al Jumuh, at Tharaf, al Ish, al Hismi dan beberapa peperangan lainnya.
Tibalah pertempuran Mu'tah, sebuah pertempuran tidak berimbang antara pasukan muslim yang hanya 3.000 orang melawan pasukan Romawi dan sekutunya sebanyak 200.000 orang. Pemicu pertempuran ini adalah terbunuhnya utusan Nabi SAW ke Bushra, Harits bin Umair RA oleh Syurahbil bin Amr, pemimpin Balqa yang berada di bawah kekuasaan kaisar Romawi. Pasukan muslim 3.000 orang saat itu adalah yang terbesar yang pernah dipersiapkan beliau, dan beliau tidak pernah menyangka bahwa pasukan Romawi akan menghadapinya dengan prajurit sebanyak itu. Tetapi seperti memperoleh pandangan ke depan (vision), beliau menunjuk tiga orang sebagai komandan secara berturutan, pertama Zaid bin Haritsah, kedua Ja'far bin Abi Thalib dan ketiga Abdullah bin Rawahah.
Ketika pasukan tiba di Mu'an, tidak jauh dari Mu'tah, mereka baru memperoleh informasi bahwa pasukan Romawi sebanyak 200.000 orang. Mereka bermusyawarah tentang jalan terbaik, sebab kalau nekad bertempur, sama saja dengan bunuh diri. Setelah banyak pendapat yang masuk, diputuskan untuk memberitahukan Nabi SAW jumlah pasukan yang harus dihadapi. Setelah itu terserah petunjuk beliau, apa akan terus melawan? Menunggu bantuan? Atau apa nanti, terserah perintah Nabi SAW.
Tetapi pendapat tersebut ditentang oleh komandan lapis ke tiga, Abdullah bin Rawahah. Menurutnya, pertempuran ini adalah karena Allah dan Agama-Nya, bukan karena jumlah pasukan yang dihadapinya. Rasulullah SAW telah memerintahkan dan tugas mereka melaksanakannya. Apapun hasilnya adalah kebaikan semata, yakni kemenangan, atau gugur sebagai syahid. Pendapat Ibnu Rawahah tersebut seolah menyadarkan mereka, dan menggelorakan semangat berjihad kaum muslimin tersebut, bukan semata-mata takut dan bunuh-diri.
Pertempuran hebat antara 3.000 pasukan melawan 200.000 pasukan, sangat mudah diramalkan bagaimana kesudahannya. Dan seperti "diramalkan" Nabi SAW, Zaid bin Haritsah gugur dengan luka-luka yang tidak bisa dibayangkan bagaimana parahnya, jauh lebih parah daripada luka-lukanya sepulang dari Thaif. Namun demikian tampak sesungging senyum di bibirnya, karena sesungguhnya-lah ia tak sempat melihat dan mengamati medan pertempuran. Kebun-kebun surga dan bidadari-bidadari yang jelita seolah menyerunya untuk segera datang, sehingga apapun dan  siapapun yang menghalangi jalannya, ditebasnya habis dengan pedang dan tombaknya. Dan ia benar-benar telah merasa gembira dan ridha ketika tubuhnya roboh tak bergerak karena luka-luka yang dialaminya, sementara ruh-nya terbang tinggi memenuhi panggilan kasih sayang Ilahi. “Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji-‘ii ilaa robbiki roodhiyatan mardhiyyah, fadhkhuuli fii ‘ibaadii, wadhkhuulii jannatii….!!”

Abu Ubaidah bin Jarrah RA

Amir bin Abdullah bin Jarrah atau lebih dikenal dengan nama Abu Ubaidah bin Jarrah, termasuk dalam golongan sahabat yang mula-mula memeluk Islam (as sabiqunal awwalun). Dan seperti kebanyakan sahabat yang memeluk Islam pada hari-hari pertama didakwahkan, Abu Bakar mempunyai peran penting dalam mempengaruhi keputusannya itu. Abu Ubaidah mengikuti hijrah ke Habasyah yang ke dua, tetapi tak lama kembali lagi ke Makkah karena ia merasa lebih nyaman berada dekat dengan Nabi SAW, walaupun mungkin jiwanya terancam. Ketika hijrah ke Madinah, Nabi SAW mempersaudarakannya dengan Sa'ad bin Mu'adz.  Abu Ubaidah termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika masih hidupnya.
Ketika ia berba'iat memeluk Islam, tiga kata yang tertanam dalam benaknya, "Jihad fi Sabilillah". Semua pertempuran bersama Nabi SAW diikutinya. Diterjuninya perang Badar, yang pada dasarnya merupakan pertempuran melawan sanak kerabatnya sendiri, dan juga sahabat-sahabatnya di masa jahiliah. Semuanya itu menjadi ringan karena jiwanya telah terangkum dalam tiga kata tersebut. Bahkan ada salah satu riwayat, ia membunuh ayahnya sendiri dalam peperangan tersebut. Sebenarnya ia telah berusaha menghindari bentrok dengan ayahnya yang ada di fihak kaum kafir, kalaupun ayahnya harus terbunuh, bukanlah tangannya yang melakukannya. Tetapi ayahnya selalu mengikuti dan mengejarnya sehingga tidak ada pilihan lain selain melakukan perlawanan, sehingga akhirnya ia menewaskannya.
Ia sempat gelisah dengan apa yang dilakukannya, kemudian turunlah surah al Mujadalah ayat 22, yang membenarkan sikapnya, bahkan memuji keimanannya.
Dalam perang Uhud, Nabi SAW sempat mengalami kondisi kritis, diama beliau hanya dilindungi oleh Thalhah dan Sa'd bin Abi Waqqash, sementara pasukan Quraisy mengepung dengan maksud untuk membunuh beliau. Utbah bin Abi Waqqas melempar beliau dengan batu, hingga mengenai lambung dan bibir beliau. Abdullah bin Syihab memukul kening beliau dan akhirnya Abdullah bin Qamiah memukul bahu dan pipi beliau dengan pedang. Beliau memang memakai baju besi, tetapi akibat serangan tersebut, gigi seri beliau pecah, bibir dan kening terluka, bahkan ada dua potong besi dari topi  baja yang menancap pada pipi beliau.
Beberapa sahabat berusaha membuka "jalan darah" mendekati posisi Nabi SAW untuk bisa memberikan perlindungan kepada beliau. Abu Bakar dan Abu Ubadiah yang paling cepat tiba, dan saat itu Thalhah telah tersungkur karena luka-lukanya. Tidak berapa lama, beberapa sahabat mulai berkumpul di sekitar Nabi SAW dan mengamankan keadaan beliau, termasuk seorang pahlawan wanita, Ummu Amarah (Nushaibah binti Ka'b al Maziniyah).
Melihat ada besi yang menancap di pipi Nabi SAW, Abu Bakar berniat untuk mencabut besi itu, tetapi Abu Ubaidah berkata kepada Abu Bakar, "Aku bersumpah dengan hakku atas dirimu, biarkanlah aku yang melakukannya…"
Abu Bakarpun membiarkan Abu Ubaidah melakukannya. Tetapi ia tidak mencabut besi itu dengan tangannya karena khawatir akan menyakiti Nabi SAW, ia menggigit besi itu dengan gigi serinya, dan menariknya perlahan. Besi itu terlepas, tetapi tanggal pula gigi Abu Ubaidah dan darahpun mengucur. Masih ada satu potongan besi lagi, karena dilihatnya Abu Ubaidah terluka, Abu Bakar berniat mencabutnya, tetapi sekali Abu Ubaidah berkata, "Aku bersumpah dengan hakku atas dirimu, biarkanlah aku yang melakukannya…"
Kemudian ia melakukannya sekali lagi dengan gigi serinya yang lain, kali inipun giginya tanggal bersama besi yang terlepas dari pipi Rasulullah SAW. Jadilah ia pahlawan besar yang giginya terlihat ompong jika sedang membuka mulutnya. Tetapi Abu Ubaidah justru membanggakan "cacatnya" tersebut, karena itu menjadi peristiwa bersejarah dalam hidupnya bersama Rasulullah SAW. Bahkan ia sangat ingin membawa "ompongnya" tersebut ke hadapan Allah SWT di hari kiamat sebagai hujjah kecintaan kepada Nabi SAW.
Sebelum peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, Nabi SAW pernah mengirim Abu Ubaidah dengan sekitar tigaratus orang anggota pasukan untuk mengintai kafilah dagang Quraisy. Bekal yang diberikan beliau tidak lebih dari sebakul kurma, sehingga setiap orang hanya mendapat jatah segenggam kurma. Ketika perbekalan mereka habis, Abu Ubaidah memerintahkan pasukannya menumbuk daun kayu khabath dengan senjatanya sehingga menjadi tepung dan diolah menjadi roti, dan sebagian lagi makan daun-daunnya. Makanan yang sangat tidak layak sebenarnya, tetapi tidak ada pilihan lain, dan tugas harus tetap dilaksanakan.
Setelah beberapa hari dalam keadaan seperti itu, mereka tiba di pesisir pantai, dan tampak sebuah gundukan besar di sana. Setelah didekati ternyata sebuah ikan besar, sejenis ikan paus yang terdampar. Mereka menggunakan ikan tersebut sebagai bahan makanan selama hampir limabelas hari di sana, sehingga kembali sehat bahkan cenderung lebih gemuk dari sebelumnya. Saat pulang kembali, mereka membawa sisa-sisa daging ikan itu untuk perbekalan di perjalanan.
Ketika sampai di Madinah, Abu Ubaidah menceritakan pengalaman mereka kepada Nabi SAW, dan beliau berkata, “Itu adalah rezeki yang diberikan Allah kepada kalian. Apakah masih ada sisa dagingnya untuk kami di sini?”
Mereka membagi-bagikan daging ikan yang masih ada tersebut, dan Nabi SAW ikut memakannya. Dan dalam sejarah peristiwa ini dikenal dengan nama "Ekspedisi Daun Khabath".
Pada tahun 9 hijriah, datang utusan dari Najran yang berjumlah enampuluh orang. Najran merupakan suatu wilayah yang luas di Yaman, memiliki seratus ribu prajurit yang bernaung di bawah bendera Nashrani. Sebagian dari utusan ini adalah para bangsawannya sebanyak 24 orang, dan para pemimpin kaum Najran sendiri sebanyak tiga orang. Mereka belum memeluk Islam, tetapi sempat melakukan diskusi dan perdebatan tentang Isa.
Allah menurunkan Surah Ali Imran 59-61, sehingga Nabi SAW menantang mereka untuk "mubahalah" sesuai dengan petunjuk wahyu yang turun tersebut. Tetapi utusan Najran tersebut tidak berani menerima tantangan Nabi SAW tersebut. Sedikit atau banyak ada juga keyakinan mereka bahwa Nabi SAW memang seorang Nabi, hanya saja mereka masih yakin juga akan ketuhanan Isa.
Mubahalah atau disebut juga mula’anah adalah proses di mana dua kelompok saling berdoa kepada Allah (atau Tuhannya masing-masing), yang doa itu diakhiri dengan permintaan kepada Allah (atau Tuhannya masing-masing), jika memang dirinya atau kelompoknya tidak benar, laknat Allah akan turun kepada mereka karena kedustaannya itu. Mungkin proses ini yang di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, diadopsi menjadi prosesi ‘sumpah pocong’, di mana dua orang saling menuduh dan menolak tuduhan, yang masing-masing tidak mempunyai bukti cukup kuat. Dan kedua belah pihak juga tidak bersedia mencabut atau membatalkan tuduhannya tersebut, masing-masing merasa benar sendiri.
Akhirnya, kaum Nashrani dari Najran itu melunak, walaupun belum memeluk Islam, mereka meminta Nabi SAW mengirim seseorang bersama mereka ke Najran untuk lebih memperkenalkan Islam kepada masyarakat mereka. Maka Nabi SAW berkata, "Baiklah, akan saya kirimkan bersama tuan-tuan seseorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya…..!!"
Para sahabat sangat takjub mendengar ucapan Nabi SAW, yakni pujian beliau sebagai orang terpercaya, dan beliau mengulangnya hingga tiga kali untuk menegaskan, siapakah orang tersebut sebenarnya? Setiap sahabat berharap, dia-lah yang ditunjuk oleh Nabi SAW. Bahkan Umar bin Khaththab yang tidak memiliki ambisi untuk memegang suatu jabatan apapun, sangat menginginkan agar dialah yang dimaksud Rasulullah SAW.
Ketika itu waktunya shalat dhuhur, Umar berusaha menampilkan dirinya di dekat Nabi SAW. Namun walau Nabi SAW telah melihat dirinya, beliau masih mencari-cari seseorang. Ketika pandangan beliau jatuh pada Abu Ubaidah, beliau bersabda, "Wahai Abu Ubaidah, pergilah berangkat bersama mereka, dan selesaikan apabila terjadi perselisihan di antara mereka….!"
            Inilah dia orang terpercaya itu, dan para sahabat lainnya tidak heran kalau ternyata Abu Ubaidah yang dimaksudkan Nabi SAW. Beberapa kali, dalam beberapa kesempatan berbeda, beliau menyebut Abu Ubaidah sebagai ‘Amiinul Ummah’, orang kepercayaan ummat Islam ini.
Abu Ubaidah-pun menyertai rombongan tersebut kembali ke Najran, sebagaimana diperintahkan Nabi SAW. Sebagian riwayat menyebutkan, dua dari tiga pemimpinnya masuk Islam setelah mereka tiba di Najran, Yakni Al Aqib atau Abdul Masih, pemimpin yang mengendalikan roda pemerintahan, dan As Sayyid atau Al Aiham atau Syurahbil, pemimpin yang mengendalikan masalah peradaban dan politik. Lambat laun Islam menyebar di Najran berkat bimbingan ‘Amiinul Ummah’ ini. Bahkan akhirnya Nabi SAW mengirimkan Ali bin Thalib untuk membantu Abu Ubaidah dalam urusan Shadaqah dan Jizyah dari masyarakat Najran yang makin banyak yang memeluk Islam.
Pada masa khalifah Abu Bakar, ia mengikuti pasukan besar yang dipimpin oleh Khalid bin Walid untuk menghadang pasukan Romawi, yang dikenal dengan nama Perang Yarmuk. Walau ia seorang sahabat besar, senior dan seorang kepercayaan Nabi SAW dan kepercayaan ummat, ia hanyalah seorang prajurit biasa sebagaimana banyak sahabat besar lainnya. Dan tidak ada masalah baginya kalau komandannya adalah Khalid bin Walid, yang baru memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah, sebelum terjadinya Fathul Makkah. Padahal sebelumnya ia sangat gencar memerangi kaum muslimin sewaktu masih kafirnya. Bahkan Khalid bin Walid juga yang berperan besar menggagalkan kemenangan pasukan muslim di perang Uhud dan memporak-porandakan kaum muslimin, bahkan hampir mengancam jiwa Nabi SAW. Tetapi itulah gambaran umum  karakter sahabat Nabi SAW yang sebenarnya, termasuk Abu Ubadiah bin Jarrah. Ikhlas berjuang di jalan Allah, tidak karena jabatan, kekuasaan, harta, nama besar, atau bahkan tidak untuk kemenangan itu sendiri. Tetapi semua ikhlas karena Allah dan RasulNya.
Kembali ke perang Yarmuk, ketika pertempuran berlangsung sengit dan kemenangan sudah tampak di depan mata, datanglah utusan dari Madinah menemui Abu Ubaidah membawa dua surat dari khalifah. Pertama mengabarkan tentang kewafatan khalifah Abu Bakar, dan Umar diangkat sebagai khalifah atau penggantinya. Kedua, tentang keputusan khalifah Umar mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai komandan seluruh pasukan, menggantikan Khalid bin Walid.
Setelah membaca dua surat tersebut, Abu Ubaidah menyuruh utusan tersebut menyembunyikan diri di tenda sampai pertempuran selesai, ia meneruskan menyerang musuh. Setelah perang usai dan pasukan Romawi dipukul mundur, Abu Ubaidah menghadap Khalid  layaknya seorang prajurit kepada komandannya, dengan hormat dan penuh ta'dhimnya, dan menyerahkan dua surat dari khalifah Umar tersebut. Usai membaca dua surat itu, Khalid ber-istirja' (mengucap Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’un), dan memberitahukan kepada seluruh pasukan tentang isi dua surat tersebut, kemudian ia menghadap Abu Ubaidah, tak kalah hormat dan ta'dhimnya, dan berkata, "Semoga Allah memberi rahmat anda, wahai Abu Ubaidah, mengapa anda tidak menyampaikan surat ini padaku ketika datangnya..??"
Abu Ubaidah yang cukup mengenal ketulusan dan keikhlasan Khalid dalam berjuang, menjawab dengan santun, "Saya tidak ingin mematahkan ujung tombak anda! Kekuasaan dunia bukanlah tujuan kita, dan bukan pula untuk dunia kita beramal dan berjuang! Tidak masalah dimana posisi kita, kita semua bersaudara karena Allah!!"
Sebagian riwayat menyatakan utusan tersebut menemui Khalid bin Walid, setelah membacanya  ia menyuruh utusan bersembunyi sampai perang usai. Setelah kemenangan tercapai, Khalid bin Walid menghadap Abu Ubaidah layaknya seorang prajurit kepada komandannya, dan peristiwa berlangsung penuh ketulusan dan keikhlasan seperti riwayat sebelumnya.
Abu Ubaidah wafat ketika menjabat sebagai gubernur Syam, pada masa khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu berjangkit penyakit tha'un (semacam wabah penyakit) yang menyerang dan membunuh beberapa orang sekaligus Ketika wafatnya ini, sahabat Mu'adz bin Jabal berkata khalayak ramai yang turut menghantar jenazahnya, "Sesungguhnya kita sekalian telah kehilangan seseorang yang, Demi Allah, aku menyangka tidak ada orang  lain yang lebih sedikit dendamnya, lebih bersih hatinya, dan paling jauh dari perbuatan merusak, lebih cintanya pada kehidupan akhirat, dan lebih banyak memberikan nasehat kecuali Abu Ubaidah ini. Keluarlah kalian untuk menyalatkan jenazahnya, dan mohonkan rahmat Allah untuknya."
Mu'adz memimpin shalat jenazahnya dan turun ke liang lahat bersama Amru bin 'Ash dan Dhahak bin Qais.

Ubadah bin Shamit RA

Ubadah bin Shamit merupakan kelompok awal shahabat Anshar yang memeluk Islam, yakni ketika terjadi Ba'iatul Aqabah pertama, salah satu dari dua belas orang Madinah yang pertama berba’iat kepada Nabi SAW. Dan pada Ba'iatul Aqabah ke dua, sekali lagi ia menyertai tujuhpuluh orang Madinah yang ingin berba'iat kepada Nabi SAW. Usai ba'iat, Nabi SAW menunjuk dua belas orang pemuka sebagai pemimpin dari kaumnya masing-masing, salah satunya adalah Ubadah bin Shamit untuk beberapa kabilah dari Suku Aus.  
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Madinah banyak yang menjalin persekutuan dengan kaum Yahudi, begitu juga dengan kaumnya Ubadah bin Shamit. Setelah Islam datang, Nabi SAW mengukuhkan lagi persekutuan itu dalam bentuk Piagam Madinah. Tetapi ketika terjadi perang Badar dan perang Uhud, kaum Yahudi hanya berpangku tangan, bahkan cenderung menyebar fitnah dan menimbulkan kekacauan di kalangan pasukan Muslim. Mereka juga menyombongkan diri bahwa pasukan muslimin takkan bisa mengalahkan mereka kalau mereka bersatu memerangi Nabi SAW.
Ubadah bin Shamit langsung bereaksi melihat sikap kaum Yahudi tersebut, ia memutuskan hubungan persekutuan kabilahnya dengan kaum Yahudi Bani Qainuqa yang telah berlangsung lama, jauh sebelum ia memeluk Islam. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya jiwa teman-teman karibku dari kalangan Yahudi sangat keras. Mereka memiliki senjata dan peralatan peperangan yang sangat kuat. Namun demikian, aku hanya berwali kepada Allah dan RasulNya serta berlepas diri dari berwali kepada orang-orang Yahudi. Tiada wali bagiku selain Allah dan RasulNya."
Rasulullah SAW menyambut baik keputusan Ubadah bin Shamit. Dan kemudian turun surah Al Maidah ayat 56 sebagai bentuk dukungan dan pembenaran atas sikap yang diambilnya terhadap kaum Yahudi. Dalam riwayat lain disebutkan, bukan hanya ayat 56, tetapi sikapnya dalam peristiwa tersebut menjadi asbabun nuzul dari Surat Al Maidah ayat 51 s.d. 67.
Suatu ketika ia mendengar penjelasan Nabi SAW tentang tanggung jawab seorang amir, dan konsekwensinya jika ia melalaikan tugasnya, bahkan hanya memperkaya diri sendiri. Seketika tubuhnya gemetar dan hatinya terguncang. Iapun bersumpah tidak akan pernah memegang jabatan apapun, walaupun hanya membawahi dua orang.
Ketika Umar menjabat khalifah, ia tak mampu memaksa Ibnu Shamit untuk memegang suatu posisi pimpinan atau jabatan apapun, kecuali mengajar umat memperdalam pengetahuan keislaman mereka. Kalaupun terjun ke medan pertempuran, ia memilih untuk menjadi prajurit biasa saja walaupun sebenarnya ia seorang sahabat senior dan berpengalaman. Karena itu Umar mengirimkan dia ke Syam (Syiria) bersama Mu'adz bin Jabal dan Abu Darda untuk mengajar umat Islam di sana. Saat itu yang menjadi Amir (gubernur) di sana adalah Muawiyah bin Abu Sufyan.
Ubadah bin Shamit tidak cukup kerasan di sana. Gaya hidupnya adalah didikan Nabi SAW, zuhud terhadap dunia, sederhana, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk ibadah dan belajar (menuntut ilmu). Ketika ia melihat  bagaimana cara hidup Amirnya, Muawiyah yang selalu bermegah-megahan dengan duniawiah, ia tak segan melakukan protes sekaligus perlawanan. Setelah tinggal beberapa lama di Syiria dalam suasana jiwa yang tidak nyaman, ia pulang kembali ke Madinah.
Umar menemui Ubadah bin Shamit di Masjid Nabawi, dan bertanya, "Apa yang menyebabkan engkau kembali ke sini, ya Ubadah?"
Ubadah menceritakan semua yang terjadi, termasuk pertentangannya dengan Muawiyah, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Madinah. Umar berkata, "Kembalilah segera ke sana!! Sungguh amat buruk suatu negeri jika tidak mempunyai orang seperti anda!!"
Tidak ada pilihan lain bagi Ubadah kecuali kembali ke Syam (Syiria) melanjutkan misi pengajarannya. Tetapi ternyata diam-diam Umar mengirim surat kepada Muawiyah, isinya antara lain, “…Tidak ada wewenangmu sedikitpun sebagai Amir terhadap Ubadah bin Shamit…."
            Pada masa khalifah Utsman, tepatnya pada tahun 27 hijriah, Muawiyah yang masih menjadi gubernur Syam, meminta ijin untuk menyerang dan menyebarkan Islam di Pulau Cyprus, di suatu kepulauan di Laut Tengah termasuk wilayah Eropa saat ini, dan Utsman menyetujuinya. Sebenarnya pada masa Khalifah Umar, Muawiyah telah pernah mengajukan usulan itu tetapi ditolak. Umar berpendapat, setelah bermusyawarah dengan para sahabat senior, bahwa kaum Arab, khususnya kaum muslimin, tidak mempunyai pengalaman yang memadai untuk bertempur menyeberangi lautan luas. Ia khawatir akan banyak korban sia-sia dari kaum muslimin, yang ia akan diminta pertanggung-jawabannya oleh Allah di akhirat kelak.
            Muawiyah segera membuat dan mempersiapkan kapal-kapal (perahu) besar untuk membawa pasukan kaum muslimin menjelajahi Laut Tengah. Inilah armada ‘angkatan laut’ pertama dalam Islam, dan Ubadah bin Shamit bersama istrinya, Ummu Haram binti Milhan ikut serta dalam pasukan tersebut. Cyprus dapat ditaklukkan dan penduduknya bersedia membayar Jizyah (pajak), dan Islam mulai didakwahkan di wilayah tersebut. Tetapi Ubadah bin Shamit kehilangan istrinya yang mati syahid dalam perjalanan mengarungi samudra ini, dan jenazahnya dimakamkan di Cyprus.
Peristiwa ini telah pernah ‘diperlihatkan’ Allah kepada Nabi SAW belasan tahun sebelumnya, ketika beliau sedang tertidur di rumah Ummu Haram binti Milhan. Saat itu Nabi SAW sangat bangga ‘melihat’ umat beliau berperang menjelajah lautan. Walau telah kehilangan istrinya, semangat Ibnu Shamit tidak surut untuk terus berjihad, sampai akhirnya Islam tersebar luas di wilayah Eropa.

Ammar bin Yasir RA

Ammar bin Yasir merupakan sahabat as sabiqunal awwalin, kelompok sahabat yang terdahulu memeluk Islam. Tidak tanggung-tanggung, setelah memeluk Islam, ia berhasil mengajak ibu dan ayahnya memproleh hidayah yang sama. Ayahnya, Yasir bin Amir adalah perantau  dari Yaman yang bersahabat dengan Abu Hudzaifah bin Mughirah, dan dinikahkan dengan sahayanya, Sumayyah bin Khayyath.
Karena mereka ini, Ammar dan kedua orang tuanya, termasuk keluarga miskin, kaum Quraisy menjadikan mereka sebagai sasaran  penyiksaan karena pilihan mereka memeluk Islam. Bani Makhzum, tempat mereka berlindung selama ini sangat marah ketika mengetahui mereka telah murtad dari agama nenek moyangnya. Penyiksaan demi penyiksaan dilakukan tanpa kasihan kepada keluarga ini, tetapi semua itu tidak menambahkan kecuali keimanan dan keyakinan kepada agama barunya, Islam. Dibiarkan di terik matahari padang pasir, didera, disulut dengan api menyala, dan berbagai tindakan mengerikan di luar peri kemanusiaan diberlakukan kepada mereka untuk mengembalikan kepada agama jahiliahnya, tetapi sia-sia saja.
Suatu ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka bertiga yang sedang disiksa, beliau mengagumi ketabahan dan kerelaan mereka menerima penderitaan ini demi untuk mempertahankan keislamannya. Ketika Ammar berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, adzab yang kami derita telah sampai pada puncaknya…"
Nabi SAW bersabda untuk menentramkan jiwanya, "Sabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga…!"
Ketika Abu Jahal ikut melakukan penyiksaan, ia begitu jengkel dan putus asa terhadap Sumayyah. Seorang budak wanita yang hina (dalam pandangan Abu Jahal dan masyarakat Quraisy saat itu) seperti dirinya, berdiri tegar seakan menantang kesombongan tokoh besar Quraisy tersebut. Karena tidak tertahankan lagi kejengkelannya, Abu Jahal mengambil tombak dan menusuk Sumayyah dari selangkangan hingga tembus ke punggungnya, jadilah ia syahid pertama dalam Islam. Tidak berapa lama, ayahnya, Yasir bin Amir juga meninggal dalam penyiksaan orang-orang kafir Quraisy.
Kematian orang tuanya akibat siksaan tersebut tidak menyebabkan ia berubah pikiran, bahkan makin meneguhkan pendiriannya. Siksaan pun  makin ditingkatkan, dibakar dengan besi panas, disalib, ditenggelamkan dalam  air hingga ia sesak nafas, dan lain-lainnya. Suatu ketika Ammar dibakar dengan api yang membara, kebetulan saat itu Nabi SAW  datang mengunjunginya. Beliau memegang kepala Ammar dan berkata, "Hai api, jadilah kamu sejuk dan selamatkanlah Ammar, sebagaimana dulu kamu menjadi sejuk dan menyelamatkan bagi Ibrahim…!!"
Seketika itu Ammar tidak lagi merasakan panasnya api yang menerpa tubuhnya, maka makin kokoh dan tegar saja jiwanya dalam keimanan dan keislaman, walau adzab dan siksaan kaum Quraisy makin ditingkatkan.
Suatu ketika Ammar disiksa sedemikian rupa sehingga hampir tak sadarkan diri, dalam keadaan seperti itu ada yang menuntun ucapannya untuk memuja-muja berhala kaum Quraisy, dan tanpa disadarinya ia mengikuti ucapan-ucapan tersebut. Saat ia menyadari semuanya itu, ia menangis sejadi-jadinya, seolah-olah dunia kiamat baginya, dan siksaan demi siksaan pun tak lagi terasa berat baginya. Jauh lebih berat kedukaan dan ketakutannya karena telah mengucapkan kata-kata yang bisa mencabut imannya, menyengsarakan kehidupannya di akhirat kelak.
Dalam puncak kesedihan yang serasa tidak tertahankan, datanglah Rasulullah SAW. Beliau memang telah mendengar berita tentang apa yang diucapkan oleh Ammar, dan atas peristiwa tersebut, turunlah surah An Nahl ayat 106. Beliau datang sendiri menemui Ammar, dengan penuh santun dan kasih beliau menghibur dan menenangkannya sambil menyampaikan firman Allah SWT tersebut. Beliau berkata kepada Ammar, "Orang-orang kafir menyiksa dan menenggelamkanmu sehingga engkau mengatakan begini dan begini…"
"Benar, ya Rasulullah," Kata Ammar sambil meratap penuh kesedihan.
"Tidak mengapa, jika mereka memaksamu, katakanlah seperti itu… sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan ayat : … kecuali orang-orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan..."
Hati Ammar menjadi tentram dengan penjelasan Nabi SAW tersebut. Pada akhirnya, sebagaimana kebanyakan budak-budak lain yang disiksa tuannya karena pilihannya memeluk Islam, Abu Bakar membeli Ammar dari kabilah Bani Makhzum dan memerdekakannya.
Begitu tegar dan kokohnya Ammar mempertahankan imannya, walau cobaan dan siksaan terus dialaminya, sehingga Nabi SAW sangat sayang kepadanya. Beliau  bersabda tentang dirinya, "Diri Ammar dipenuhi oleh keimanan sampai ke tulang sum-sumnya…"
Pernah terjadi selisih faham antara Ammar dan Khalid bin Walid, pahlawan Islam yang digelari Nabi SAW " Pedang Allah", maka beliau bersabda, "Siapa yang memusuhi Ammar, dia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci Ammar, maka dia akan dibenci Allah…"
Untunglah Khalid bin Walid seorang yang cerdas dan berjiwa besar, mendengar sabda Nabi SAW ini segera ia menemui Ammar dan meminta maaf atas kekhilafannya. Kedudukannya di masa lalu sebagai salah satu pemuka kabilahnya dan Ammar hanya sebagai budak, tidak menghalanginya untuk merendahkan diri dan meminta maaf. Semua itu ringan dilakukannya karena Khalid lebih menghendaki keridhaan Allah SWT, daripada sekedar mempertahankan ‘gengsi’ dan prestisenya di masa lalu. Dan Ammar-pun dengan senang hati memaafkannya.
Pernah juga terjadi salah seorang sahabat menghujat Ammar, karena ia bekerja (atau kerja bakti ketika membangun Masjid Nabi) sambil mendendangkan syair, sehingga terjadi perselisihan. Mendengar berita tersebut, Nabi SAW bersabda, "Apa maksud mereka terhadap Ammar? Diserunya mereka ke dalam surga, sedang mereka mengajaknya ke dalam neraka…Sungguh, Ammar adalah biji mataku sendiri..!!"
Tentulah bukan maksud dan keinginan Ammar untuk memperoleh pujian-pujian tersebut. Bahkan sesungguhnya ia adalah seorang yang pendiam, tidak banyak bicara. Kontras sekali dengan penampilan fisiknya yang tinggi besar, berdada bidang dan bermata biru, ia justru lebih sering menyembunyikan diri dan tidak ingin menonjolkan dirinya sendiri. Ia telah merasakan bagaimana beratnya mempertahankan iman, karena itu ia ingin mengisi waktu-waktunya dengan ibadah demi ibadah. Istilah populernya sekarang ia membenci NATO (No Action Talk Only).
Karena itu pula, Nabi SAW pernah pula bersabda tentang dirinya, "Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti, Abu Bakar dan Umar.., dan ambillah pula hidayah yang dipakai  Ammar untuk jadi bimbingan…"
Ammar tidak pernah absen menerjuni perjuangan dan jihad bersama Rasulullah SAW, begitu juga perjuangan dengan beberapa khalifah sesudah beliau wafat. Dalam perang Yamamah, pertempuran melawan pasukan nabi palsu, Musailamah al Kadzdzab, ketika kaum  muslimin porak-poranda dan ada yang melarikan diri. Ammar berdiri di atas sebuah batu dan berseru keras, "Wahai kaum muslimin, apakah kalian ingin lari dari jannah? Aku adalah Ammar bin Yasir, apakah kalian melarikan diri dari jannah? Marilah bersamaku…"
Saat itu kondisi Ammar sendiri juga terluka, bahkan telinganya hampir putus dan tergantung terkena sabetan pedang musuh. Mendengar seruan Ammar tersebut, mereka berkumpul kembali untuk menyusun kekuatan dan bersama Ammar mereka kembali menahan gempuran pasukan musuh.
Pada masa khalifah Umar, Ammar diangkat sebagai amir (wali negeri) di Kufah dan wazirnya adalah Abdullah bin Mas'ud. Jabatan tersebut tidaklah menambah kecuali zuhud, kesalehan dan juga kerendahan hatinya. Ia tak segan membeli sayur di pasar kemudian memanggulnya sendiri. Dan sebagaimana yang dilakukan Salman al Farisi, setelah menerima gaji (tunjangan)-nya sebagai amir, ia membagi-bagikan semuanya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Untuk menunjang kebutuhan hidupnya, ia menjalin (membuat) bakul dan keranjang dari daun kurma dan  menjualnya ke pasar.
Sepeninggal khalifah Umar bin Khaththab, yang mana Nabi SAW pernah menyebut Umar sebagai "kunci (gembok) Fitnah", mulai terjadi fitnah dan perselisihan di antara umat Islam. Dalam keadaan seperti ini, para sahabat selalu mengamati Ammar bin Yasir. Hal ini berawal dari sebuah peristiwa di masa awal hijrah ke Madinah, ketika sedang membangun Masjid Nabawi. Saat itu, sisi dinding di mana Ammar dan beberapa sahabat lainnya sedang bekerja tiba-tiba runtuh dan menimpa Ammar. Pada saat yang sama, Nabi SAW sedang mengamati Ammar, kemudian beliau bersabda, "Aduhai ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka…"
Para sahabat yang mendengar sabda beliau itu menyangka beliau sedang meratapi kematian Ammar karena tertimbun dinding yang runtuh. Karena itu mereka menjadi ribut dan panik atas musibah yang dialami Ammar. Nabi SAW yang tanggap reaksi para sahabat tersebut, sekali lagi bersabda untuk menenangkan mereka, "Tidak apa-apa, Ammar tidak apa-apa…hanya saja, nantinya ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka!!"
Jelas dan lugas, Nabi SAW tidak menyebut, "Ammar dibunuh kaum kafirin, musyrikin atau musuh Allah." Tetapi beliau menyebutnya, "Kaum/golongan pendurhaka (fi-atul baaghiyah)," masih kaum muslimin, tetapi mereka yang durhaka dan menyalahi ajaran Islam. Seperti halnya anak yang durhaka kepada orangtuanya, ia tidak menjadi kafir, tetapi berdosa besar dan terancam laknat Allah, kecuali jika Allah mengampuninya.
Fitnah makin memuncak ketika khalifah Utsman terbunuh. Para sahabat utama Nabi SAW yang masih hidup dan mayoritas umat Islam lainnya memba'iat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan. Tetapi Muawiyah dan masyarakat Syam pada umumnya menolak untuk memba'iat Ali, bahkan ia yang sebelumnya hanya gubernur yang membawahi wilayah Syam, mengangkat dirinya sendiri sebagai khalifah menggantikan khalifah Utsman, yang memang masih kerabat dekatnya.
Dengan dalih menuntut balas kematian Utsman bin Affan, Muawiyah menggalang dukungan untuk mengukuhkan jabatannya tersebut. Dalam situasi konflik seperti ini, beberapa sahabat sempat mendukung Muawiyah, sebagian besar lainnya mendukung Ali bin Abi Thalib, dan ada juga sekelompok kecil sahabat yang abstain, tidak memihak keduanya, dan tidak ingin terjatuh pada perselisihan tersebut.
Ketika berbagai upaya damai yang dilakukan Ali bin Thalib gagal, tidak terelakkan lagi terjadinya bentrok senjata, yang terkenal dengan nama perang Shiffin. Dan Ammar bin Yasir, dengan segala ijtihad dan pengenalannya akan kebenaran, memilih untuk berdiri di pihak Ali bin Abi Thalib. Dengan pilihannya tersebut, para sahabat yang mendukung Ali bin Abi Thalib merasa tenang tentram, karena mereka meyakini sabda Nabi SAW, bahwa bersama Ammar bin Yasir, mereka berada pada pilihan yang benar. Sementara sahabat yang berdiri di fihak Muawiyah merasa was-was dan penuh keraguan.
Setelah berperang beberapa lama dalam perang Shiffin, ia menemui Ali bin Abi Thalib dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin, pada hari ini, dan itukah?"
Yang dimaksud oleh Ammar adalah tentang sabda Nabi SAW : "Aduhai Ibnu Sumayyah, ia akan dibunuh oleh  golongan pendurhaka".
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ali dengan bijak berkata, "Tinggalkanlah urusan tersebut…"
Tetapi Ammar mengulang pernyataannya, dan Ali memberi jawaban yang sama pula sampai tiga kali. Kemudian Ali memberi minuman susu kepada Ammar, susu kental yang dicampur sedikit air. Setelah minum susu tersebut ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku bahwa seperti inilah minuman terakhir yang aku  minum di dunia."
            Ali jadi terkejut, ia tidak tahu menahu sabda Nabi SAW tentang minuman terakhir Ammar, dan tidak juga menjadi "Rahasia Umum" seperti tentang siapa pembunuh Ammar. Mungkin itu menjadi rahasia pribadi Ammar dan Rasulullah SAW semata. Dan jalannya takdir Allah memang tidak bisa dihalangi lagi jika telah tiba waktunya.
Setelah  itu Ammar terjun kembali dalam pertempuran. Di tengah pertempuran tersebut, Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf sempat mendengar seruan Ammar, "Sesungguhnya aku telah bertemu dengan Al Jabbar (yakni, Allah SWT), dan aku telah dinikahkan dengan bidadari. Pada hari ini aku akan bertemu dengan kekasihku, Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Beliau telah berjanji kepadaku, bahwa akhir bekalku di dunia ini adalah susu kental yang dicampur dengan sedikit air…."
Memang, setelah itu Ammar tidak minum atau makan apapun lagi dan ia terjun ke medan pertempuran. Saat itu Ammar berjuang bersebelahan dengan Hasyim bin Utbah yang membawa bendera, dan akhirnya mereka menemui syahidnya bersama.