Kamis, 07 Juni 2012

Wa'il bin Hajar RA


Suatu ketika Wa'il bin Hajar berkunjung kepada Nabi SAW, saat itu rambutnya dalam keadaan terurai panjang. Setelah beberapa saat duduk bersama Rasulullah RA, ia mendengar beliau berkata, "Dzubab, dzubab !!"
Kata itu adalah ungkapan tentang sesuatu yang buruk atau celaka.
Wa'il berfikir, jangan-jangan itu ditujukan pada keadaan rambutnya. Setelah pulang ke rumahnya, ia memotong dan merapikan rambutnya. Esok harinya ia mengunjungi Nabi SAW lagi. Melihat penampilannya yang berbeda dengan hari sebelumnya, beliau bersabda, "Perkataanku kemarin bukan kutujukan kepadamu, tetapi hal ini lebih baik karena engkau telah memotong rambutmu!"

Urwah bin Zubair RA


Urwah bin Zubair adalah saudara Abdullah bin Zubair, putra dari sahabat Zubair bin Awwam, ibunya adalah Asma binti Abu Bakar. Ia sempat mengikuti beberapa pertempuran bersama Rasulullah SAW walau saat itu ia masih sangat muda, termasuk pada Perang Tabuk.
Suatu ketika di masa tuanya, salah satu kakinya terluka cukup parah, tabib menyarankan Urwah bin Zubair untuk mengamputasi kaki tersebut karena dikhawatirkan akan merusak anggota tubuh lainnya. Karena proses tersebut sangat menyakitkan, sang tabib menawarkan untuk memberinya minuman yang mengandung bius, dan mendatangkan beberapa orang untuk memeganginya agar tidak bergerak. Tetapi dengan jiwa yang dipenuhi keimanan dan kesabaran, Urwah menolak tawaran itu dan berkata, "Cukuplah kalian saja mengerjakan apa yang kalian kerjakan, aku tidak membutuhkan minuman atau orang-orang tersebut."
Begitulah, proses amputasi mulai dikerjakan, tulang mulai terbuka, minyak dididihkan, gergaji mulai digerakkan memotong tulang, dan obat ditaburkan. Proses demi proses berlangsung, tetapi Urwah tidak bergerak dan bergeming sedikitpun, begitu juga tidak terdengar kata keluhan dari mulutnya, kecuali kata ‘hasbi, Hasbi’ (maksudnya, cukuplah bagiku, cukuplah bagiku rahmat Allah).
Ketika seseorang datang memasuki ruangan saat proses pemotongan kakinya tersebut, ia berkata, "Jika engkau menjengukku untuk kakiku ini, ia telah kuserahkan kepada Allah."
Tetapi orang itu berkata, "Aku tidak datang menjengukmu untuk kakimu itu, aku hanya membawakan kabar, bahwa anakmu jatuh dari tunggangannya hingga terinjak-injak, dan akhirnya meninggal."
Mendengar kabar tersebut, tidak ada reaksi kaget sedikitpun, ia hanya berkata lirih, "Ya Allah, jika Engkau menguji, pasti Engkau akan memberi ampunan, namun jika engkau mengambil, pasti Engkau akan mengabadikan."

Minggu, 03 Juni 2012

Wahsyi bin Harb al Habsyi RA


Wahsyi bin Harb al Habsyi adalah sosok yang cukup terkenal pada perang Uhud, tetapi terkenal dalam sisi jeleknya. Ia adalah pembunuh sahabat dan paman Nabi SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang jasadnya kemudian dirusak oleh Hindun binti Utbah, sebagai balas dendam atas kematian bapak, paman, saudara dan putranya yang dibunuh oleh Hamzah dalam perang Badar.
Wahsyi sebenarnya adalah budak milik Jubair bin Muth'am yang pamannya juga tewas di perang Badar dibunuh oleh Hamzah. Ia dijanjikan akan dibebaskan dari perbudakan, jika ia berhasil membalas dendam membunuh Hamzah. Hindun ikut menjanjikan hadiah-hadiah yang berlimpah jika ia berhasil membunuh Hamzah.
Wahsyi memang mempunyai keahlian melempar tombak dengan teknik Habsyi, tempat asalnya Habasyah, Afrika. Ia terus melatih kemampuannya itu. Tibalah saat perang Uhud berlangsung, Wahsyi tidak punya tujuan lain kecuali untuk membunuh Hamzah demi untuk kebebasannya dari perbudakan. Praktis ia tidak melakukan pertempuran dengan orang muslin lainnya kecuali hanya mengendap-endap mendekati Hamzah yang berperang bagai banteng mengamuk  Ia mencari kesempatan yang tepat untuk bisa melemparkan tombaknya.
Ketika kondisi berbalik dari kemenangan kaum muslim menjadi kekalahan, karena sebagian besar pemanah yang ditugaskan Nabi SAW menjaga dari sisi bukit turun untuk mengambil ghanimah, posisi Hamzah jadi terbuka. Seorang kafir Quraisy bernama Siba' bin Abdul Uzza sedang melayani Hamzah bertarung, saat pedang Hamzah mengenai leher Siba', saat itulah Wahsyi melemparkan tombaknya, mengenai pinggangnya hingga tembus ke depan. Hamzah sempat akan berdiri kemudian jatuh lagi dan meninggal. Wahsyi mencabut tombaknya dari tubuh Hamzah dan kembali dan menunggu di kemahnya. Ketika pertempuran usai, ia kembali ke Makkah bersama rombongan kaum kafir Quraisy. Atas keberhasilannya ini, Wahsti memperoleh kebebasannya dari perbudakan.
Saat Fathul Mekkah, seperti kebanyakan orang yang mempunyai kesalahan besar terhadap Islam, Wahsyipun berusaha melarikan diri, ia lari ke Thaif. Ketika utusan dari Thaif akan menghadap Rasullullah SAW untuk menyatakan keislaman, ia berfikir untuk lari ke Syiria, Yaman atau tempat lainnya. Tetapi dalam kebingungannya, seseorang berkata kepadanya, "Hai orang bodoh, Rasulullah tidak akan membunuh seseorang yang memeluk Islam."
Wahsyi datang ke Madinah. Saat terlihat oleh Rasulullah SAW, Wahsyi segera berdiri di depan Beliau dan mengucap syahadat. Nabi Saw mengenali Wahsyi dan memintanya untuk menceritakan proses ia membunuh Hamzah. Usai ia bercerita, Nabi SAW tampak sangat bersedih mengingat apa yang terjadi pada pamannya di Perang Uhud tersebut. Kemudian beliau bersabda,  "Sungguh amat disesalkan!! Engkau telah muslim, tetapi sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku."
Sungguh sangat dimaklumi sikap Nabi SAW ini. Walau sebagai paman, Hamzah  sebaya dengan Nabi SAW, bermain dan tumbuh dewasa bersama sebagai sahabat. Ketika kemudian Hamzah masuk Islam, tak lama disusul oleh Umar bin Khaththab, mereka berdua menjadi pilar yang kokoh dalam meredam perlakuan kejam orang-orang kafir Quraisy, bahkan mereka melakukan perlawanan yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya, termasuk beribadah dengan terang-terangan di dekat Ka'bah.
Terbunuhnya Hamzah di Perang Uhud, apalagi jasadnya dirusak Hindun untuk mengambil hatinya, adalah kehilangan besar bagi diri pribadi Rasullullah SAW ataupun bagi Islam. Saat melihat jasad paman dan sahabat yang dicintainya tersebut, Rasullullah SAW sempat memberikan ancaman atas kebiadaban orang-orang kafir Quraisy dan melakukan pembalasan terhadap 30 orang dengan cara yang sama. Tetapi kemudian Allah menegaskan bahwa Rasullullah SAW adalah rahmatan lil 'alami, sehingga beliau tidak pernah melaksanakan ancamannya tersebut.
Sejak saat itu Wahsyi berusaha untuk tidak bertemu dengan Rasullullah SAW sampai beliau wafat. Mungkin  tidak mengenakkan bagi Wahsyi untuk tidak bisa bergaul rapat dengan sosok mulia seperti Rasullullah SAW, tetapi atas apa yang dilakukannya di masa lalu, ia bisa memahaminya. Cukup bisa melihat Nabi SAW dari kejauhan dan menjadi umatnya adalah suatu karunia besar.
Saat Khalifah Abubakar mengirim pasukan ke Yamamah untuk menumpas nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab, Wahsyi ikut serta dalam pasukan ini dengan membawa tombak yang dahulu ia pergunakan membunuh Hamzah. Tekadnya bulat untuk menebus kesalahannya di masa lalu dalam peperangan ini. Sambil bertempur ia terus bergerak mendekati posisi nabi palsu itu. Pada saat yang tepat, ia melihat Musailamah berdiri dengan pedang terhunus, dilemparkan tombaknya dengan teknik Habsyi yang dikuasainya, tepat mengenai nabi palsu itu hingga tewas. Wahsyi berkata, "Sungguh dengan tombak ini saya telah membunuh sebaik-baiknya manusia, yaitu Hamzah, saya berharap semoga Allah mengampuniku, karena dengan tombak ini pula saya telah membunuh sejahat-jahatnya manusia, yaitu Musailamah…!"

Ummu Umarah RA (Nasibah binti Ka'b)


Ummu Umarah RA, atau nama aslinya Nasibah binti Ka'b, atau riwayat lain menyebutnya Nusaibah binti Ka’b, adalah salah satu dari dua wanita Anshar yang mengikuti Ba'iatul Aqabah kedua, satunya lagi adalah Ummu Mani' atau nama aslinya Asma binti Amr. Dengan demikian ia merupakan orang Anshar yang mula-mula memeluk Islam, yakni ketika Nabi SAW belum hijrah ke Madinah. Walaupun wanita, Ummu Umarah banyak terlibat dalam beberapa pertempuran membela panji-panji Islam, di antaranya perang Uhud, perjanjian Hudaibiyah, perang Khaibar, Umratul Qadha', perang Hunain, dan perang Yamamah.
Pada perang Uhud, ketika itu usianya 43 tahun, ia berjihad bersama suami dan dua anaknya. Ia berdiri tidak jauh dari kedudukan Nabi SAW. Ketika keadaan berbalik dari kemenangan menjadi kekalahan, seorang kafir bernama Ibnu Qami’ah dan beberapa kawannya menyerang dan mendekati posisi Nabi SAW, sambil berteriak, "Dimanakah Muhammad? Dimanakah Muhammad?"
Ummu Umarah berfikir cepat, jika mereka sampai melukai atau membunuh Nabi SAW, maka tidak ada kebaikan bagi dirinya. Bersama Mush'ab bin Umair dan beberapa orang sahabat, ia menghadang serangan orang-orang kafir, secara khusus ia menyerang Ibnu Qami'ah dan melukai bahunya, dan terus menyerangnya tetapi akhirnya ia bisa melepaskan diri dari serangan Ummu Umarah dan lari menyelamatkan diri.
Ia mendapatkan duabelas luka di tubuhnya ketika menjadi pagar betis bersama beberapa sahabat bagi keselamatan Nabi SAW, dan luka terparah pada tangannya, yang terus mengeluarkan darah hingga setahun lebih, sehingga ia tidak bisa ikut perang Hamra'ul Asad.  Sepulang perang Hamra’ul Asad ini, Nabi SAW langsung menanyakan keadaan Ummu Umarah, dan beliau sangat gembira ketika memperoleh kabar bahwa lukanya telah mulai membaik.
Dalam perang Uhud itu juga, Ummu Umarah sempat diserang oleh orang kafir yang berkuda, padahal ini hanya berjalan kaki. Ia bertahan dengan perisainya, sampai akhirnya berhasil merebut pedang orang kafir itu dan menyabet kaki kudanya, hingga ia terjatuh. Nabi SAW melihat keadaan itu, dan berseru kepada anaknya agar membantu Ummu Umarah. Akhirnya ibu dan anak ini membunuh orang kafir tersebut bersama-sama.
Salah satu anaknya, Abdullah bin Zaid terluka pada tangannya dan darah terus mengucur, Nabi SAW menyarankan agar luka tersebut dibalut dengan sorban. Datanglah Ummu Umarah, yang segera membalut luka anaknya tersebut. Setelah luka itu terbalut, ia berkata kepada Abdullah, "Pergi sana, bertempurlah lagi melawan orang-orang kafir itu!!"
Abdullah beranjak menuruti perintah ibunya dan menerjunkan diri dalam pertempuran lagi. Nabi SAW begitu kagum dengan pemandangan ini dan bersabda, "Ummu Umarah, engkau begitu bersemangat, adakah orang lain yang memiliki semangat sepertimu?"
Nabi SAW mendoakan dan memuji keberanian Ummu Umarah dan keluarganya tersebut. Beberapa saat kemudian, ada seorang kafir yang lewat tak jauh dari tempatnya, Nabi SAW berseru, "Hai Ummu Umarah, itulah orang yang melukai anakmu tadi!"
Mendengar seruan ini Ummu Umarah segera melompat menyerang orang kafir tersebut hingga melukai pahanya dan ia terjatuh dari tunggangannya dan lari tunggang langgang. Melihat keadaan ini Nabi SAW berkata, "Luka anakmu sudah terbalas…"
Sekali lagi Nabi SAW memuji dan mendoakannya, dan setelah itu Ummu Umarah berkata, "Ya Rasulullah, berdoalah agar Allah menjadikan saya sahabat engkau di surga..!"
Nabi SAW memenuhi permintaan Ummu Umarah ini, dan ini menjadikannya lega dan tak pernah lagi khawatir dengan kesulitan hidup yang akan menimpanya. Dalam perang Yamamah, perang melawan pemberontakan nabi palsu, Musailamah al Kadzdzab, ia berjuang hebat hingga mendapat sebelas luka di tubuhnya dan salah satu tangannya terpotong. Usianya yang saat itu mencapai 52 tahun ternyata tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjihad di jalan Allah.

Abu Thalhah al Anshari RA


Zaid bin Sahl adalah seorang sahabat Anshar yang mempunyai suara keras menggelegar. Ia lebih dikenal dengan nama kunyahnya Abu Thalhah. Ia telah memeluk Islam sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah. Kisah keislamannya termasuk unik. Ia adalah orang tampan, terpandang dan kaya di Madinah, wanita manapun tidak akan menolak jika diperistrinya. Tetapi pilihannya jatuh pada seorang wanita muslimah bernama Ummu Sulaim, seorang janda yang sudah mempunyai anak, yang sangat teguh keislamannya. Ketika ia mengajukan lamaran kepada Ummu Sulaim, ia mendapat jawaban yang mengejutkan, "Wahai Abu Thalhah, Demi Allah tidak ada wanita yang akan menolak lamaran orang yang sepertimu. Tetapi  aku seorang wanita muslimah dan engkau seorang yang kafir, karenanya aku tidak dibenarkan menikah denganmu. Jika engkau mau, masuklah kamu ke dalam agama Islam, dan itulah mahar yang kuminta, dan aku tidak akan meminta mahar yang lainnya lagi!"
Sebenarnya akan lebih mudah bagi Abu Thalhah jika mahar yang diminta adalah uang, perhiasan, kebun atau harta lainnya, yang umumnya sangat disukai wanita, tetapi ini "keyakinan"nya? Cukup lama ia menimbang-nimbang, tetapi ternyata kehendak Allah menggiringnya untuk memperoleh hidayah lewat jalan pernikahan ini. Ia menyetujui permintaan Ummu Sulaim. Ia menikah dengan mahar keislamannya. Dan ternyata kemudian ia menjadi salah seorang sahabat Anshar yang terpandang, saleh dan dermawan.
Seorang sahabat bernama Tsabit berkata, "Aku tidak pernah mendengar seorang perempuan yang mahar pernikahannya lebih utama daripada mahar Ummu Sulaim ketika dinikahi Abu Thalhah."
Pernah suatu ketika ia sedang mendirikan shalat di kebunnya yang hijau, Tiba-tiba terlihat seekor burung yang tersesat di antara  rimbunan daun-daun, matanya mengikuti gerak-gerik burung tersebut sehingga ia lupa dengan jumlah rakaat shalatnya. Ia sangat menyesal dengan kelalaiannya ini, usai shalat ia menemui Nabi SAW, ia berkata, "Ya Rasulullah, aku telah tertimpa musibah karena kebunku, karena itu kebun itu kuserahkan untuk Allah. Silahkah engkau pergunakan sesuai keinginan engkau."
Abu Thalhah merupakan sahabat Anshar yang memiliki kebun-kebun terbaik dan terbanyak di kota Madinah. Salah satu kebun terbaik dan terindah yang dimilikinya, terletak tidak jauh dari masjid Nabi SAW. Di dalamnya terdapat air telaga  yang sangat menyegarkan. Rasulullah SAW sering mengunjungi kebun tsb. dan meminum air telaganya. Kebun ini dikenal dengan nama 'Birha'. Ketika turun ayat Al Qur'an Surah Ali Imran 92,  "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang  sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai."
Abu Thalhah bergegas menemui Nabi SAW, dan berkata, "Ya Rasulullah, saya sangat mencintai Birha, karena Allah telah memerirntahkan untuk menyedekahkan harta yang paling dicintai, maka saya serahkah Birha ini untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT, sebagaimana yang dikehendaki-Nya."
"Inilah salah satu pemberian yang mulia di sisi Allah," Kata Rasulullah SAW dengan penuh gembira, "Tetapi menurut pendapatku, akan lebih bermanfaat jika engkau membagikan kebun itu kepada kerabatmu sendiri."
Abu Thalhah menerima nasehat Nabi SAW dan membagikan kebun tersebut pada kaum kerabatnya yang tidak mampu dan membutuhkan.
Di masa tuanya pada masa khalifah Utsman bin Affan, ketika ia sedang membaca Surah Taubah, dan sampai pada ayat ke 31, dimana Allah berfirman, "Berangkatlah kamu (untuk berjihad), baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat,"
Tiba-tiba saja ia tersentak kaget dan tampak merenung sejenak, kemudian ia berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, persiapkanlah bekalku, persiapkanlah bekalku!"
Anaknya dan beberapa orang yang hadir mencoba menghalangi maksudnya tersebut, mereka berkata, "Semoga Allah merahmatimu, engkau telah berperang bersama Rasulullah SAW, bersama Abu Bakar dan juga Umar hingga mereka semua wafat, biarkanlah kami saja yang berjuang dan engkau tinggal di sini."
"Tidak," Kata Abu Thalhah dengan tegas, "Persiapkanlah bekalku!"
Keluarga dan para kerabatnya tidak bisa menahannya lagi, mereka mempersiapkan perbekalan. Ia ikut berjuang bersama pasukan yang berperang menyeberangi lautan. Di dalam salah satu pelayarannya, ketika di tengah lautan lepas, Abu Thalhah meninggal. Selama tujuh hari tidak ditemukan pulau untuk memakamkannya, tetapi keadaan jenazahnya tidak berubah sedikitpun.

Abu Dzar al Ghifari RA


Abu Dzar al Ghifari RA, yang nama aslinya Jundub bin Janadah berasal dari Bani Ghifar yang tinggal jauh dari kota Makkah,  tetapi ia merupakan kelompok sahabat yang pertama memeluk Islam (as sabiqunal awwalun). Ia termasuk orang yang menentang pemujaan berhala pada jaman jahiliah, karena itu ia langsung tertarik ketika mendengar kabar tentang seorang nabi yang mencela berhala dan para pemujanya.
Ia merupakan orang dewasa ke lima atau ke enam yang memeluk Islam. Ketika ia menceritakan kepada Nabi SAW bahwa ia berasal dari Ghifar, beliau tersenyum penuh kekaguman. Bani Ghifar terkenal sebagai perampok yang suka mencegat kafilah dagang di belantara padang pasir. Mereka sangat ahli melakukan perjalanan di malam hari, gelap gulita bukan halangan bagi mereka, karena itu kabilah ini sangat ditakuti oleh kafilah dagang. Nabi SAW makin takjub ketika mengetahui bahwa Abu Dzar datang sendirian hanya untuk mendengar dan mengikuti risalah Islam yang beliau bawa, yang sebenarnya baru didakwahkan secara sembunyi-sembunyi. Beliau hanya bisa berkata, "Sungguh Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya…"
Setelah keislamannya, beliau menyarankan agar ia menyembunyikan keimanannya dan kembali kepada kaumnya sampai waktunya Allah memberikan kemenangan. Karena sebagai perantau yang sendirian, akan sangat berbahaya jika diketahui ia telah memeluk agama baru yang menentang penyembahan berhala. Ia bisa memahami saran beliau tersebut, tetapi jiwa seorang Ghifar yang pantang takut dan menyerah seolah memberontak, ia berkata, "Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, aku takkan pulang sebelum meneriakkan keislamanku di Masjid."
Ia berjalan ke Masjidil Haram, dan di sana ia meneriakkan syahadat sekeras-kerasnya. Itulah teriakan dan lantunan keras syahadat yang pertama di masjidil haram, dan mungkin juga yang pertama di bumi ini. Tak ayal lagi orang-orang musyrik merubung dan memukulinya hingga ia jatuh pingsan.
Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW yang mendengar kabar tersebut segera  datang ke masjid, tetapi melihat kondisinya, tidak mudah melepaskan Abu Dzar dari kemarahan massa, karena itu ia berkata diplomatis, "Wahai orang Quraisy, dia adalah orang dari Kabilah Bani Ghifar. Dan kalian semua adalah kaum pedagang yang selalu melewati daerah mereka. Apa jadinya jika mereka tahu kalian telah menyiksa anggota keluarganya??"
Merekapun melepaskannya. Tetapi pada hari berikutnya, ketika Abu Dzar melihat dua wanita mengelilingi berhala Usaf dan Na-ilah sambil bermohon, lagi-lagi jiwa tauhidnya terusik. Ia mencegat dua wanita tersebut dan menghina dua berhala itu sejadi-jadinya, sehingga dua wanita itu menjerit ketakutan. Tak pelak orang-orang musyrik berkumpul dan sekali lagi menghajarnya beramai-ramai hingga pingsan. Melihat kejadian tersebut, sekali lagi Rasulullah SAW memerintahkannya untuk segera pulang ke kabilahnya.
Kembali ke daerahnya, Abu Dzar mendakwahkan risalah Islam kepada kaumnya, sehingga sedikit demi sedikit mereka memeluk Islam. Ia juga mendakwahkan kepada kabilah tetangganya, Bani Aslam, sehingga cahaya hidayah menerangi kabilah ini.  Beberapa tahun kemudian ketika Nabi SAW sudah tinggal di Madinah, serombongan besar manusia datang dengan suara gemuruh, kalau tidaklah gema takbir yang terdengar, pastilah mereka mengira sedang diserang musuh. Ternyata mereka adalah Kabilah Bani Ghifar dan Bani Aslam, dua kabilah yang terkenal jadi momok perampokan kafilah dagang di belantara padang pasir, berkamuflase menjadi raksasa pembela kebenaran dan penebar kebaikan. Dan hidayah Allah  tersebut datang melalui tangan Abu Dzar.
Ketika dua rombongan besar ini menghadap Nabi SAW, beliau berkaca-kaca diliputi keharuan, suka cita dan rasa kasih berlimpah. Beliau bersabda kepada Kabilah Bani Ghifar, "Ghifaarun ghafarallahu laha…." (Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah).
Kemudian beliau berpaling kepada Kabilah Bani Aslam sambil bersabda, "Wa Aslamu Saalamahallahu…." (Suku Aslam telah diterima dengan selamat (damai) oleh Allah).
Pada perang Tabuk yang terkenal dengan nama Jaisyul Usrah (Pasukan di masa sulit), beberapa orang tertinggal dari rombongan besar Rasulullah SAW. Dan ketika ini dilaporkan, beliau bersabda, "Biarkanlah! Andaikan ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah kepada kalian. Dan jika tidak, Allah telah  membebaskan kalian dari dirinya."
Salah seorang yang tertinggal tersebut adalah Abu Dzar. Keledai yang ditungganginya sangat lelah sehingga tidak bisa bergerak lagi. Berbagai cara dicoba Abu Dzar agar keledainya berjalan lagi tetapi tidak berhasil, bahkan akhirnya mati.
Sementara itu rombongan Nabi SAW sedang beristirahat ketika pagi tiba. Seorang sahabat melaporkan ada satu sosok terlihat berjalan sendiri di jauh di ufuk. Nabi SAW bersabda, "Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar…!!"
Setelah dekat dan sampai di hadapan Nabi SAW, ternyata memang Abu Dzar-lah orangnya. Ia memanggul barang dan perbekalan di punggungnya dan meneruskan perjalanan menyusul rombongan Nabi SAW dengan berjalan kaki. Walau jelas terlihat kelelahannya, tetapi wajahnya bersinar gembira bisa bertemu dengan Nabi SAW dan anggota pasukan lainnya. Beliau menatapnya penuh takjub, kemudian dengan senyum yang santun dan penuh kasih, beliau bersabda, "Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Abu Dzar, ia berjalan sendirian, ia meninggal sendirian, dan ia  akan dibangkitkan sendirian…"
Sebuah bentuk pujian, atau sebuah ramalan, atau sebuah bentuk rasa kasihan, atau apapun itu, hanyalah sebuah gambaran tentang apa yang telah dan akan dijalani oleh Abu Dzar, bahkan pada hari kebangkitan nanti.
Dari sejak pertama memeluk Islam, keberaniannya mengeksplorasi keimanannya di saat dan tempat yang bisa membahayakan dirinya, Nabi SAW langsung mengetahui watak dan karakter Abu Dzar, apalagi dengan kondisi lingkungan Bani Ghifar yang mendidiknya. Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepadanya, "Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk keperluan pribadinya."
Dengan tegas Abu Dzar menjawab, "Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku akan luruskan mereka dengan pedangku!"
Beliau tersenyum, kemudian bersabda, "Maukah aku beri jalan yang lebih baik dari itu…"
Abu Dzar mengangguk, Nabi SAW bersabda, "Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!"
Inilah gambaran situasi yang akan dihadapi oleh Abu Dzar sepeninggal Nabi SAW. Tetapi di masa khalifah  Abu Bakar dan Umar, tidak ada sesuatu yang mengusik kehidupan Abu Dzar, situasi tidak jauh berbeda seperti masa hidupnya Nabi SAW.
Setelah wafatnya Umar bin Khaththab, yang memang digelari Nabi SAW dengan istilah "Pintunya Fitnah" atau "Gemboknya Fitnah", sedikit demi sedikit fitnah duniawiah menjalari umat Islam. Apalagi wilayah Islam makin luas dan harta kekayaan melimpah ruah. Gaya hidup Romawi dan Persi sedikit demi sedikit diadopsi oleh para penguasa muslim. Jurang pemisah antara kaum fakir miskin dan penguasa atau hartawan mulai terbentuk. Pada keadaan seperti inilah jiwa Abu Dzar terusik. Abu Dzar menerawang jauh ke belakang, teringat akan waktu bersama Nabi SAW dan apa yang beliau sabdakan tentang dirinya. Beliau sudah mewasiatkan dirinya untuk bersabar dan tidak menggunakan pedangnya. Tetapi jiwa perjuangan untuk menegakkan kebenaran seakan tidak bisa terbendung. "Nabi SAW melarang aku untuk meluruskan mereka dengan pedang, tetapi beliau tidak pernah melarang untuk meluruskan dengan lidah dan nasihat," begitu pikirnya.
Maka dimulailah babak baru perjuangannya. Abu Dzar mendatangi pusat-pusat kekuasaan dan kekayaan, para penguasa dan hartawan, khususnya yang  tidak lagi meneladani Nabi SAW dalam mengemban amanat harta dan jabatan. Dalam menyampaikan kebenaran, lidahnya tak kalah tajamnya dengan pedangnya. Ia mengutip Surah at Taubah ayat 34-35, dan merangkaikannya menjadi syair singkat yang segera saja menjadi simbol perjuangannya, "Berilah kabar gembira para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak, mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat…."
Segera saja Abu Dzar mendapat sambutan hangat di seluruh penjuru negeri yang dikunjunginya. Banyak sekali orang yang bergabung dan berdiri di belakangnya untuk mendukung perjuangannya. Kalau orang Islam biasa yang mengucapkan kalimat tersebut di hadapan penguasa dan para hartawan, tentulah tidak begitu besar pengaruhnya. Tetapi seorang sahabat sekaliber Abu Dzar, yang berdiri kokoh menghadapi penguasa dan hartawan, dengan tegas dan tanpa gentar sedikitpun menasehati mereka, seolah memunculkan kutub baru, kutub kaum tertindas dan teraniaya dalam negeri Islam yang begitu kaya dan melimpah.
Inilah rahasianya, kenapa Nabi SAW dalam menasehatinya langsung pada titik tertinggi, "Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!"
Dan beliau tidak menasehatinya untuk berjuang dengan lisannya. Kutub baru yang terjadi karena perjuangannya bisa menimbulkan fitnah baru yang lebih besar daripada fitnah yang telah ada, yakni perpecahan umat. Dan Abu Dzar menyadari satu hal, tidak semua orang tulus dan murni berjuang untuk menegakkan kalimat dan agama Allah. Ada sebagian orang yang memanfaatkan perjuangannya menegakkan kebenaran, untuk memenuhi ambisi dan keinginan nafsunya. Maka ketika Khalifah Utsman memanggilnya untuk kembali ke Madinah, ia segera memenuhinya.
Tiba di Madinah, Khalifah Utsman memintanya dengan halus untuk tinggal bersamanya, segala kebutuhannya akan dipenuhi. Tentu saja tawaran seperti itu ditolaknya, ia hanya meminta izin untuk mengasingkan diri di pedalaman padang pasir di Rabadzah. Ia ingin melaksanakan wasiat Nabi SAW kepadanya untuk bersabar di tempat terpencil, sehingga tidak terganggu dengan fitnah-fitnah yang mulai menyebar. Khalifah Utsman mengijinkannya.
Sebagian riwayat menyebutkan, Khalifah Utsman-lah yang memberikan pilihan kepadanya, tinggal di Madinah dengan segela kebutuhannya dicukupi, atau ia akan diasingkan ke pedalaman Rabadzah. Tujuan jelas, agar ia tidak lagi berkeliling wilayah Islam mendakwahi para penguasa dan hartawan. Dan Abu Dzar sebagai seorang muslim sejati tetap taat kepada Utsman sebagai Amirul Mukminin, dan mengambil pilihan ke dua.
Abu Dzar tinggal di Rabadzah bersama istri, anak dan pembantunya yang sudah tua, dan beberapa ekor unta sebagai  sumber kehidupannya. Suatu ketika datang seseorang dari Bani Sulaim menemuinya dan berkata "Saya ingin tinggal bersama engkau, agar aku dapat mendalami pengetahuan tentang perintah Allah, dan juga mengenal sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW. Saya bersedia membantu hambamu yang sudah tua itu dalam memelihara onta-ontamu!"
"Aku tidak mau tinggal dengan orang yang tidak menuruti kehendakku," Kata Abu Dzar, "Jika kamu berjanji akan melakukan apa yang suruh, aku akan mengijinkanmu tinggal bersamaku."
"Bagaimana cara menuruti kehendak-kehendakmu?" Tanya orang Bani Sulaim itu.
"Apabila aku menyuruh membelanjakan hartaku, hendaknya engkau membelanjakan yang terbaik dari hartaku itu." Kata Abu Dzar. Orang itu menyetujuinya, dan ia tinggal bersama Abu Dzar sambil menggembalakan unta-untanya.
Suatu ketika ada kabar bahwa ada sekelompok orang-orang miskin yang kehabisan bekal makanan, berkemah di dekat mata air. Abu Dzar memerintahkan pembantunya dari bani Sulaim untuk menyembelih satu ekor unta buat mereka. Ia  memilih yang terbaik dari unta yang dimiliki Abu Dzar, dan ternyata ada dua, salah satunya tampak lebih bagus untuk ditunggangi. Karena dimaksudkan untuk bekal makanan dan akan disembelih, ia memilih unta yang satunya kemudian dibawa menghadap Abu Dzar. Ketika melihat unta tersebut, Abu Dzar berkata, "Engkau mengkhianati janjimu dulu?"
Orang tersebut sadar apa yang dimaksudkan Abu Dzar, ia membawa kembali unta tersebut dan menukarnya dengan unta yang lebih bagus untuk ditunggangi. Abu Dzar menyuruh dua pembantunya menyembelih unta tersebut dan membagikan dagingnya. Untuk keluarganya, sama banyaknya dengan keluarga dalam kelompok orang miskin tersebut.
Saat akhir kehidupannya, ketika Abu Dzar mengalami sakaratul maut, istri yang menungguinya menangis. Ia berkata,  "Apa yang engkau tangisi, padahal maut itu pasti datang??"
"Bukan itu," Kata istrinya, "Engkau meninggal, padahal tidak ada kain untuk mengkafani jenazahmu!!"
Abu Dzar tersenyum sambil matanya menerawang jauh, seolah mengingat sesuatu. Ia berkata, "Aku ingat, junjunganku, Rasulullah SAW berkata pada sekelompok sahabat termasuk aku, 'Ada salah satu dari kalian yang meninggal di padang pasir yang liar dan terpencil, yang akan disaksikan oleh serombongan orang beriman.' Semua sahabat yang hadir di majelis tersebut telah meninggal syahid atau di hadapan kaum muslimin, kecuali aku. Nah, kalau aku telah meninggal, perhatikanlah jalan (riwayat lain, letakkan aku di sisi jalan), agar rombongan orang beriman itu melihatku. Demi Allah aku tidak bohong, dan tidak pula dibohongi (oleh Nabi SAW)…"
Ternyata benar, tidak lama setelah kewafatannya, sebuah kafilah lewat tak jauh dari tempatnya, dan kemudian membelokkan arah menuju sosok mayat yang sedang ditangisi oleh dua orang, istri dan anak Abu Dzar, berada. Sahabat Abdullah bin Mas'ud yang memimpin rombongan tersebut langsung mengenalinya sebagai Abu Dzar. Ia berurai air mata melihat keadaan sahabatnya tersebut, sambil berkata,  "Benarlah Rasulullah SAW, anda berjalan seorang diri, anda meninggal seorang diri, dan anda akan dibangkitkan pula seorang diri…"
Sebagian riwayat menyebutkan, ketika kafilah yang dipimpin Abdullah bin Mas'ud itu sampai di tempatnya, ia masih hidup dalam keadaan sakaratul maut. Ia berkata kepada mereka, "..seandainya aku dan istriku mempunyai kain, tentu aku ingin dikafani dengan kainku atau milik istriku. Tetapi aku minta dengan nama Allah, janganlah seseorang yang pernah menjabat gubernur, walikota, atau penguasa apapun yang mengafani aku!!”
Ternyata hampir semua anggota kafilah tersebut pernah memangku jabatan yang disebutkannya, kecuali satu orang sahabat Anshar. Dia  berkata, "Wahai pamanku, akulah yang tidak pernah menjabat seperti yang engkau sebutkan, aku yang akan mengafani jenazahmu dengan sorbanku dan dua bajuku yang ditenun sendiri oleh ibuku!!”
"Hanya engkau yang boleh mengafani jenazahku," Kata Abu Dzar.
Setelah Abu Dzar wafat, mereka merawat jenazahnya dan sahabat Anshar tadi yang mengafaninya. Setelah  itu mereka pulang ke Madinah dengan gembira, terutama sahabat Anshar tersebut, karena mereka telah masuk dalam bagian dari realisasi sabda Nabi SAW seperti yang disampaikan Abu Dzar. Dan kegembiraan apalagi yang lebih besar, bahwa Nabi SAW menyebut dan menjamin mereka sebagai "rombongan orang beriman."

Wahab bin Qabus RA


Wahab bin Qabus RA telah memeluk Islam pada masa-masa awal ketika di Makkah, tetapi Nabi SAW memerintahkannya untuk kembali ke kaumnya sampai keadaan cukup aman bagi pemeluk Islam. Ia tinggal di perkampungan di tengah padang pasir dan bekerja menggembala kambing. Suatu hari ia memutuskan untuk menemui Nabi SAW di Madinah. Ia berangkat bersama anak saudaranya dan membawa serta sekumpulan kambing peliharaannya.
Tiba di Madinah ia tidak menemukan Nabi SAW, orang-orang memberitahukan kalau beliau dan sahabat-sahabatnya sedang berada di Uhud menghadapi pertempuran melawan orang kafir Quraisy. Mendengar kabar ini, ia meninggalkan kambing-kambingnya di Madinah dan berangkat menuju Uhud dengan persenjataan lengkap. Wahab tiba di medan pertempuran Uhud ketika kaum muslimin dalam keadaan terdesak. Ia melihat Nabi sedang dikepung sekumpulan musuh yang siap menyerang. Ia mendengar beliau berseru, "Sesungguhnya siapa saja yang bisa mencerai-beraikan musuh ini, ia akan menjadi temanku di surga."
Mendengar seruan Nabi SAW itu, Wahab langsung menghambur menerjang musuh tanpa sedikitpun rasa takut. Sekelompok orang kafir yang mencoba menghadangnya dapat dikalahkan. Datang sekelompok yang lain, ia menyerbu tanpa gentar menyabetkan pedangnya sehingga pengepungan terhadap Nabi SAW menjadi longgar. Datang sekelompok lagi menghadang serangannya, dan Wahab tetap melakukan perlawanan dengan sengit. Tetapi keadaan yang tidak berimbang akhirnya membuat patah perlawanannya dan ia gugur karena pukulan dan sabetan pedang yang bertubi-tubi menghantam tubunya.
Usai peperangan, Rasulullah SAW berdiri di dekat jasad Wahab yang penuh luka, sambil bersabda, "Wahai Wahab, sesungguhnya kamu telah menyenangkan hatiku, semoga Allah ridha kepadamu, karena sesungguhnya aku ridha kepadamu."
Nabi SAW memakamkan sendiri jenazah Wahab, walaupun beliau mengalami luka-luka yang cukup parah dalam pertempuran tersebut.